"Siapa itu? Tolong, gue mau keluar, biarin gue keluar," ucap Rania yang masih berusaha melangkah maju.
Dan langkahnya jadi terhenti ketika sebuah tangan menggamit lengannya dan menggiringnya keluar dari apartemen Cassie.
Rania berusaha mengimbangi langkah panjang orang yang membawanya saat itu meski dengan susah payah. Sesekali dia berontak dan berusaha untuk melepaskan diri, tapi cengkraman kuat di lengannya membuat Rania tidak bisa berbuat lebih banyak.
"Lepasin gue! Lo siapa? Lo mau bawa gue kemana! Lepasin, toloooonggg..." teriak Rania saat itu.
Hingga akhirnya, mulut Rania dibekap oleh orang tersebut, Rania diajak bersembunyi di balik pintu toilet umum di dalam apartemen saat segerombolan orang datang dari arah lift yang terbuka.
Segerombolan pria berjas hitam yang dikepalai oleh seorang laki-laki berkumis tebal dan berkepala botak.
Mereka berjalan menuju apartemen Cassie.
"Hmmmphh," gumam Rania saat itu. Bekapan di mulutnya sangat kuat. Membuatnya sedikit sesak napas.
"Diem Rania, ini aku Nando!"
Rania tercekat mengetahui hal itu. Perlahan rontaan tubuhnya pun mereda. Meski rasa takutnya belum juga sirna.
"Kamu nggak tahu siapa orang yang bakal jadi tamu Cassie malam ini! Mereka segerombol gembong mafia kelas kakap! Kamu bisa aja mati di tangan mereka!"
Bola mata Rania kembali terbelalak.
"Untung, aku masih punya kunci serep apartemen Cassie, makanya aku bisa buka pintu apartemennya untuk menyelamatkan kamu, karena kalau nggak, aku sendiri nggak tahu hal apa yang bakal terjadi menimpa diri kamu, Rania... Cassie itu udah gila!" bisik Nando lagi. Keintiman antara dirinya dengan Rania saat itu jelas membuat Nando sedikit terhibur. Nando sangat menikmati kedekatannya dengan Rania saat itu.
Saat dirasanya Rania mulai tenang, Nando pun melepas bekapan tangannya di mulut Rania. Meski genggaman tangannya masih cukup kuat mencengkram lengan Rania.
"Kenapa gue harus percaya sama lo?" ucap Rania saat itu.
"Aku nggak minta kamu untuk percaya sama aku, tapi yang jelas, aku nggak mau kamu celaka,"
"Terus, mau sampai kapan kita di sini? Gue mau pulang," Rania mulai terisak.
"Oke, aku anter kamu pulang sekarang, tapi sebelum itu, aku harus memastikan kondisi sudah aman," ucap Nando setelahnya.
Lelaki itu keluar dari toilet, dengan kepala yang celingukan ke kanan dan ke kiri Nando memastikan kalau rombongan manusia itu sudah tidak ada.
Hingga setelahnya dia kembali menggamit lengan Rania keluar dari toilet.
Mereka berjalan dengan langkah tergesa dan sesampainya mereka di parkiran apartemen, Nando pun menginstruksikan Rania untuk segera naik ke atas boncengan motornya.
Saat itu, Rania naik ke atas motor Nando bahkan dengan ke dua tangannya yang melingkar kuat di pinggang Nando.
Masih di tempat yang sama meski dengan jarak yang terbilang cukup jauh, sepasang netra hitam milik seseorang yang baru saja memarkirkan kendaraannya di parkiran apartemen saat itu melihat dengan jelas kepergian Rania dengan Nando.
Bahkan dengan embel-embel kemesraan.
Rakha menelan salivanya yang mendadak pahit.
Hatinya mendadak sakit.
Rasa cemas yang dia rasa kian sirna perlahan. Berganti kecewa yang mendalam.
Rakha kembali menaiki kendaraan roda duanya.
Untuk bergegas pulang.
Dengan pikiran, tak ada lagi yang perlu dia khawatirkan!
*****
"Makasih ya Nan," ucap Rania saat dirinya baru saja turun dari atas boncengan motor Nando.
"Kamu beneran nggak apa-apakan? Bibir kamu berdarah, Rania..." ucap Nando sembari mengusap sudut bibir Rania yang lebam dan berdarah.
Rania menangkap jemari Nando untuk kemudian menjauhkan wajahnya. "Gue nggak apa-apa kok,"
"Ada baiknya setelah ini kamu jauhi Cassie. Jangan berhubungan lagi sama dia dan jangan pernah percaya apapun perkataan dia," jelas Nando dengan rasa cemas yang masih saja menggelayut di benaknya.
