Diragukan, tak membuatnya lelah. Mengagumkan memang,
berada berdampingan dengan sang rasa.
Ia tak pernah mengingkari,
hanya memastikan miliknya benar.
Dan tak menerima penolakan.
***
Raka menderu motornya laju, melewati sebuah jalan yang memiliki plang bertuliskan Osteokom.
Jalan itu dikenal dengan pusatnya preman bekas narapidana dan juga pencuri. Karin mengetahui tempat itu, sebab Lucas pernah memberitahu Karin untuk tidak melewati jalan tersebut.
Ketakutan Karin berlipat ganda karena bukannya menjauh, Raka malah semakin masuk keujung jalan setapak itu. Karin memang sedang marah, namun ia juga takut. Jadi merengkuh pinggang Raka kuat, Karin berujar sebelum mereka masuk terlalu dalam.
"Mau ngapain sih kesini?" tanya Karin kemudian.
"Ada urusan bentar." Ujar Raka.
"Lo bisa antar gue pulang dulu kan, baru lo selesaikan urusan lo?" singgung Karin disana.
"Sekalian, gue malas mau bolak balik." Raka menjawab santai, tidak menghiraukan Karin yang masih bergetar hebat dibelakang-nya. Sekelabat pikiran buruk kembali menghantui-nya, takut-takut kalau Raka menjual-nya disana.
Namun Raka tetap menderu laju ninja-nya tersebut, jadi Karin malas berdebat kembali. Membiarkan perihal rasa penasarannya berulang kali, bahkan disaat bibirnya gatal ingin bertanya lagi, tapi berusaha ditahannya karena ia jauh lebih marah hari ini.
Raka menghentikan motornya diujung jalan. "Lo tunggu dimotor. Gue mau ketemu seseorang." jelasnya seraya meninggalkan Karin seorang diri, berdiri seperti orang bodoh tepat disebelah ninja milik lelaki itu.
Belum sempat Karin menjawab pendapatnya, ketika Raka sudah berlalu disana.
Sepuluh menit Karin berdiri kikuk, menunggu dengan sabar ketika Raka tak kunjung keluar, ketika kedatangan dua orang bertato lengkap dengan kupluk dikepalanya membuat Karin meringis ngeri.
Karin berusaha berpikir positif, namun kedua orang itu malah berjalan mendekat ke-arahnya.
"Eh neng,." tegur sang preman bertato dilengan sebelah kiri.
"Sendiri aja?" sambung preman yang satunya dengan mencolek perlahan paha Karin.
Walaupun Karin masih mengenakan seragam, tapi lelaki bertato itu masih saja berhasil menyentuh pahanya. Benar-benar notaben lelaki tidak punya otak.
Tidak ada yang lebih Karin inginkan selain menghancurkan wajah kedua orang dihadapannya itu. Entahlah, rasanya Karin merasa dilecehkan.
"Apaan sih lo bedua!!" kata Karin gusar.
Kedua preman itu malah tertawa. Hendak mendekati Karin kembali, ketika yang dilakukan Karin adalah mundur perlahan.
Dengan ketakutan yang tengah merenggut dirinya, hal tersebut sontak membuat tubuh Karin menyenggol ninja milik Raka yang kini sudah tumbang jatuh ketanah.
Suara gaduh diluar membuat Raka menghentikan pembicaraan-nya, dengan seorang yang dipastikan memiliki pengaruh besar mengenai tempat ini.
Untuk kemudian Raka melangkah keluar, ketika mendapati Karin sudah merengkuh tasnya dengan wajah pusat pasi dan tegang. Hal itu membuat Raka berlari mendekati Karin.
"Kenapa?" tanya Raka ketika dilihatnya Karin masih mematung.
Tidak ada jawaban. Gadis itu masih terdiam. Sampai akhirnya Raka mengutarakan pertanyaannya kepada dua orang preman yang kini sudah berada dihadapannya.
"Kenapa dia?" singgung Raka gusar.
"Cewek lo nih?" tanya sang preman bertato tadi.
"Lo apain dia gue tanya?!" teriak Raka lagi.
Tidak ada jawaban dari dua orang preman itu, untuk kemudian hanya berlalu tanpa menghiraukan Raka.
"Woi anjing. Budeg lo bedua?" teriak Raka marah.
"Sopan dikit kalau ngomong. Lo itu masih muda." jelas preman bertato dilengan kiri. Matanya sedikit memerah. Mungkin tengah menahan amarah-nya.
"Belum sampai dipegang-pegang. Cuma colet sedikit," jawab preman yang satunya sambil terkekeh.
Hal tersebut sukses membuat Raka berang. Kedua orang itu memancing emosi-nya, sampai akhirnya satu buah pukulan tepat dan telak mendarat diwajah salah satu preman itu.
Perlakuan Raka tersebut langsung memicu keributan. Untuk kemudian salah satu preman, membalas pukulan diwajah Raka.
Raka yang tidak sigap langsung oleng dibuat-nya. Membuat Karin berteriak spontan.
Dan preman yang tadinya sudah dipukul Raka, langsung menahan dua lengan kekar milik Raka. Sehingga preman yang satunya lebih mudah memukul Raka, dia dipukul lagi secara bertubi-tubi.
'BUgh! BUgh! BUgh!'
Mungkin teriakan Karin menimbulkan kekacauan, ketika beberapa orang lain-nya ikut keluar.
Sementara Karin masih berdiri ditempatnya, seakan untuk sekedar menolong Raka kakinya sulit melangkah. Pasalnya tempat ini terlalu asing dimatanya.
Ketika seorang preman dengan tato ular hampir disebagian tubuhnya, memekik nyaring pada perkelahian antara Raka dan dua orang preman tersebut.
"Berenti g****k!!!" teriak sang preman itu.
Sontak preman yang menggoda Karin tadi berhenti memukul Raka. Pasalnya Raka sudah babak belur. Dia kalah karena lawannya kali ini dua orang sekaligus.
"Minta maaf lo sama dia!" ujar sang preman bertato ular itu. Meminta agar dua orang preman tersebut meminta maaf kepada Raka.
"Kenapa bisa Ka?" tegur sang preman yang menghentikan perkelahian itu.
"Dia ganggu cewek gue anjing." seru Raka masih dengan emosi yang meluap-luap.
Sampai akhirnya lelaki bertato ular tersebut menyelesaikan pertikaian antara ketiganya.
Raka kemudian menghampiri Karin. Seketika yang dilakukan Karin adalah memeluknya spontan. Tanpa menghiraukan perkelahian singkat mereka tadi.
"Gue takut."
Tanpa penolakan Raka balas merengkuh tubuh gadis itu. Membuat Karin menenggelamkan kepalanya didada bidang Raka.
"Lo aman sama gue." ujar Raka berusaha menenangkan. Dia tau pasti ketakutan diwajah Karin ketika tadi dilihatnya dari spion, muka gadis itu pucat pasi. Raka paham kekhawatiran gadis itu ketika semenjak tadi Karin hanya terguncang tanpa suara.
"Yaudah ayo pulang. Maaf gue ngajak lo kesini. Maaf buat yang tadi juga karena udah ngebentak lo. Gue pantas lo katain b******k!" sambungnya kemudian. Ada kesungguhan dalam ketegasan suaranya.
"Gue cabut dulu Ron. Urus anak buah lo dua orang itu!" jelas Raka sebelum menarik tangan Karin menjauhi para preman disana. Preman yang sudah berkumpul melihat pertikaian Raka.
Setelahnya Raka kembali menderu motornya. Mengarungi pekatnya jalan bersama gadis yang tak sepenuhnya tidak dia sukai. Yang tak juga seharusnya dia sakiti. Dan yang tak terpungkiri mulai mengisi hari.
***
Malam itu, setelah lelah berkutat dengan seluruh pikiran-nya, Karin masih tersadar padahal pukul satu malam dini hari.
Lagi-lagi Karin tidak bisa tertidur. Bukan hanya karena pikiran mengenai keluarga-nya saja, melainkan karena Raka membawa-nya kejalan Osteokom tadi. Ada sejuta pertanyaan yang kini mengganjal dikepala-nya.
Akhirnya setelah memikirkan itu berjam-jam dan tanpa jawaban, Karin memutuskan untuk menghubungi Raka.
Ingin bertanya kepada Richard namun itu tidak memungkinkan, karena Karin yakin sepupunya itu akan marah jika tahu Karin pergi ketempat tersebut.
Jadi satu-satunya jawaban yang harus dicarinya adalah dengan bertanya langsung kepada orangnya.
Karin mulai mengambil ponselnya, bukan dengan mengirim pesan atau memanggil dengan suara, Karin malah melakukan panggilan video. Mungkin karena ia hanya lebih ingin melihat wajah Raka disana.
Hanya pada dering kedelapan, ketika akhirnya wajah kelelahan Raka tampak dilayar ponselnya.
"Maaf ya ganggu lo terus akhir-akhir ini." Ujar Karin, karena ia tersadar beberapa hari ini selalu mengusik Raka.
"Kenapa?" jawab Raka dengan suara serak dan payau, lelaki itu terlihat tengah mengumpulkan nyawa-nya. Mungkin Raka tersadar, dan terbangun karena panggilan Karin.
Hari ini lelaki itu tidur awal, karena tubuhnya benar-benar lelah. Ditambah perkelahian tadi siang yang membuat wajah-nya sedikit berdenyut, namun saat melihat panggilan dari gadis itu, Raka tidak bisa menolak-nya begitu saja. Karena kini ada banyak keraguan yang mengganjal dihati-nya.
"Hmm nggak, yaudah kalau gitu silahkan tidur lagi. Maaf udah gangguin lo." ujar Karin merasa bersalah, karena Raka terlihat masih memejamkan matanya disebrang sana.
Tapi wajah itu mampu mengukir senyum dibibir Karin. Seakan pertanyaan-nya tidak sepenting wajah disebrang sana yang tengah dilihat-nya. Karena pada dasarnya, jauh didalam hatinya dalam bayangan lelaki itu Karin begitu ingin direngkuhnya. Walaupun Karin terlanjur paham apa sebenarnya arti hadirnya.
"Giliran gue udah bangun lo mau matiin gitu aja?" sindir Raka dengan mata terpejam.
Karin sontak tertawa. "Itu yang lo bilang udah bangun? Mata masih merem gitu," singgung Karin tak mau kalah.
Raka membuka matanya perlahan. "Ada apa? Lo sering benar tidur malam?" ujarnya penasaran.
Raka kemudian membelalakkan matanya. Kehidupan Karin membuatnya penasaran. Bahkan hingga saat inipun dia tidak pernah tahu rumah gadis itu. Atas setiap waktu yang dilalui-nya bersama gadis itu, Raka mempercayai sebuah kesabaran.
Terkadang setiap kali Raka ingin mengantarnya pulang, Karin lebih memilih untuk diantar kerumah Chelle. Raka sudah mencari informasi gadis itu, tetapi perihal kehidupan Karin seakan fatamorgana. Teman-temannya sekalipun tidak mengetahui lebih dalam mengenai kehidupan gadis itu. Tidak semua, karena Raka belum sempat bertanya kepada Zidni dan juga Gia.
Yang paling membuat Raka penasaran adalah kenapa Karin belum tidur disaat semua orang sudah terlelap pada jam segitu. Apa yang dilakukan gadis itu? Apa yang membuat-nya begitu sulit memejamkan mata dimalam hari begini? Apakah gadis itu insomnia? Atau memang ada banyak hal yang mengusik gadis itu? Ada banyak yang ingin Raka ketahui. Sebab yang dia tahu Karin hanya sebatas pacarnya Richard, dan Raka harus membalaskan dendamnya. Menuntaskan masalah mereka bahkan tanpa memikirkan perasaan diri-nya sendiri.
"Gue gak bisa tidur. Terlalu banyak yang ganggu fikiran gue." jelas Karin payau.
"Lo lagi ada masalah?" tanya Raka penasaran.
"Gue setiap hari bermasalah Ka." jelas Karin dengan tawa hambar.
Pernyataan itu berhasil membuat Raka mengernyitkan dahinya. Apa arti dari ungkapan gadis itu. "Maksud lo?"
Karin meneguk salivanya hambar. Bahkan disaat seperti ini, Karin begitu ingin berdekatan dengan Raka. Bingung atas perasaan konyol yang didapati-nya ini. Seakan segala hal yang dilaluinya, hanya berlalu tanpa peringatan. Karin ingin sekali bercerita namun ditahannya. Nanti saja. Belum saatnya.
"Nggak, gue emang susah tidur kalo malam," elaknya kemudian.
"Yaudah tidur sama gue aja." ujar Raka santai.
Sontak hal tersebuat membuat Karin tersedak. Ia yakin Raka melihat wajah memerahnya.
"Lo tu emang kalau ngomong suka gak mikir ya," balas Karin cekikikan.
"Gue serius."
Hal tersebut membuat Karin meneguk saliva-nya semakin jadi.
"Gue mau nanyain tentang tadi siang. Malah kelupaan," hardik Karin seraya menepuk dahinya.
Raka menguap dari sana, Karin melihat itu dilayarnya.
"Apa yang pengen lo tau?"
"Semuanya," jelas Karin.
Raka terdiam dengan mata tajamnya dia tujukan kepada gadis disebrang sana. Meyakinkan dirinya lagi bahwa kini mereka tengah bermain.
"Nanti gue cerita. Tunggu waktunya,"
"Iya gapapa, itu aja. Kalau gitu gue matiin ya."
"Gue baik-baik aja. Gak ada yang perlu lo khawatirin." kata Raka kemudian.
"Gue gak khawatir," bohong Karin.
"Kalau gitu gue yang khawatirin lo!"
Setelah mengucapkan itu Raka memutuskan sambungan lebih dulu. Dengan Karin yang langsung memejamkan matanya, seraya memeluk ponselnya, seakan benda itu adalah barang berharganya. Karena selepas panggilan itu, Karin merasa begitu lega.
***
Ke-esokan harinya diseluruh penjuru sekolah, seluruh siswa Alaska dikumpulkan dilapangan pada jam istirahat kedua. Ada pengumuman yang akan disampaikan oleh Pak Radit. Pasalnya ini sudah seminggu sejak diadakan-nya liga basket pelajar.
Jika sebagian siswa lelaki berteriak girang, beda dengan siswa perempuan. Mereka lebih banyak mengeluh pada cuaca pagi itu. Panas terik yang begitu pekat membuat para gadis Alaska menggerutu sebal.
"Pak Radit lama banget sih, bisa luntur skincare gue kena panas begini," Cindy berujar gusar.
"Iya nih, percuma aja gue dandan biar dilirik cogan. Kenyataan-nya, malah dilirik matahari!" Adel ikut menyambung disebelahnya.
"Rip tangan gue, bisa item kalau berjemur terus," Zidni menimpali.
Karin hanya terkekeh melihat gerutuan teman sekelasnya itu. Namun bukan hanya kelas Karin, barisan kelas lain juga banyak mengeluh cuaca hari itu.
"Karin mah enak, kulit-nya udah putih, dijemur sebulan juga kagak mungkin hitam," Gia berujar kepada sahabat-nya itu.
"Kalau sebulan, gue dah jadi ikan teri," Karin membela diri.
Semuanya jadi tertawa. Kemudian berteriak agar Pak Radit menyelesaikan pengumuman itu secepat mungkin.
Dan selama pertandingan antar sekolah tersebut Karin bahkan belum pernah menonton sama sekali. Pertama, dikarenakan ia tidak suka olahraga. Kedua, karena Karin takut sebab pertandingan seperti itu notaben dengan perkelahian.
Karena selalu saja ada siswa yang tidak terima jika pertandingan sekolah mereka dikalahkan. Jadi untuk dua alasan ketat tersebut, Karin lebih baik menonton drama korea atau rebahan dirumah saja.
"Malam ini Final pertandingan basket melawan SMA Caviplex. Bapak mohon bagi kalian siswa Alaska harap datang untuk menonton pertandingan teman-teman kalian nanti malam. Dan diharapkan untuk mengenakan pakaian berwarna merah atau putih." ujar Pak Radit menjelaskan.
Sontak ada beberapa anak yang menggerutu, dan ada juga yang merespon baik.
"Jadi kalian diperbolehkan untuk pulang awal hari ini. Dan jangan lupa langsung istirahat untuk menyiapkan suara dan teriakan nanti malam! Diharapkan untuk datang dan menjadi supporter Alaska!" ujar Pak Radit lagi.
Karena mereka dipulangkan lebih awal, membuat seluruh siswa teriak kegirangan.
Karin sama halnya, gadis itu langsung menepuk tangannya nyaring. Kemudian setelah barisan dibubarkan semuanya langsung bergegas pulang kerumah masing-masing.
Ketika hendak melangkah keluar gerbang Karin menyadari bahwa ponselnya ketinggalan disorok kelas, ketika tadi ia buru-buru belari kehalaman.
"Zid, Gi. Hape gue ketingglan nih," gerutu Karin kesal. Heran sendiri kepada dirinya yang kerap kali lupa
"Mau kita temanin gak?" tawar Gia kemudian.
"Hmm. Ga usah aja deh, kalian pulang duluan aja," kata Karin akhirnya. Tidak enak merepotkan kedua sahabat-nya itu karena kelas mereka lumayan jauh dari gerbang sekolah.
"Yaudah hati-hati lo. Biasanya suka ada suara aneh kalau siang begini," Gia mulai menakuti.
"Suara cogan maksud dia, Rin." Zidni meluruskan.
Karin hanya geleng-geleng kepala. Malas meladeni kedua sahabatnya itu. Kemudian mulai membalik badan dan melangkah menuju koridor sekolahnya kembali.
Karin baru sampai pada anak tangga kedua dilantai dua, ketika benar aja kata Gia ada suara berisik diatas sana. Karin melangkah pelan dan sedikit mengintip, berlonjak karena memdapati Raka dan teman-teman nya ada disana. Karin terkekeh sendiri, 'benar kata Zidni, suara cogan ternyata.' ujar Karin dalam hati.
"Woi, Rin. Mau kemana lu?" Aska menegur pertama.
Raka menoleh dan berlonjak mendapati gadis itu. Lagi pula sejak tadi dia sibuk berbicara kepada Ardan.
"Eh, hai" ujar Karin kikuk.
"Halo mba Karin yang terhormat," tegur Gary menggoda.
"Apakah kesini untuk menemui pangeran Alarix yang cakep ini?" Joe ikut menimpali.
Membuat Raka menjitak kepala sohibnya itu.
"Mau kemana lo?" tanya Aska kepada teman sekelasnya lagi.
"Mau kekelas, hape gue tinggal." jawab Karin cengengesan. Menyadari kebodohan-nya sendiri.
"Hati-hati loh Rin, ada genduruwo." kata Gery menakuti.
"t***l mana ada genduruwo siang begini," potong Aska cepat.
"Iya kagak ada, hantu cewek yang gantung diri ada Rin, dikelas lo," Joe ikut mengompori.
Membuat Karin bergidik. "Ish apa-apaan sih lo. Jangan ngaco!"
"g****k. Hape sendiri aja bisa lupa!" Ardan tiba-tiba mencelos kasar.
Perkataan Ardan tersebut membuat semuanya ikut menoleh. Begitu juga Karin tentunya, gadis itu menjadi kikuk seketika. Ia dibuat bingung, karena Ardan selalu judes setiap kali berbicara kepadanya. Karin juga bingung, bahkan sampai hari ini ia tak kunjung menyadari kesalahannya apa.
"Dan, kenapa sih?" Aska menegur pertama.
"Tau, kok lo yang sewot sih, hape bukan punya lo juga!" sambung Joe terkekeh.
Hanya Karin yang terdiam. Ia tidak lagi bersuara. Sebab sejak tadi pun Raka hanya diam menatap-nya.
Akhirnya Karin memilih untuk berlalu secepatnya. Perkataan Ardan membuatnya malas berlama-lama.
"Ye lo sih, jadi marah kan dia. Lagian kasar benar sih sama cewek." hardik Gery langsung.
Ardan tidak menjawab lagi, hanya melebarkan tangannya, memberi isyarat kalau dia sama sekali tidak peduli.
"Ini juga si onta, malah diam aja." sambung Gery kepada Raka.
Membuat Raka berbalik badan dan melangkah kelantai tiga. Tempat kelas gadis itu berada.
Setelah sampai dikelas untuk mengambil ponselnya Karin tidak langsung pulang. Ia duduk dikelasnya, masih memikirkan perkataan Ardan tadi. Karin tau ia ceroboh, bahkan ponselnya adalah satu-satunya benda berharga miliknya. Sebab hanya diponselnya ia bisa melihat memori semua kenangannya. Karin tahu ia lalai, tapi apa urusan-nya dengan lelaki aneh itu.
Karin membuka ponselnya, menggeser perlahan foto-foto yang ada digalerinya. Terkadang ia tersenyum. Terkadang menangis. Sehingga tanpa sadar sejak tadi ada seseorang yang menunggunya tepat didepan pintu kelasnya.
Karin menegakkan kepalanya, berlonjak karena melihat kedatangan Raka didepan kelasnnya. Lelaki itu melangkah kearahnya. Membuat Karin jadi kikuk dibangkunya.
"Hmm. Sejak kapan lo berdiri disana?" tanya Karin penasaran.
"Menurut lo?" tanya Raka balik.
Karin tidak menjawab lagi. Hanya memasukkan ponselnya kedalam sakunya.
"Maafin kata-kata Ardan tadi," sambung Raka.
Karin tertawa, "Gue emang ceroboh. Bodoh. Dan tolol." jawab Karin dengan tawa hambar.
"Tar gue hajar mulutnya Ardan." Kata Raka seketika.
"Iya, sampai babak belur kalau perlu." jawab Karin menggebu.
"Ntar malam mau gue jemput?" tawar Raka kemudian.
"Nggak. Gue gak suka nonton pertandingan gitu."
"Ayo nonton sama gue?"
Ajakan Raka membuat Karin berpikir sesaat. Sebenarnya ia ingin sekali menonton pertandingan itu. Terlebih lagi ini adalah final sekolahnya sendiri. Jadi permintaan Raka mengalahkan egonya.
Karin mengangguk disana.
"Yaudah ayo pulang. Siapa tau ada genduruwo benaran?!" hardik Raka. Membuat Karin tertawa seketika.
Tak bisa dijelaskan lagi, mungkin benar seseorang tak pernah bisa berdiri sendiri.
Mengarungi dunia, merengkuh diri, Karin menemukan sang arah yang sengaja diizinkannya singgah.