Akad dan pesta telah selesai digelar, dengan kata lain Ahzar sudah resmi menjadi suamiku. Menggelikan memang, jika dibayangkan apa yang akan terjadi kedepannya, tapi ya sudahlah, berkali-kali aku menguatkan hati dengan mengatakan ini lah takdir.
Ahzar menggandeng ku hingga ke kamar, aura bahagia terpancar di wajah Ahzar, sebenarnya laki-laki di samping ku saat ini cukup tampan, dengan kulit bersih, alis tebal, hidung mancung dan bola mata coklat pekat. Jika diperhatikan tidak ada hal yang memalukan dari Ahzar, walau latar belakangnya hanya seorang sekretaris, aku tidak pernah memperdulikan itu. Tapi hanya saja aku tidak bisa terima dengan keadaan bahwa aku harus menikah dengannya, terlebih lagi ada satu hal penting yang terkait dengan kekurangan ku belum sempat aku jelaskan padanya.
"Puaskan? Apa kau masih belum puas?". Cetusku geram dengan ekspresi bahagia Ahzar setelah pesta itu.
"Tentu saja".
"Ciiihh! Aku mulai curiga dengan sikapmu ini. Jangan-jangan ini adalah strategi mu untuk mendapatkan perusahaan ayah". Ujarku lantang
"Tidak!"
"Lihat saja, kau begitu bahagia sekarang, pasti di otakmu sekarang penuh dengan Harta.. Harta.. dan juga tahta kan? Sekarang kau bisa memiliki semuanya, apa belum puas? ".
Ekspresi wajah Ahzar berubah drastis, wajahnya memerah persis seperti udang yang direbus di dalam microwave, Hahaha menggelikan sekali.
"Kau harus tahu, aku tidak pernah mengidamkan harta, aku hanya sebatang kara, gaji ku selama ini lebih dari cukup untuk menghidupkan diriku sehari-hari". Jelas Ahzar lirih
Terlihat ada kerapuhan di mata Ahzar, baru kali ini aku memandang Ahzar dengan iba. Aku merasa bersalah telah memvonis Ahzar seperti itu.
"Jika kau menganggap aku menginginkan kekuasaan, Aku tidak perlu itu, aku dihargai di keluarga ini saja itu sudah lebih dari cukup untuk ku. Hanya Mr. Je yang menganggapku ada selama ini, itu sebabnya aku tidak akan mengecewakan Mr. Je". Ungkapnya gemetar seperti sedang menahan tangisnya.
Ahzar sudah dianggap anak sendiri oleh ayah, ayah mengadopsinya sejak ia berumur 9 tahun, almarhum ayahnya Ahzar merupakan sekretaris ayah saat merintis perusahaan dari nol. Sehingga jiwa kedisiplinan Ahzar sudah terlatih semenjak dini.
"Jika kau menganggap aku serendah itu, silakan saja. Yang terpenting niatku bukan seperti itu". Jelas Ahzar lagi
Beginilah sikap Ahzar yang harus dikagumi, bersikap dewasa dan tenang menghadapi sesuatu. Aku merasa sangat bersalah padanya, tetapi dalam hati kecilku masih ada amarah yang belum terlampiaskan.
"Maaf!". Ucapku gugup.
***
Seperti pasangan muda biasanya, tradisi malam pertama merupakan tradisi yang dinantikan setiap pasangan muda untuk meregup madu-madu cinta. Tetapi tidak dengan ku, aku sangat takut sekali jika hal itu terjadi, terlebih lagi aku dan Ahzar sudah berada di ruang yang terkunci.
Aku mengguyur seluruh tubuhku dengan air yang memercik di bawah Shower, entah kenapa guyuran air dari shower yang bertubi-tubi ini serasa sangat menenangkan, dingin dan tenang. Rasanya aku ingin berlama-lama di sini, sambil membayangkan apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi ke depannya.
"Nadine! Nadine! Buka pintunya". Terdengar suara teriakan dari balik pintu sana, tetapi tidak aku hiraukan
"Nadine! Nadine!". Suara itu berulang kali terdengar samar di telingaku semakin lama semakin jauh
Beberapa menit selanjutnya aku tersadar bahwa aku hampir saja kehilangan kesadaran, tubuhku menggigil hebat akibat kedinginan. Aku sadar saat kepala ku terbentur tombol shower yang ada di dinding kamar mandi itu.
"Tidak tidak. Aku tidak boleh pingsan di sini, bisa bahaya jika Ahzar menemukan aku dengan tubuh b***l begini". Gumam ku sambil bergegas mematikan shower dan mengambil handuk kemudian melilitkan handuk di tubuhku.
Dan benar saja, saat aku sudah selesai melilitkan handuk di tubuh ku, pintu kamar mandi itu terbuka.
Bruuuukk...
Ahzar mendorong dengan paksa pintu kamar mandi itu.
"Ayo aku bantu". Ahzar memelukku dan menuntun jalanku untuk keluar dari kamar mandi ini.
"Pakai bajunya". Ahzar menyodorkan baju tidur yang panjang dan tebal, ia juga bergegas mematikan AC, dan menyelimutiku.
Aku paham kepedulian Ahzar ini ia hanya kasian pada ku.
"Aku mau bicara". Ucapku pelan dari balik selimut
"Sudahlah, kau istirahat saja dulu. Besok lagi bicaranya, aku akan ke ruang kerja ada yang harus aku selesaikan".
Baiklah, untuk malam ini aman, Ahzar sendiri yang memilih untuk pergi, jadi aku tidak perlu memikirkan alasan yang konyol lagi.
"Satu lagi, jangan bertindak bodoh seperti barusan, masih banyak hal penting yang harus dilakukan. Jika tidak bisa menerima ku, setidaknya jangan bertindak menyakiti diri sendiri seperti ini". Tutup Ahzar sambil menghilang dibalik pintu.
Aku bingung dengan diri aku sendiri, sepertinya aku kehilangan akal sehat ku saat ini. Jangan pun untuk berfikir bernafas saja aku hampir lupa. Rasanya aku bukan menjadi diriku sendiri, kadang aku benci pada Ahzar namun juga terkadang aku luluh melihat perlakuan manisnya padaku. "Ini Baru satu hari kau bersamanya Nadine, kau sudah gila begini, bagaimana nanti setiap hari mu akan dihabiskan bersama laki-laki gila itu". Batinku membayangkan apa yang akan terjadi.
***
"Aku mau bicara". Ucapku ragu
"Aku tahu apa yang ingin kau katakan". Ucap Ahzar memandang ku datar.
Seketika nyali ku ciut setiap kali melihat Ahzar melempar tatapan datar seperti ini. Bagi ku ini merupakan tatapan yang mematikan.
"Perihal hak ku kan?"
Aku mengangguk pelan
"Hmmmm.. Tenang saja, Aku belum memerlukan itu". Ucap nya tersenyum licik
"Ciihhh"
Apa ini merupakan rambu-rambu aman untuk ku? Tapi mengapa ia tertawa licik seperti itu.
"Untuk sekarang belum, tak tau kalau-kalau nanti". Ujar Ahzar terdengar sangat menggelikan di telingaku.
Ya ampun, aku mohon lindungilah aku tuhan. Aku menggulungkan diriku sendiri di dalam selimut.
#POV Ahzar
Aku baru selesai membersihkan diri di kamar mandi, tiba-tiba Nadine mengajakku untuk berbicara, sepertinya ia sangat serius, tetapi aku bisa membaca arah pembicaraannya kemana.
Aku menyadari Nadine selalu menghindari ku semenjak pesta pernikahan kami seminggu yang lalu. Aku paham betul gerak-gerik Nadine kikuk saat aku dan dia berada di dalam kamar bersamaan. Tapi aku sengaja untuk menjailinya agar ia salah tingkah. Soalnya aku suka melihat wajah lucunya saat aku mencoba mendekat ataupun aku hanya terlanjang d**a di dalam kamar, wajahnya memerah dan menggemaskan.
Aku tahu ia menghindariku karena ia takut aku akan menyentuhnya, aku sangat mengerti itu. Tetapi aku juga bukan orang yang tidak memiliki hati nurani. Aku juga tak ingin menyentuhnya dengan keterpaksaan, aku akan menunggu hingga diantara kami benar-benar siap untuk melakukan itu. Itu sebabnya aku sering tidur di ruang kerja atau di depan tv sambil menonton film yang semestinya aku tidak sukai itu, agar Nadine merasa nyaman untuk tidur sendirian di kamar, sampai ia benar-benar siap untuk menerima aku.