18. NANDO VS CASSIE

1232 Kata
"Yes baby... Ouhh... Ahhh... Teruusss..." racau seorang wanita yang sedang menikmati hantaman milik sang kekasih yang telah terbenam ke dalam miliknya. "Kamu menyukai permainankukan sayang?" desah si lelaki yang terus memompa dengan tempo lebih cepat. Permainan panas itu terus berlanjut di dalam sebuah kamar apartemen mewah di bilangan Jakarta pusat. Brugh!!! Namun sayangnya, belum sempat mereka mencapai k*****s, suara bantingan pintu terdengar dari arah pintu masuk apartemen itu. Sontak ke dua manusia itu terkaget hingga menyudahi permainan mereka. Seorang wanita berparas manis terlihat marah menatap ke arah ranjang tempat tidur di mana dirinya biasa melakukan hal yang sama bersama kekasihnya, Nando. Tapi kali ini, dia justru dikejutkan oleh sebuah pemandangan buruk ketika dia mendapati seorang p*****r yang sama sekali tak dia kenal tengah menggantikan posisinya di sana. "Cas-Cassie? Tumben kamu ke sini pagi-pagi?" ucap Nando dengan suara terbata. Dengan gerakan tergesa dia memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai. "Lo bilang tadi, lo lagi di rumah bokap lokan?" tanya Cassie dengan nada dingin. Kilatan amarah di kedua bola matanya tampak berapi-api. Bahkan panggilan sayang yang biasanya selalu dia sematkan ketika memanggil Nando seketika hilang dalam ingatannya. "Aku bisa jelasin semuanya kok, Beb? Kamu jangan salah paham dulu, oke?" racau Nando ketakutan. Dia mencoba mendekat ke arah Cassie ketika berhasil mengenakan pakaiannya secara utuh. "Udah berapa p*****r yang lo bawa ke apartemen gue? Hah?" bukan hanya dingin, kali ini suara Cassie terdengar begitu mengerikan. Bahkan lirikannya pada sosok perempuan b***l di atas ranjang itu sama seperti tatapan seekor singa yang hendak menerkam mangsanya. Tapi sayangnya, sang p*****r itu seolah tak takut akan kemarahan Cassie. Bahkan dengan senyuman miring, wanita itu justru menyahut. "Sama-sama p*****r, nggak usah saling ngatainlah! Sok suci!" Cassie kembali menggeram. Kedua tangannya sudah terkepal kuat di sisi tubuhnya. "Pergi lo dari sini!" bentak Cassie pada wanita itu. "It's okkay, santai... Gue juga mau pergi kok!" sahut si wanita yang kini mulai berpakaian. Baik Cassie maupun Nando masih saling diam dalam kebungkaman. Menunggu wanita asing itu keluar. "Dadah... Bebeb Nando... Kapan-kapan, kalo mau main jangan di sini deh, kita sewa hotel aja biar nggak ada yang GANGGU!" wanita itu melempar tatapan remeh pada Cassie sebelum dia benar-benar hengkang dari dalam apartemen. Kedua bahu Nando terkulai lesu. Hancur sudah apa yang selama ini coba dia rahasiakan dari Cassie. Sudah Nando pastikan, setelah ini Cassie pasti akan meninggalkannya. "Beb, jangan marah dulu Beb. Aku-aku bener-bener khilaf tadi, aku janji deh, ini yang terakhir, setelah ini, aku bakal serius sama kamu. Seperti rencana kita sebelumnya, kalau kita bakal menikah dalam waktu dekatkan?" racau Nando masih dalam ketakutannya. Nasib hidup keluarganya kali ini ada di tangan Cassie. Begitu pun nasib kehidupannya. Bahkan setelah rumah ke dua orang tuanya disita oleh pihak Bank, sejak saat itu juga Nando tinggal menumpang di sebuah apartemen mewah milik Cassie. Mengingat harga dirinya yang selangit, mana mau Nando tinggal di rumah sempit yang kini disewa oleh kedua orang tuanya. Perusahaan Ayah Nando mengalami kebangkrutan karena kalah tender, alhasil semua aset-aset berharga milik keluarganya ditarik oleh pihak bank. Dan semua hal itu terjadi tepat satu hari setelah dirinya dan keluarganya memutuskan untuk membatalkan pernikahannya dengan Rania. Seolah mendapat karma atas apa yang telah mereka lakukan. Meski hal itu mereka sesali, namun semua tak mampu mengembalikan keadaan seperti semula. Hingga akhirnya, Nando di tengah kebuntuannya, meminta bantuan Cassie yang pada waktu itu masih berstatus sebagai kekasih gelapnya untuk membantu meringankan beban hidup keluarganya, yakni dengan meminta bantuan pihak keluarga Cassie untuk menanam modal kembali di perusahaan Ayah Nando. Padahal, jika dipikir-pikir lagi, kekayaan keluarga Cassie jauh di bawah kekayaan keluarga Dirgantara. Mengingat semua itu, Nando sungguh dilanda frustasi berkepanjangan. Meski kini semua sudah menjadi bubur. Dan bertahan dengan Cassie menjadi satu-satunya pilihan yang tepat bagi Nando. Saat ini. "Apa kata lo? Menikah?" ucap Cassie dengan nada bicara seolah apa yang didengarnya keluar dari mulut Nando hanyalah sebuah lelucon konyol yang tidak masuk akal. "Iya, menikah. Akukan udah janji sama kamu, kalau kamu mau bantu aku dan keluargaku terlepas dari kebangkrutan, aku bakal menikahi kamu, Beb..." jelas Nando dengan suara serak. "Tapi kayaknya, sekarang gue udah berubah pikiran deh, Nan!" beritahu Cassie dengan senyuman miring. Amarah dalam dirinya jelas masih ada. Namun, menghadapi lelaki macam Nando tak perlulah banyak membuang-buang energi dengan meluapkan emosi. Cassie hanya perlu menghubungi sang Papah dan meminta pada sang Papah untuk menarik kembali modal yang telah beliau tanam di perusahaan keluarga Nando. Lalu, semuanya beres. Se-le-sai! "Berubah pikiran gimana maksud kamu?" tanya Nando yang mulai panik. "Kayaknya, nggak mungkin juga gue nikah sama cowok murahan kayak lo! Mungkin dulu iya, lo itu berharga banget buat gue, tapi sekarang... Di mata gue, lo itu nggak ada bedanya sama sampah!" Tangan Nando terkepal di sisi tubuhnya mendengar hinaan yang keluar dari mulut Cassie. Harga dirinya benar-benar sudah di injak-injak. Dan Nando tidak terima. "Jaga omongan lo ya Cas! Inget, kartu mati lo ada di tangan gue! Gue adalah saksi hidup kalau apa yang terjadi menimpa Rania malam itu semua adalah ulah lo!" gertak Nando balik. Tatapannya lurus menatap tajam kedua bola mata Cassie yang kini berwarna biru keunguan. "Lo punya bukti?" tanya Cassie balik. "Gue bakal bongkar kebusukan lo di depan Rania dan keluarganya!" ancam Nando. "Silahkan, gue nggak takut! Lagi pula, kasus itu udah ditutup dan nggak ada satu orang pun yang tahu tentang kendaraan gue di lokasi kejadian. Satu-satunya saksi dalam kejadian itu cuma Pak Ahmad, si pemilik mobil box yang sempet gue serempet, tapi sayangnya, lelaki tua bangka itu udah mati sekarang, so' seandainya pun lo mengungkap hal ini ke permukaan, yang ada keluarga Rania bakal balik mencurigai lo, hahahaa..." Keadaan Nando semakin terpojok. Dia memang tak memiliki bukti apapun mengenai kejadian itu, dan lagi seandainya Nando mengatakan hal itu pada Rania dan keluarganya akankah mereka mempercayainya setelah apa yang telah dia lakukan terhadap Rania? Entahlah, Nando sendiri tidak tahu. "Kenapa diem? Nggak beranikan lo? Udah deh, nggak usah sok ngancem-ngancem gue segala! Urusin aja hidup lo yang berantakan! Baru aja, gue kirim pesan ke Papah supaya membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan keluarga Hendrawan, dan sekarang, gue minta lo benahin semua barang-barang lo dari apartemen gue, karena gue nggak mau liat lo ada di sini lagi! Maaf ya Nando, hubungan kita terpaksa gue akhiri sampai di sini! Dulu itu, awalnya gue emang berpikir kalau lo itu sosok lelaki yang sempurna. Ganteng, macho, keren, tajir, dan cool, tapi semakin ke sini, semua penilaian itu hilang. Yang ada cuma rasa ilfil dan jijik! Dan satu hal lagi yang perlu lo tahu ya, kalo sekarang ini gue udah punya target baru yang gue pikir, dia lebih ganteng dari lo, dan yang pasti dia itu berwibawa. Sosok laki-laki sejati... Jauh kalau dibandingkan sama lo!" Cassie tersenyum miring dengan tatapan remehnya yang terus menatap lurus wajah Nando. "Gue kasih waktu satu jam buat lo beresin semua barang-barang lo! Now..." Cassie pergi setelah mengucapkan kalimat menyakitkan itu. Sementara Nando hanya bisa pasrah menerima apa yang telah menjadi nasibnya. Lagi dan lagi, penyesalannya karena telah menyakiti Rania terasa hingga membuat kepalanya sakit. Apalagi saat dia mengingat bahwa di dalam rahim Rania tengah tertanam benih hasil hubungan cinta mereka. Anak kandungnya. Rania itu gadis baik. Walau tingkah lakunya di luar terkenal kasar dan liar, tapi setiap kali Rania sudah bersamanya, Rania itu sangat manja. Rania bisa berubah menjadi sosok gadis lugu yang sangat manis. Dan mengingat semua kenangan yang telah Nando lewati bersama Rania selama ini, membuat batin Nando kian tersiksa. Jika boleh jujur, dia rindu Rania.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN