Rumah Seperti Penjara

1012 Kata
Bosan. Satu kata itulah yang sekarang sedang menyerang diriku. Aku hanya bisa termenung di ruangan sempit ini setiap hari. Udara segar hanya bisa ku hirup jika jendela kamarku terbuka. Karena itu, kadang sampai malam daun jendela kubiarkan tetap menganga. Aku kembali termenung di tempat ini, aku jarang menutup jendela kamar. Aku tak peduli, seseram apapun suasana di luar ruangan kecil dengan minim penerangan ini. Banyak pohon di luar, kadang bersuara gemericik menimbulkan aroma ngeri. Namun, yang lebih ngeri adalah perempuan yang mau tak mau harus aku akui sebagai nenekku. Aku cukup bisa bernafas lega karena beberapa hari ini, dia sudah jarang datang tapi aku tetap jadi orang yang paling waspada. Aku takut jika diam-diam dia menyelinap lalu membunuh bayiku. Entahlah, bukannya mau berburuk sangka, tetapi aku memang sudah begitu skeptis terhadap keberadaan nenek. Dia sudah seperti malaikat pencabut nyawa yang siap untuk membunuh aku ataupun bayiku kapan saja. Kurasakan, perutku bergejolak, terasa ada gerakan dari bayi di dalam perutku. Mungkin, dia juga merasakan apa yang sedang kurasakan saat ini. "Tenanglah, Bunda akan melindungimu." Aku berbicara dengan bayiku sembari mengusap perutku yang sudah membuncit sempurna. Saat sedang termenung dengan bertopang dagu, aku mendengar pintu ruangan ini diketuk. "Masuklah, Bunda kah?" "Bibi, Non, Mika." Aku kira bunda yang datang. Namun, tak apa, aku cukup bahagia dan cukup surprise mengetahui bibi datang lagi di saat bukan jamnya dia berada di sini. "Bibi, kenapa bisa kemari? Nanti Bibi dimarahi nenek lagi." Aku tak lagi terlalu memikirkan diriku, yang aku pikirkan adalah orang-orang yang masih berdiri di belakangku dan selalu membela juga memberi perlindungan mereka kepadaku. Bunda, bibi, merekalah dua orang yang sampai detik ini masih setia membersamaiku. "Ada buah dari bunda, Non. Sudah Bibi potong-potong. Ayo, makanlah." "Tapi, nanti nenek datang ke sini dan menjahati Bibi lagi." Aku melihat keluar jendela, berharap sekali perempuan jahat itu tak datang lalu memukul bibi karena sudah mengantarkan buah untukku. "Ndoro putri sedang keluar bersama keluarga lainnya, Non. Tadi, nyonya Dewanti telepon Bibi untuk menemani Non sampai mereka akan kembali." Aku bernafas lega. Akhirnya aku mengangguk dan segera meraih beberapa potong apel juga pir, buah kesukaanku yang sudah lama tak pernah aku rasakan lagi manisnya. "Enak, Non?" tanya bibi penuh perhatian. Aku segera mengangguk. Jujur saja, makanan seperti ini bagiku sudah begitu langka, jadi aku tidak akan menyia-nyiakannya. Dalam sekejap saja, aku sudah hampir menghabiskan semua buah yang tersaji barusan. "Alhamdulillah," kata bibi setelah melihat piring buah tadi telah kosong. "Piringnya bocor, Bi," kataku berkelakar. Bibi tertawa lepas dan aku menanggapinya dengan hal yang sama. Lalu, setelah waktu hampir menunjukkan pukul sepuluh malam, bibi pamit untuk kembali ke rumah utama. Aku melepaskannya dengan sedikit tak rela, sebab selain bunda, bibi lah yang selalu menemaniku. Aku akhirnya menutup jendela kamar. Sebenarnya, kemarin malam bunda berjanji untuk mendatangi tempat ini, tapi sepertinya, bunda juga tak bisa menolak semua acara penting yang harus dihadirinya bersama ayah. Aku sendiri maklum, keluarga kami paling tersohor dan terpandang di sini. Banyak acara, banyak kegiatan yang mesti dihadiri. Keluarga kami? Aku hampir meloloskan tawa miris memikirkan itu. Mereka kan sudah tak menganggap aku keluarga, kenapa aku begitu yakin mengatakan tentang itu? Semakin larut, aku hanya bisa mendengar suara jangkrik juga cicak di dinding. Aku mulai memejamkan mataku perlahan, mencoba untuk tetap tegar juga mencoba berdamai dengan keadaanku sekarang. *** Pagi sekali setelah aku selesai mandi dan memakai dress. Aku melihat bunda sudah berada di dalam ruangan kamarku. Aroma sup wangi mengusik indera penciuman, menggugah selera dan membangkitkan rasa lapar. "Wah, sup ayam kesukaan Mika." Aku berseru riang. Bunda tersenyum senang. "Bunda yang masak, sengaja membuatkannya buatmu." "Tapi ..." "Nenek sedang tak ada, dia sedang meninjau perkebunan. Sekarang, kau makan yang banyak ya. Nanti Bunda mau mengajakmu ke dokter kandungan." Aku hampir membulatkan sempurna mataku mendengar rencana bunda. "Tak apa, Mika, Bunda sudah mengaturnya. Kalau tak begini, selamanya kau akan terpenjara di ruangan ini." Aku yang tadinya diam, akhirnya mengangguk. Bisa keluar dari ruangan ini walau sebentar adalah nikmat yang paling aku tunggu. Aku segera menghabiskan makananku. Bunda melihatku dengan sesekali menyeka airmatanya. Aku tetap berusaha untuk tak menangis juga, aku ingin tetap kuat menjalani semua ini. Semua makanan yang bunda sajikan pagi ini aku habiskan tanpa sisa bahkan kuah supnya tak kubiarkan masih ada di sana. "Kau suka?" tanya bunda sambil mengusap kepalaku lembut. "Mika sudah lama tidak makan masakan Bunda. Tentu saja, Mika suka." Bunda menunduk, menyeka lagi airmatanya yang jatuh berderai. Aku meriah jemari bunda, menggenggamnya perlahan, berusaha untuk saling menguatkan. "Baiklah, sekarang, kau bergegas ya. Kita akan segera pergi lewat gerbang belakang. Sudah ada supir yang menunggu di sana." Aku segera mengangguk. Setelah membersihkan mulut dari sisa makanan, aku segera berjalan bersama bunda dan menjauh dari rumah bak penjara itu. Kurasakan udara segar, ku hirup ia dalam-dalam hingga memenuhi rongga paru-paruku. Seorang supir segera membuka pintu mobil begitu melihat kami. Ia seperti mengerti bahasa isyarat dari kejauhan yang bunda tunjukkan. "Jalan, Pak." "Ke rumah sakit kan, Nyonya?" "Ya," sahut Bunda. Sementara aku hanya diam. Sudah bisa keluar sebentar saja aku sudah sangat bahagia. Apalagi sampai dibawa check up seperti ini. Di dalam mobil, aku dan bunda tak henti tersenyum dan saling bercerita banyak hal. Bunda bercerita masa kecilku yang begitu bahagia. "Seandainya, kakek masih ada ya, Bun." Aku menunduk, teringat mendiang kakek yang selalu membelaku. "Kakek pasti sedang menjagamu dari atas sana, Mika." "Tapi, kalau seandainya kakek masih hidup, apa dia tidak akan kecewa pada Mika, Bun?" "Tidak, Puteriku. Kau adalah kebanggaannya sedari dulu. Dia pun pasti paham jika semua ini adalah musibah. " "Hanya Bunda dan bibi yang mengerti keadaanku. Terima kasih ya, Bunda, Mika tidak pernah tahu apa jadinya Mika bila tanpa kalian berdua." Bunda meraih jemariku, menggenggamnya erat lantas segera mengangguk. Setelah itu, aku melihat rumah sakit tak lagi begitu jauh. Aku dan bunda turun untuk segera ke poli kandungan dan memeriksa bayi dalam perutku. "Kita bisa melihatnya sebentar lagi melalui layar monitor, Mika." Aku mengangguk, begitu bahagia sampai tak bisa lagi berkata-kata. Aku tak sabar ingin segera melihat anakku walau hanya melalui monitor saja. Sungguh, aku benar-benar merasa bebas dari penjara yang diciptakan nenek selama ini walau hanya sebentar saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN