26. TERJEBAK

1821 Kata
Setelah mendengar penjelasan panjang Devano mengenai 'Seks' Rakha akhirnya bisa terbebas saat tiba-tiba ponsel Devano berbunyi. Nama sang istri yang bernama Zia nampak di layar ponsel sang Kakak ipar, hingga akhirnya Devano pun berucap selamat tinggal. "Alarm kebakaran udah bunyi! Daripada gue kena semprot gara-gara pulang kemaleman, tar lagi ya bimbelnya, gue balik dulu," Itulah kalimat terakhir yang Devano ucapkan pada Rakha sebelum kendaraan sang Kakak Ipar beranjak menjauh dari kediaman orang tuanya. Rakha hanya bisa mengurut d**a saat harus mendengarkan betapa antusiasnya Devano menjelaskan tentang pengetahuan lelaki itu akan hal-hal yang berbau seks dan p********i pada Rakha. Tentang betapa pentingnya peran sebuah film p***o dalam membangkitkan hasrat seseorang. Ingin rasanya Rakha menengahi pembicaraan itu dengan memberikan sedikit pengetahuan lain tentang seks dalam agama islam, pun mengenai hukum yang membahas tentang larangan menonton film p***o dalam islam, tapi sayangnya, mulut Devano tidak juga memberi Rakha kesempatan untuk bicara. Mulut lelaki itu bahkan bisa melebihi wanita-wanita penggosip saat membahas hal-hal v****r semacam itu. Lagi dan lagi, Rakha hanya bisa bergeleng-geleng kepala melihat tingkah Devano malam ini. Rakha beranjak ke dalam rumah dan berjalan menuju kamarnya. Saat itu, waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Dan itu artinya, Rakha sudah benar-benar pulang terlambat. Apa kabar dengan janjinya pada Rania? Jangan-jangan Rania sudah tertidur lebih dulu karena lelah menunggunya? Atau mungkin bisa saja kini Rania sedang mencak-mencak sendiri di dalam kamar. Rakha menarik napas panjang sebelum dia memutar kenop pintu kamarnya, takut-takut apa yang dia duga-duga benar terjadi. Saat itu, ketika tubuh Rakha sudah masuk ke dalam kamar sepenuhnya, Rakha tak menemukan keberadaan Rania di dalam kamar itu. Suasana terlihat hening dan sunyi. Bahkan saat Rakha memanggil Rania beberapa kali sambil mengetuk pintu kamar mandi, tak didapatinya juga tanda-tanda keberadaan Rania di dalam kamar mandi. Rakha melempar asal jas hitam dan tas kantornya ke atas ranjang. Mendadak perasaannya cemas luar biasa. Setengah berlari, Rakha kembali menuruni tangga menuju ke arah dapur. Di longgarkannya dasi yang terasa mencekik lehernya saat itu. "Mbok, lihat Rania nggak? Soalnya dia nggak ada di kamar," tanya Rakha pada Mbok Surti tanpa basa-basi. "Eh, Mas Rakha sudah pulang?" sambut Mbok Surti dengan senyumnya yang merekah. "Memangnya Non Rania belum izin sama Mas Rakha?" tanya Mbok Surti balik. Ke dua alis Rakha sontak menyatu. "Izin? Izin kemana?" "Tadi, Non Rania pergi di jemput sama teman lelakinya pakai mobil, katanya mau ke acara ulang tahun Non Cassie, Mas, itu aja sih yang saya tahu dari Bu Raline," jawab Mbok Surti apa adanya. Ke dua tangan Rakha langsung terkepal di sisi tubuhnya. Dia langsung berbalik menuju kamar, mengambil kunci motor dan pergi. Rakha benar-benar tidak habis pikir dengan Rania, sudah jelas-jelas dia melarang, tapi kenapa Rania tetap pergi juga! Lindungi istri hamba dari segala pengaruh jahat orang-orang di sekitarnya Ya Allah... Doa Rakha dalam hati. Dia benar-benar cemas. Hingga terus melajukan motor sportnya dengan kecepatan tinggi. Membelah kerumunan kendaraan di jalanan Ibu kota yang tumpah ruah dari segala penjuru. ***** Sebuah kendaraan mewah baru saja terparkir di pelataran parkir sebuah apartemen elit di Jakarta. Dua orang lelaki keluar dari dalam mobil itu dan membawa serta seorang lain yang merupakan kawan satu kampus mereka yang bernama Rania. "Udah sampe ya?" tanya Rania pada Alvin dan Samuel. "Yoi, kita udah sampe di apartemennya Cassie nih," jawab Alvin sembari menggandeng lengan Rania dan membimbing gadis buta itu menuju pintu masuk loby apartemen. "Gue pikir, Cassie bakal ngerayain ulang tahunnya di rumah ortu dia," ujar Rania dengan wajah polosnya. Alvin dan Samuel adalah salah satu kawan dekat Cassie yang akhirnya akrab dengan Rania saat Cassie yang lebih dulu memperkenalkan dua lelaki bertubuh jangkung itu pada Rania. Samuel bahkan sempat menaruh hati pada Rania meski hal itu tidak bersambut. "Yang pasti, ulang tahun Cassie malam ini bakal meriah banget, Ran," jawab Samuel di sertai senyuman miring. Dia melirik sekilas ke arah rekannya Alvin yang juga melempar senyum penuh arti. Saat itu mereka sudah berada di dalam lift. "Semenjak menikah lo banyak berubah ya Ran? Jadi lebih religius," ucap Alvin memecah keheningan di dalam lift itu. Alvin dan Samuel yang sempat tak menyangka ketika melihat penampilan Rania saat mereka datang untuk menjemput Rania ke kediaman Dirgantara tadi. Rania yang keluar menggunakan pakaian Syar'i, bahkan dengan hijab panjang yang menutupi kepalanya. Rania benar-benar terlihat berbeda. "Tapi yang pasti Vin, Rania masih tetap cantik kok di mata gue," balas Samuel dengan kerlingan nakal. Rania hanya terdiam. Entah kenapa perasaannya mendadak aneh. Apa mungkin keputusannya untuk tetap mendatangi acara ulang tahun sang sahabat malam ini adalah keputusan yang benar? Rania hanya marah pada Rakha yang tak menepati janji, makanya dia nekad menghubungi Alvin dan Samuel lalu meminta ke dua lelaki itu menjemputnya. Meski, setelah itu Rania tetap tak bisa menggunakan pakaian yang sebelumnya sudah dia kenakan, yaitu celana jeans hitam dan kaos berwarna senada tanpa hijab. Rambutnya dia biarkan tergerai seperti biasa. Satu langkah Rania keluar dari kamarnya, dia merasa begitu aneh dengan penampilannya. Dia teringat akan ceramah Rakha tentang betapa pentingnya menutup aurat bagi seorang wanita. Walau saat itu dia sedang marah pada Rakha, lantas bukan berarti dia ikutan melanggar norma-norma agamanya sendirikan? Jadilah Rania berubah pikiran dan langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian Syar'i pemberian Rakha. Walau sedikit canggung dan kaku, Rania berusaha untuk terbiasa. Setidaknya kawan-kawannya perlu tahu bahwa dirinya kini sudah berubah. Dirinya bukan lagi Rania yang dulu. Sebab kini dia sudah menjadi seorang istri. Dan sudah sewajibnya dia mematuhi apa yang diperintahkan suaminya, Rakha. Selang dua menit mereka berjalan keluar dari lift, Rania mendengar sebuah suara pintu apartemen yang dibuka. Alvin mempersilahkannya masuk. Bebauan alkohol seketika menyengat indra penciuman Rania saat dirinya mulai melangkah memasuki ruangan apartemen itu. Tak ada bunyi-bunyian yang berarti, hanya senyap dan hening yang meraja. Dan sebuah rintihan tertahan yang tertangkap olehnya dari arah sudut kamar ruangan. Entah suara apa, Rania sendiri tidak tahu. "Sepi banget? Nggak ada musiknya? Cas-Cassie... Lo dimana?" ucap Rania sambil meraba-raba dinding dengan tongkat di tangan kirinya. Saat itu, Rania tak merasakan lagi tangan Alvin yang membimbingnya berjalan. Entah kemana perginya laki-laki itu, Rania sendiri tidak tahu. "Cassie, lo dimana?" teriak Rania lagi. Lambat laun seiring langkahnya yang terus menuju ke arah pojok ruangan, Rintihan itu terdengar semakin jelas. Ke dua alis di kening Rania menyatu, dia terus menerka-nerka suara apa itu. Sampai akhirnya, tubuhnya ditarik oleh seseorang dari arah belakang. Hijab yang dia kenakan dilepas dalam satu tarikan kasar. Tubuh Rania terjatuh di lantai dengan satu luka memar di keningnya akibat terbentur pinggiran meja kaca. Rania melenguh kesakitan. Dia mulai ketakutan. "Alvin? Samuel? Cassie? Lo di mana?" teriak Rania frustasi. Seorang wanita menyeringai dihadapan Rania. Tubuhnya yang hanya berbalut handuk berjalan mendekat ke arah Rania, setengah membungkuk dia mencengkram ke dua rahang Rania dengan cukup keras. "Gue di sini, cewek b**o!" ucapnya dengan mulut yang mengeluarkan aroma alkohol. "Cas-sie?" ucap Rania terbata. Susah payah dia bicara karena ke dua pipinya masih ditekan kuat oleh Cassie. Bola mata Rania terus bergerak ke sana kemari seolah memberi isyarat agar Cassie tidak terus menyiksanya. "Lo-lo ke-kena-pa, Cas?" Terdengar tawa Cassie pecah dalam seketika. "Gue? Gue kenapa? Lo tanya gue kenapa? Lo beneran mau tau gue kenapa? Hah?" tanya Cassie lagi. Suaranya terdengar nyaring. Rania menggelengkan kepala, tanda dia tidak mengerti. Matanya mulai mengalirkan buliran bening. Dan hal itu semakin membuat Cassie tertawa senang. "Kenapa nangis? Hah? Biasanya juga lo selalu sok jagoan di kampus? Ayo dong, tunjukin jurus karate lo yang selalu lo bangga-banggain itu, gue mau liat, seberapa kuatnya Rania yang sekarang? AYO!" PLAK! Satu tamparan keras mendarat di pipi Rania hingga sudut bibirnya berdarah. "Lo kenapa Cas? Kenapa tiba-tiba lo jadi kayak gini?" tanya Rania lagi. Cassie sudah melepas cengkraman tangannya di ke dua rahang Rania. Wanita itu menatap ke arah lelaki tua bangka yang baru saja selesai berpakaian di ujung ruangan. Segepok uang diterimanya dari si lelaki itu. "Kamu boleh juga, lain kali saya bisakan booking kamu lagi?" suara si lelaki terdengar berat. "Si-siapa itu Cas?" tanya Rania setengah kaget mendengar suara asing ada di dalam kamar itu. Seperti sebuah suara lelaki yang sudah berumur. "Oke Om, kapan pun Om mau, Cassie siap melayani," ucap Cassie dengan senyuman nakal. Lelaki tua itu pergi dengan langkah puas setelah dia berhasil menyalurkan hasratnya pada seorang p*****r sekelas Cassie. "Lo-lo jual diri Cas?" tanya Rania lagi. Tubuhnya saat itu masih terduduk di lantai. "Kalo iya kenapa? Ada yang salah?" "Ya jelas salah, sejak kapan lo jadi kayak gini?" Rania benar-benar tidak percaya dengan apa yang harus dia ketahui malam ini tentang Cassie. "Udah sejak dua tahun yang lalu, Ran! Sejak perusahaan bokap gue bangkrut! Dan semua harta gue ludes disita sama pihak bank!" jawab Cassie, ada kepedihan dalam ceritanya saat itu. "Tapikan Bokap gue udah bantuin perusahaan bokap lo waktu itu, harusnya sekarang hidup kalian sudah normal lagi seperti dulukan?" "Harusnya sih begitu!" Cassie tertawa hambar. "Tapi sayangnya, bantuan yang bokap lo kasih ke Papah gue itu nggak cukup untuk membuat hidup keluarga gue kembali seperti semula! Hidup gue nggak bisa seperti dulu lagi. Makanya gue mencari jalan pintas untuk menutupi rasa malu gue dari kalian, temen-temen kita di kampus, termasuk lo! Gue terpaksa jual diri dan meyakinkan kalian kalau hidup gue selama ini baik-baik aja, tapi nggak tau kenapa, sejak itu pula, gue ngerasa hidup itu nggak adil. Hidup lo sempurna Ran, lo punya Nando yang sayang sama lo waktu itu, keluarga yang kaya raya, tapi gue? Gue nggak seberuntung lo! Gue benci tiap kali liat lo tertawa Ran! Gue benci tiap kali liat lo mesra-mesraan sama Nando di depan gue! Gue benci semua yang ada di diri lo, RANIA!" Rania tersentak mendengar teriakan Cassie. "Cas.." gumamnya pelan. Rania tahu Cassie sepertinya sedang berada di ambang batas keputusasaannya saat ini. Makanya dia berbuat hal seperti ini terhadap Rania. Rania memang marah, tapi dari sisi kemanusiaannya dia tetap merasa kasihan pada Cassie. "Gue bisa bantu lo kalau lo mau, Cas? Tapi tolong, lo jangan kayak gini, jangan jual diri lagi," Cassie menyeringai jahat. "Lo yakin sama omongan lo untuk menolong gue?" tanya Cassie dengan suara super lembut. Rania mengangguk beberapa kali. "Iya, gue pasti bantu lo," "Oke! Kalo gitu sekarang juga lo buka semua baju lo, karena sebentar lagi pelanggan gue yang ke empat bakal dateng malam ini! Dan lo harus gantiin gue ngelayanin dia, buktiin omongan lo!" Ke dua bola mata Rania terbelalak. Dia terus berteriak dan berusaha memanggil Cassie. Dia mencari tongkatnya tapi tidak juga dia temukan. Rania berjalan asal ke segala arah, menabrak apa saja yang ada di depannya. Sampai suara Cassie kembali terdengar. "Gue pergi dulu, selamat bersenang-senang Rania... Bye!" Brugh! Rania mendengar suara pintu dibanting cukup kencang. Mungkin itu pintu keluar. Rania kembali berjalan cepat sambil terus meraba-raba ke arah dimana dia terakhir kali mendengar suara Cassie bicara. Ketakutannya semakin menjadi. Tiga langkah lagi Rania sampai di pintu apartemen, pintu itu sudah lebih dulu di buka oleh seseorang dari luar. Jantung Rania seolah mau copot. Seumur hidup, belum pernah Rania merasa takut seperti ketakutan yang dia rasakan saat ini. "Siapa itu?" tanya Rania dengan bibir gemetar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN