Akulah senyum yang bisa patah tanpa hadirmu disisi. Akulah bahagia yang menjadi kelam karena tawamu tak kunjung kutemui. Pada semua perasaan yang kujunjung tinggi, akan kukorbankan milik-ku sekali lagi. Bahkan jika harus menyakiti diri sendiri, karena inginku harus kau ketahui, bahwa tak ada yang lebih bearti. Selain dirimu yang selalu menemani. *** Karin membuka matanya pelan. Kepalanya masih terasa sakit. Karin menatap langit kamar diatasnya, Karin tersadar bahwa ia tengah berada ditempat yang asing. Kamar yang ditemui-nya kini bernuansa putih, bau obat-obatan langsung disambut oleh indra penciuman-nya. "Karin? Kamu udah sadar? Kamu gapapa?" "Rin? Lo baik-baik aja kan?" "Karin, yatuhan gue senang lo udah sadar." Begitu banyak suara yang langsung menyerang-nya,