"Lo tahu ini semua sejak kapan? Kenapa lo nggak kasih tau gue kalau selama ini Cassie itu jual diri?" cecar Rania masih dalam ketidakpercayaannya atas apa yang telah dilakukan Cassie selama ini. Bahkan Rania sudah menganggap Cassie seperti keluarganya sendiri. "Kenapa Cassie bisa setega itu sama gue? Apa salah gue Nan?" Rania mengusap sudut matanya yang basah.
"Kamu nggak salah Rania, aku yang salah. Aku yang nggak setia. Aku yang b******k. Cassie benci sama kamu itu karena aku. Karena dia cemburu atas hubungan kita. Bahkan dengan bodohnya aku sempat terjebak bujuk rayu Cassie. Aku bener-bener nyesel, Rania... Seandainya aku bisa mengembalikan waktu, aku nggak akan berbuat hal bodoh seperti yang udah aku lakukan sebelumnya. Aku bener-bener menyesal, Rania... Dan mengenai Cassie, aku juga baru tahu kalau dia jual diri akhir-akhir ini, belum lama,"
Rania bisa menangkap sebuah kejujuran dan ketulusan dari setiap kalimat yang terlontar dari mulut Nando saat itu. Hatinya cukup tersentuh. Meski untuk dapat memaafkan, Rania masih belum bisa. Rania sungguh tidak menyangka betapa bodoh dirinya selama ini yang begitu percaya akan kebaikan Cassie. Terlebih dengan kesetiaan Nando. Cih... Mereka benar-benar pengkhianat sejati!
"Seandainya aja kamu belum menikah sekarang..." Nando menangkap jari-jemari Rania dan menggenggamnya erat.
"Semuanya udah terjadi, Nan. Gue bukan lagi Rania yang dulu," ucap Rania dengan nada tegas.
"Ya, aku ngerti. Sekali lagi aku mau minta maaf sama kamu... Besok, aku berangkat ke Sumatra. Pulang ke kampung halaman ke dua orang tuaku dan berencana akan menetap di sana. Salam buat suami kamu. Sampaikan juga ucapan maaf aku sama dia. Waktu itu, aku sempet terlibat cekcok mulut sama Rakha, aku kehilangan kendali dan nonjok dia. Pasti kamu tahu itukan? Rakha udah ceritakan sama kamu?"
Rania hanya diam. Sebab, memang dia tidak tahu menahu tentang masalah itu. Rakha sama sekali tak pernah bercerita apapun padanya jika lelaki itu pernah terlibat baku hantam dengan Nando.
"Jujur, aku bener-bener nggak bisa nahan emosi dan rasa cemburu aku sama Rakha. Dia lelaki yang beruntung... Bisa memiliki kamu, Rania... Dan yang pasti, dia laki-laki yang baik... Nggak seperti aku..."
Rania masih terus diam. Masih dengan sebelah tangannya yang digenggam oleh Nando. Hadir sebersit rasa kasihan dalam hatinya. Apa mungkin Nando memang benar-benar menyesal? Entahlah...
"Udah malem, kamu masuk gih. Nanti Rakha cariin kamu," perintah Nando kemudian. Dia melepas genggaman tangannya dari jemari Rania. "Aku pulang ya?"
Rania hanya mengangguk.
Dia hendak berbalik, namun tarikan sebuah tangan membuat niatnya terhenti seketika hingga tubuh Rania kembali berbalik ke arah Nando.
Nando menangkap tubuh Rania lalu memeluknya dengan dekapan yang cukup erat. "Aku sayang kamu, Rania..." gumamnya lirih saat itu. Dia menangis.
Rania pun tertegun.
Dia ingin berontak. Tapi entah kenapa, dia merasa sekujur tubuhnya tiba-tiba saja kaku.
Dan deru mesin motor lain yang tiba-tiba saja tertangkap oleh indra pendengaran Rania jelas membuat gadis itu tersentak luar biasa.
Dengan gerakan super cepat, Rania mendorong tubuh Nando yang masih memeluknya.
Bahkan hanya dengan mendengar suara mesin motornya saja, Rania sudah tahu betul siapa si pemilik motor yang baru saja tiba itu.
Dia Rakha.
Suaminya.
*****
Buat para readers yg sudah mampir aku ucapin terima kasih banyak karena sudah berkenan membaca ceritaku yg nggak seberapa ini...
aku berharap cerita ini bisa menghibur kalian dan jangan lupa untuk memberi vote dan komentar kalian sebagai wujud apresiasi kalian terhadap karyaku ini...
salam sayang, RaRa (Rakha dan Rania) :)