Kita terjebak pada satu masalah bernama rasa. Ia licik. Singgah kapan saja, berlalu semaunya. Ia mengagumkan, selaras dengan pemiliknya. Namun egois semaunya. Betul memang, selaras dan egois tak bisa berdampingan. *** Sudah sejak pagi sekali Karin mondar-mandir tak tentu arah. Dan sedari tadi pula, ia menunggu Raka yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya. "Kenapa non? Dari tadi bibi liatin mondar-mandir terus?" Mbok Inem menegur, gemas sendiri melihat tingkah ponakan majikannya itu. "Iya nih bik, Karin lagi nunggu jemputan. Tapi yang jemput gak dateng-dateng." Jawabnya malas. "Nungguin si mas yang kemarin jemput depan pagar ya non? Yang cakep itu?" kata mbok Inem mengejek. "Iya bik emang cakep anaknya. Karin akuin sih." jawab Karin cengengesan. "Tapi songong bik, nyebelin!

