Gadis dalam foto

1856 Kata
Tak bisa lebih mengungkapkan, selain mengutarakan bahwa kita tengah menuntun hati yang ingin mengutarakan arahnya. Dan berteriak, memperhitungkan seberapa fatal akibatnya. ***      Pukul dua dini hari. Karin tak kunjung menutup matanya. Perasaannya tidak enak setelah pulang makan bersama Richard tadi. Akhirnya Karin melangkah perlahan kekamar Richard, dan mendapati sepupunya itu sudah terlelap dengan kepala dan kaki tak tentu arah. Karin geleng-geleng kepala sebelum kembali kekamarnya, merebahkan diri lagi sambil menatap langit kosong diatasnya. Perasaan ini lagi. Rasa ini lagi. Bagian paling menyakitkan bagi Karin, ketika ditengah pekat malam bayangan keluarganya kembali terngiang. Ingin baik-baik saja disaat hati meronta hebat. Ingin berusaha menerima, disaat sebenarnya belum bisa mengiklaskan. Semuanya terasa pahit dan kelabu. Setiap kali ia merengkuh rindu seorang diri. Hingga tanpa sadar air matanya sudah menetes dari kelopak indahnya. Setengah jam Karin menangis, berusaha keras ia tahan agar tidak keluar lagi. Sampai pikirannya jauh berlari ketika tiba-tiba ia mengambil ponselnya dan menghubungi Raka tanpa sadar, lelaki yang tadi siang dengan terang-terangan telah dimakinya.  Ketika dirinya bahkan berusaha keras menahan amarahnya. Karin tidak tahu lagi karena betapa ingin direngkuhnya sang pembuat onar itu. Karina Ruth Alarix? Entahlah. Kenapa tiba-tiba Karin memanggil Raka dengan nama itu. Padahal ia tau pasti hanya orang-orang tertentu yang berhak memanggilnya begitu. Karin meletakkan ponselnya didada, menyeka air matanya yang sejak tadi tidak juga mereda. Ia yakin besok matanya sudah bengkak. Tapi Karin menghiraukan itu. Suara balasan berdering diponselnya. Karin langsung menyambar cepat, ketika dilihatnya Raka masih membalas pesan-nya. Rakalarix Jangan manggil gue itu! Balasan dari Raka tersebut membuat Karin merasakan hati-nya teriris. Sebegitu besar pengaruh nama itu bagi Raka. Padahal ia hanya ingin bergurau. Akhirnya Karin hanya membacanya tanpa membalasnya lagi. Kemudian ia letakkan kembali ponsel itu didadanya. Ketika tiba-tiba ponselnya berdering lagi-lagi. Kali ini bukan balasan melalui pesan, melainkan sebuah panggilan masuk. Nama Rakalarix tertera disana, besar sekali. Seperti kekuatan pemimpin nomor satu disekolah itu. Kemudian Karin menerima panggilan itu.      "Iya?" kata Karin pertama.      "Kenapa suara lo?"      "Eng-gak."      "Udah jam segini. Dan lo belum tidur?" tanya Raka. Ada suara ketegasan  pada suaranya.      "Lo sendiri?"      "Gak usah mikirin gue. Gue telat bisa lompat lewat gerbang belakang."      "Hmm--"       "Ada apa?" ada sorot kekhawatiran didalam suara serak itu.      "Gue gak bisa tidur." cerita Karin kemudian.      "Lo abis nangis."      "Lo emang paling payah kalau nebak." singgung Karin berbohong.      "Kalau gue benar. Minggu depan temanin gue keBogor. Deal?"      "Mau ngapain kesana? Gue masih marah sama lo."      "Deal aja dulu. Iya gue salah."     "Emmmm--"      "Deal gak?"     "Deal. Terus?"     "Kirim foto lo sekarang!" Raka memutuskan panggilan. Dengan Karin yang menuruti permintaan sang pentolan itu, tanpa menghiraukan wajahnya yang sudah kusut dan lepek. Akhirnya Karin berfoto dan mengirimkan foto itu. Karina Ruth  Rakalarix Jadi temanin gue minggu depan. Karina Ruth Keliatan jelas banget ya? Rakalarix Yaudah tidur. Udah jam 3! Karina Ruth Lo belum jawab pertanyaan gue. Rakalarix Yang mana? Karina Ruth Kenapa lo belum tidur? Rakalarix Gue baru plg jam 2 tadi. Karina Ruth Dari mana? Rakalarix Jual cendol. Karina Ruth Hahahahahaha Karina Ruth Gue ketawa beneran Rakalarix Bagus. Kalau gitu tidur sekarang. Peringatan itu dapat Karin dengar ketegasan-nya. Sehingga, tanpa sadar perasaan-nya sedikit tenang. Karina Ruth Makasih. Lo baik.      Setelahnya Karin mulai dengan memejamkan matanya. Lagi-lagi entahlah. Karin terlalu merasa nyaman bersama Raka. Ketika egonya bahkan langsung terlulah lantah begitu saja. Apalagi saat satu-satunya suara penenangnya,  berada dibalik ponsel yang tengah digenggamnya. Karena-nya Karin terlalu mudah memaafkan perasaanya sendiri. Tapi ia tenang, ia senang menemukan Raka pada malam yang mengusik-nya hari itu. ***      Sengatan matahari pagi menembus celah jendela gadis yang masih saja terlelap pulas disana. Hingga akhirnya, gedoran dan teriakan mbok Inem yang mampu membangunkan Karin.  Terpaksa ia membuka matanya perlahan, waktu tidur yang kurang, membuat Karin begitu sulit untuk membuka mata-nya. Pasalnya Karin baru tidur tiga jam saja.      "Non, sepuluh menit lagi jam tujuh." teriak mbok lantang dari luar. Perkataan mbok yang satu itu membuat Karin berlonjak dan secepat mungkin mempersiapkan diri-nya. Dari kamarnya Karin dapat mendengar bahwa mbok Inem tengah berusaha membangunkan Richard dengan cara yang sama. Karin berdiri, melangkah ogah kekamar mandinya. Sesaat menatap matanya yang benar saja masih kelihatan ngembang. Tepat pukul tujuh lewat lima belas, Karin baru melangkahkan kaki keluar kamar. Ketika didapatinya Richard, sepupunya itu juga tengah berjalan keruang tengah, dimana seluruh sarapan yang sudah tertera rapi disana.     "Chardo lo masih mau sarapan? Kita udah telat lima belas menit!" gerutu Karin gusar. Richard tidak menggubris pertanyaan gadis itu. Tetapi malah melontarkan pertanyaan lain.      "Kenapa mata lo? Habis nangis?"    "Enggak. Kena gigit nyamuk kali ya,"     "Gue tanya sekali lagi. Kenapa mata lo?" seru sepupunya itu tajam. Disaat seperti ini Karin menyadari satu hal, bahwa kepedulian Richard persis seperti Raka semalam. Bedanya Karin hanya dapat bicara bebas kepada sepupunya itu. Tidak seperti dengan Raka. Lihatlah hal-hal kecil yang Karin lakukan sekarang terus membuatnya ingat dengan sang pentolan itu. Terlihat aneh karena Karin masih sulit menafsirkan perasaan-nya.    "Gue kangen-" Belum sempat Karin menyelesaikan omongannya. Richard sudah lebih dulu memeluknya.     "Gue udah bilang. Jangan sering nangis kalau malam. Lo punya semua orang yang sayang sama lo. Lo punya nyokap bokap gue. Lo punya gue. Lo punya Chelle. Lo punya Gia sama Zidni. Gue udah sering bilang, lo gak berhak sedih. Semua orang ada buat lo." jelas Richard panjang lebar, begitu sakit jika melihat Karin bertarung dengan kesedihan-nya. Hal tersebut membuat Karin balas memeluk sepupunya itu erat. Tanpa sadar air matanya menetes lagi.     "Gue sayang lo Chardo. Gue cuma punya lo sekarang. Lo gak boleh sering-sering berantem." ujar Karin tulus.      "Yaudah sarapan bentar, udah terlanjur telat. Telat aja sekalian." ucap Richard menjelaskan.     "Iya, gue pergi sama Pak Prapto." kata Karin akhirnya.     "Gak sama gue?"     "Nggak. Tar anak Alaska ada yang liat lagi."     "Buktinya kemarin gak ada."      "Raka ngeliat," Hal tersebut sukses membuat Richard menoleh kearahnya, dengan senyum kecut tersungging dibibirnya.      "Supaya dia tau gue masih belum nyerah sama dia!" Richard berujar tiba-tiba.      "Nyerah kenapa?"      "Yaudah sana lo pergi. Kena hukum ntar." singgung Richard, tanpa menghiraukan pertanyaan sepupunya itu. Karin tidak ambil pusing kemudian berlari masuk kedalam mobil. Meminta Pak Prapto untuk segera mengantarnya dengan kecepatan sebaik mungkin. Karena Karin sudah pasti akan dihukum. Karin merasakan debaran-nya baru saja meronta sekarang. Kenapa saat bertele-tele tadi ia malah biasa saja. Sampai akhirnya suara hatinya bersorak. Selamat datang hukuman, ketika Karin telah berdiri digerbang sekolahnya yang sudah tertutup rapi. Sambil meringis sendiri, Karin tersenyum pasrah meratapi gerbang depan sekolah-nya tersebut. Karin celingak celingung didepan gerbang tersebut. Pak Joko selaku satpamnya tidak juga ada diposnya. Karin masih berdiri disana. Menerka sebuah hukuman yang akan diterimanya, ketika sebuah klakson mengagetkan-nya.      "Naik." ujar Raka seraya menyerahkan sebuah helm. Karin masih terdiam tanpa pergerakan. Bingung karena mendapati Raka sudah ada disana.      "Karin! Cepat naik!!" tegur lelaki itu lagi. Karin mematung, memikirkan konsekuensi yang akan diterimanya, jika ia berani melangkahkan kaki keluar dari sekolahnya ini.     "Mau kemana? Ntar malah alpa?" tanya Karin polos.      "Naik aja dulu, ntar pak Joko datang!" jelas Raka. Karin kemudian menerima helm tersebut.      "Pak Joko tu, cepat naik!" ujar Raka lagi. Karin langsung memakai asal helm-nya, menaiki motor Raka cepat seraya berpegangan pada pinggang lelaki itu. Raka sudah menderu laju ninja-nya. Bersama gadis yang jujur saja mulai mengisi sebagian hari-hari nya. Keduanya meninggalkan halaman sekolah, sama-sama melupakan pelajaran hari ini. Karena mereka saling berkutat dengan ego dan pikiran masing-masing. Diperjalanan Karin dikagetkan dengan Raka yang menarik tangan-nya. Meletakkan jemari Karin semakin dalam, hingga tangan-nya berhasil melingkar pada pinggang Raka. Karin menaruh dagunya dibahu Raka, kemudian berujar. "Kita mau kemana?"      "Basecamp."      "Jadi kita alpa hari ini?"      "Ya bilang aja lo masih sakit. Lagian kan kemarin lo gak sekolah." Setelahnya Karin terdiam. Tidak lagi bersuara. Hanya tangannya yang semakin erat merengkung pinggang Raka. Tanpa penyesalan Karin meninggalkan sekolah. Sebab bahagianya sesederhana bersama sang pentolan itu. Begitu saja, semuanya mengalir tanpa terduga. Kedua kalinya Karin berdiri dirumah bernuansa gelap ini. Masih dengan raut bingung dan penuh tanya ia menatap sekitarnya.      "Ngapain kita kesini?"      "Emang mau kmana lagi?" Karin tidak menjawab lagi, untuk kemudian pasrah dibelakang, mengikuti Raka ketika lelaki itu membuka pintu tersebut dan masuk kedalam sana. Tempat yang biasa mereka sebut basecamp tersebut.      "Lo duduk aja. Mereka belum nongol jam segini," jelas Raka, kemudian melanjutkan "Gue mau kewc dulu." Karin yang melihat kepergian Raka tidak segera duduk. Pasalnya ia lebih memilih menelusuri rumah yang bisa dikatakan cukup besar ini. Sebab rumah tersebut sangat membuatnya penasaran. Karin memandang sekeliling, tidak banyak yang dapat memuaskan pandangannya. Hanya beberapa puntung rokok berserakan dimana-mana. Permainan Ps yang juga tak tentu arah posisinya, serta tempat bilyard yang bolanya berhamburan jatuh kelantai. Persis seperti yang terakhir kali Karin temui. Sampai akhirnya sebuah kamar dengan pintu berwarna hitam pekat, menjadi pemberhentian titik pencarian Karin. Mulanya ia bingung, karena dari depan hingga ruang tamu dibasecamp ini semuanya terlihat gelap. Mungkin para pembuat onar itu memang menyukai warna tersebut. Jadi, Karin memutuskan untuk tidak ambil pusing.      Karin membuka pintu itu perlahan, kemudian mulai melangkah masuk. Tatanan ruangan kamar ini terlihat rapi, ada satu buah ranjang yang sepertinya dibuat khusus untuk Raka dan teman-temannya tidur. Dan hanya didalam ini Karin bisa melihat betapa erat dan kuat persahabatan mereka. Karena dikamar itu dipenuhi foto-foto yang terpajang rapi didindingnya, dengan kebanyakan gambar milik Raka. Entah lelaki itu tengah tidur, ataupun saat sedang bergurau. Banyak sekali foto-foto yang diambil acak, tak khayal bahwa tentang mereka semakin Karin sadari. Kemudian ada satu foto paling mencolok diujung sebelah kanan dekat jendela, ketika Karin hendak melangkah kesana, pintu kamar itu didorong kasar dari luar.      "Siapa yang nyuruh lo masuk?!!" gusar Raka dari ambang pintu. Sontak Karin menoleh, suara teriakan itu membuatnya ketakutan setengah mati. Pasalnya baru kali ini ia melihat Raka berteriak kearahnya. Karin tidak berani menatap tatapan tajam itu, ketika yang dipilihnya adalah menundukkan kepala dalam.      "Kenapa diam. Siapa yang suruh lo masuk kesini? Gue tanya!!" bentak Raka lagi. Karin semakin jadi menundukkan kepalaanya. Takut dan juga bingung menghadapi situasi saat ini. Raka berjalan kearah-nya, menarik tangan Karin kasar sambil berujar gusar,  "KELUAR!" Membuat Karin menepiskan tangan Raka, melangkahkan kakinya keluar kamar tersebut. Untuk kemudian mengambil tasnya yang tadi sempat diletakkan Karin diatas meja bilyard. Masih dengan amarah yang dipendamnya Karin menggigit keras bibirnya, berusaha menahan air matanya. Karena teriakan Raka begitu menyesak-kan.      Setelahnya Karin berjalan keluar basecamp, secepat mungkin ia ingin berlalu dari Raka. Meski Karin harus pulang menggunakan taxi. Ia tidak peduli lagi. Ketika baru saja Karin ingin meraih pagar basecamp itu, Raka sudah lebih dulu menarik tangannya.      "Mau kemana?" sergah Raka cepat, menarik kembali tangan gadis itu kuat.      "Pulang!" Kata Karin kesal. Karin menepis kembali tangan lelaki itu. Ketika yang dilakukan Raka adalah menarik tangan Karin lagi, merengkuh-nya lebih kuat dari yang sebelum-nya.     "Gue antar!" ucap Raka disana.      "Nggak." tolak Karin mentah. Baru saja mereka baikan semalam, hari ini Raka sudah membuatnya gusar lagi. Tutur kata Raka benar-benar menyayat hatinya. Bahkan Richard sepupunya sendiri, seemosi apapun lelaki itu, tidak pernah sampai menghardik Karin seperti itu. Sedangkan Raka yang bukan siapa-siapanya berani sekali menyemprotnya kasar.      "Jangan buat gue jadi b******k karena ninggalin lo lagi." tegas Raka kemudian.      "Lo emang b******k!" maki Karin, entah untuk yang keberapa kalinya. Ia terlanjur marah untuk hari ini.      "Iya gue b******k. Dan lo pulang sama gue." ucapnya, kemudian meminta Karin untuk menaiki motornya. Sebetulnya Raka sadar sudah membentak gadis itu tadi. Hanya saja dia terlanjur terkejut melihat kehadiran Karin dikamar itu. Tidak ada yang bersuara sepanjang perjalanan, mereka hanya sibuk mengatur ego masing-masing. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN