Ada keraguan yang memang seharusnya didengar. Ada peduli yang juga tak luput untuk dipastikan. Karenanya, semua itu hanya mengenai dirinya. *** Karin berusaha menyadarkan dirinya, menghilangkan beragam pikiran kotor dan meliar dikepalanya. Entah itu sekedar ingin memeluk Raka, atau terbaring disebelah sang pentolan itu. Karin masih terdiam, memusatkan mata-nya pada satu objek yang begitu menarik perhatian-nya. Berada dalam situasi konyol ini, Karin meminimasirkan perasaan aneh didada-nya. Sampai akhirnya, sebuah suara yang berasal dari Raka, menghentak dan menyadarkan semua lamunan bodoh dikepala-nya. "Kenapa?"tegur Raka dengan suara serak khas milik-nya. Setelah menghabiskan hampir sebagian tenaga hanya untuk membangunkan lelaki itu, Karin menjadi keki melihat semua k

