Dua minggu sudah semenjak pertemuan terakhirku dengan mas Rifai, aku tak lagi didatanginya, juga tak lagi mengharapkan kedatangannya. Memang lebih baik begitu bukan? Daripada membiarkan hati terus-menerus terasa sakit karena membayangkan seseorang yang tidak bisa menjadi milikku. Dia juga tidak punya pilihan selain menuruti apa kata orang tuanya dan juga nenek. Mas Rifai sangat beruntung, meskipun ia hanya anak tukang kebun, tetapi nyatanya nenekku menyukainya bahkan memintanya untuk menikahi cucu kesayangannya yaitu kak Vina. Aku tak lagi bertemu dengan mas Rifai, tapi seringkali cerita tentangnya mengalir dari bibir bibi. Aku tetap mendengarnya dengan seksama, hanya menimpali sesekali agar hatiku tak terlalu nyeri. Di siang ini, saat aku sedang bersantai di depan dengan bibi yang menem

