Kak Vina Yang Menangis

2528 Kata

"Aduh ..." Aku meringis, memegang perutku. Seringkali di usia delapan bulan ini, perutku keram hebat. Bunda sering mendatangkan bidan diam-diam lewat gerbang belakang dan kata bu bidan, aku hanya kontraksi palsu. "Masih lama, Bu Dewanti. Tidak perlu khawatir." Bidan itu membuat kami semua tenang. Aku sendiri sedang setengah duduk di atas ranjang, kepalaku bersandar di dinding yang terbuat dari papan. Bunda yang sudah lama tak mendatangiku akhirnya tak tahan setelah bibi mengabarkan bahwa aku sering kesakitan sekarang. "Bagaimana, Mika, sudah enakkan?" tanya bunda dengan raut khawatir. Aku mengangguk, demi meredakan kecemasannya itu. Padahal perutku masih sesekali terasa nyeri. "Terimakasih Bu Bidan, oh iya, saya mungkin akan membutuhkan Ibu lagi nanti jika Mika akan melahirkan," ka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN