"Selamat siang tuan putri". Sapa seorang laki-laki dari arah belakangku
Tersontak aku terkejut, siapa yang memanggil aku dengan sebutan yang menggelikan itu selain pegawai yang bekerja di rumah ini. Aku menoleh ke belakang dengan cepat, "Ohh.. Ternyata dia". Batin aku dalam hati.
Pagi ini aku sengaja menghabiskan waktu di halaman belakang, duduk bersila di atas matras yang biasa aku gunakan untuk olahraga ringan. Hitung-hitung untuk menenangkan pikiranku yang tak karuan ini. Entah sejak kapan Ahzar mengamati aku dari tempat ia berdiri saat ini, aku tak menyadari itu. Aku sama sekali tidak tertarik untuk menyahut sapaan yang di lontarkan Ahzar barusan.
"Hallo nona! Selamat siang". Sapanya lagi.
Sekarang ia mengubah sapaannya dengan sebutan Nona, Entah apa maunya sekretaris kesayangan ayah ini, oh aku hampir lupa dia bukan hanya sekretaris biasa, dia ini sekretaris luar biasa, bahkan sangat luar biasa.
"Kamu disini?". Sahutku sekenanya.
"Jadi ini yang dilakukan tuan putri kesayangan Mr. Je ini? Apa tidak ada hal yang lebih menarik dari pada ini?". Ucap Ahzar menyindir Nadine
"Lebih menarik? Emang apa yang harus aku lakukan?". Gumamku tetapi sepertinya laki-laki ini pendengarannya masih bisa berfungsi dengan baik untuk menangkap gumamanku barusan.
Ahzar Hanya tersenyum sinis.
Aku memilih untuk menyibukan diri di atas matras yogaku dengan berbagai gerakan tanpa menghiraukan Ahzar, aku menutup mataku untuk menghidari mataku dari pemandangan yang tidak enak di seberang sana. Aku yakin Ahzar masih memperhatikan ku dari jauh.
Aku ambil nafas kasar, kemudian aku membuangnya pelan, dengan demikian gestur tubuhku naik turun seiring dengan irama tarikan nafas ini, aku ulangi sampai berkali-kali untuk menenangkan pikiranku ini, sambil memejamkan mata.
Tiba-tiba udara yang aku hirup saat ini terasa sedikit panas, tidak seperti biasanya, tersontak aku kaget dan spontan membuka mata, "Degg!! Apa-apaan ini?".
Wajah Ahzar persis berada di depan wajahku, mata kami bertatapan hanya tertaut 2 senti meter, bahkan hidung kami hampir saja beradu. "Auuu!" Aku mendorong Ahzar kuat, hingga ia terjatuh ke belakang.
"Sepertinya aku perhatikan dari tadi, kamu kekurangan oksigen, aku hanya ingin membantumu". Ujar Ahzar santai
"Sangat menjijikkan!". Suaraku menggelegar hingga 8 oktaf
Nafasku terasa terhenti sejenak saat membayangkan apa yang terjadi barusan.
"Kenapa? Apa kau masih kesulitan untuk bernafas?". Tanya manusia gila itu
"Tidak! Tidak, Aku sudah selesai latihan hari ini, benar-benar sudah selesai". Aku bergegas membereskan peralatan yoga ku itu dengan maksud untuk menghilang secepatnya dari hadapan laki-laki gila ini.
"Eiitttsss! Tunggu dulu". Suara nyaring Ahzar menghentikan langkah ku.
"Ada apa?"
"Aku diperintah oleh Mr. Je untuk menjemputmu, kita akan pergi untuk mempersiapkan pesta pernikahan kita besok lusa"
"Ahh! Menyebalkan! Aku tidak akan pergi kemana pun"
"Aku hanya menjalankan perintah Mr. Je, jika kamu tidak mau, aku akan". Kalimat Ahzar terpotong
"Oke baiklah, Aku mengerti, kamu tidak perlu menyelesaikan kalimat ancamanmu itu, aku akan bersiap-siap terlebih dahulu, beri aku waktu"
"15 menit, Hanya 15 menit"
"Menyebalkan sekali!"
***
Suasana di dalam mobil saat ini hening sesaat, tidak ada yang ingin memulai pembicaraan, aku juga tidak berniat untuk mengajak laki-laki gila ini untuk memulai bicara. Ia sedang sibuk memainkan stir mobilnya dan ia terlalu fokus meneliti jalanan. Sepertinya ia menyadari gerak-gerik ku yang mengintipnya dari ekor mataku.
"Kenapa?". Sapanya sekenanya
"Tidak apa-apa". Jawabku irit
"Besok lusa pesta itu akan dilaksanakan, Kamu sudah siapkan?".
Pertanyaan semacam apa ini? Aku rasa ia sudah paham bagaimana kondisi ku saat ini, apa ia sedang berpura-pura menjadi orang bodoh? Aku bahkan kehilangan akal sehatku saat memikirkan ini semua.
"Nahh.. Justru ini lah yang akan aku tanyakan kepadamu, kenapa kamu menyetujui rencana konyol yang dipersiapkan oleh Mr. Je ini?"
"Aku hanya tidak mau berdebat"
"Apa? Sesimple itu?"
"Iya". Dia mengangguk
"Ya ampun, dengan makhluk apa yang aku hadapi saat ini?". Aku meratap pasrah.
Dia dengan mudah menyetujui sesuatu, bahkan sesuatu yang risikonya sangat besar untuk ke depannya.
Kegiatan hari ini selesai. Kegiatan yang membuang waktu dan tenagaku sia-sia saja, padahal dia bisa mengurus semua ini tanpa aku, tanpa aku ikutpun aku yakin ini semua akan terorganizir dengan baik, tapi ya sudahlah, saat ini kami juga sudah berada di jalan pulang.
Sebenarnya ada yang inginku sampaikan Kepada Ahzar, tapi aku tidak memiliki keberanian untuk memulai pembicaraannya dari mana.
Setelah berkali-kali berseteru dengan batinku sendiri, akhirnya aku memilih untuk memberanikan diri untuk menghadapi laki-laki Gila ini.
"Aku mau bicara". Ujarku memulai pembicaraan.
"Iya, bicara saja"
"Aku sebenarnya mempunyai pacar"
"Iya, lalu?"
"Kami sudah menjalin hubungan cukup lama dan kami mengimpikan banyak hal bersama-sama untuk kedepannya".
"Iya". Jawab Ahzar super irit
"Aku rasa ini bisa menjadi bahan pertimbanganmu, kau bisa mengatakan ini semua pada ayah. Ini bisa menjadi salah satu strategi kita untuk membatalkan semua ini". Aku berusaha membujuk Ahzar
Sttttttt...!
Terdengar suara gesekan hebat dari ban mobil bagian belakang. Ahzar memencet pedal rem secara mendadak saat mobil sedang melaju cukup kencang.
"Auuu!". Erangku kaget, "Kau hampir saja mematahkan hidungku, Jika kau tidak bisa menyetir dengan baik, sini biar aku saja".
Ahzar masih memasang ekspresi datar yang susah ditebak.
"Kau ini sungguh aneh, tiba-tiba kau ingin menikahiku, tiba-tiba lagi kau ingin mematahkan hidungku, apa kau masih waras?"
"Hanya pacar kan? Bukan suami?". Ia melontarkan pertanyaan yang mematikan secara tiba-tiba.
Nyali aku yang tadi berkobar-kobar tiba-tiba ciut seketika mendengar pertanyaan yang menampar ku barusan.
"Aku tidak akan mengecewakan orang yang telah memberi kepercayaan sepenuhnya padaku, aku bukan tipe orang yang ingkar, sampai di sini paham?" Ujar Ahzar masih dengan ekspresi datar
"Ohh... Ya ampun". Aku mendengus pasrah, kemudian membanting tubuhku ke kursi mobil.
"Jika itu strategimu kenapa bukan kau saja yang melakukan itu?". Tutup Ahzar tersenyum sinis
Sudahlah, nasibku berada diujung takdir, aku harus menyerah dengan kenyataan.
-Pasrah-