Akhirnya, Aku Melihatnya

1044 Kata
Langkah kami tenang dan teratur, menapaki koridor rumah sakit sampai ke depan ruangan dokter kandungan. Aku berdebar-debar, ini kali pertama aku akan berjumpa dengannya. Kata bunda, aku akan langsung diperiksa dengan monitor empat dimensi. Aku tak paham, tapi menurut saja apa yang bunda katakan dan instruksikan. "Periksa dulu ya." Perawat di depan ruangan dokter kandungan mulai mengecek tensi darahku. "Sedikit rendah, jangan stress ya, itu akan sangat berpengaruh kepada bayi di dalam kandungan," lanjutnya sembari melepaskan belitan alat pengecek tensi darah itu. "Dengar kan, Nak, jangan stress." Bunda mengulangi apa yang baru saja perawat katakan. Aku tersenyum lalu mengangguk. Setelah itu aku dan bunda menunggu di kursi yang sudah disediakan. Ada beberapa ibu hamil lain yang sedang menunggu giliran diperiksa. Aku melihat mereka rata-rata pergi bersama pasangannya. Nampak bahagia, nampak sukacita. Lalu mulai kubandingkan dengan aku sendiri, yang datang tanpa suami, tanpa ayah dari anak yang sedang ku kandung ini. Seakan mengerti, bunda merangkul bahuku lembut. Matanya seolah menyiratkan rasa iba juga kasih di saat yang bersamaan. "Sebentar lagi giliranmu," bisik bunda sambil tersenyum. Terasa jemarinya lembut menepuk-nepuk bahuku. "Ya, Bunda. Aku sungguh tak sabar ingin segera melihatnya." Bunda tersenyum pula lalu mengangguk. Saat pintu ruangan dokter kandungan terbuka, bersamaan dengan itu sepasang suami istri muda keluar dari sana. Bunda sepertinya mengenal mereka sebab aku melihat gelagat lain saat kami saling berhadapan. "Bunda kenal mereka?" tanyaku penasaran, sebab raut wajah bunda tiba-tiba saja berubah. Lama bunda tak menjawab tapi akhirnya dia mengangguk juga. "Cucu temannya nenekmu." Seketika aku paham kepanikan bunda. Pasti bunda takut nanti pasangan suami istri itu bercerita kepada keluarga mereka bahwa mereka tak sengaja bertemu Mika dan bundanya di dokter kandungan. "Apa nanti tidak akan masalah, Bun?" tanyaku. Aku takut nanti bunda lagi yang kena sasaran amukan nenek jika dia tahu kami pergi ke dokter kandungan hari ini. "Tidak, Mika. Ayo, kita harus segera masuk. Kau sudah tak sabar melihatnya bukan?" Sekarang, bunda sudah lebih rileks lagi. Aku pun akhirnya ikutan tenang. Bunda dan aku duduk di depan dokter kandungan yang segera tersenyum kepada kami itu. "Kehamilan anak pertama ya?" tanya dokter itu ramah. Aku dan bunda mengangguk. "Baiklah, kita periksa dulu ya. Silahkan Nona Mikayla berbaring agar kita bisa melihat perkembangan bayi di dalam ya." Aku ikut semua instruksi dokter. Dokter meletakkan alat pemeriksaan yang sebelumnya sudah dioleskan gel dahulu. Monitor mulai bergerak dan menunjukkan keberadaan anakku. Awalnya aku tak melihat apapun selain layar berwarna cokelat abstrak lalu kemudian muncullah sosok mungil yang tengah mengecup jempolnya di dalam sana. Aku melihat. Akhirnya aku melihat bayi yang sedang bersemayam dengan nyaman di dalam perutku. "Itu anakku, Bun?" tanyaku terbata-bata sebab aku tak kuasa menahan airmata yang tumpah begitu saja. Bunda pun sama, ia menggenggam jemariku seraya menghapus jejak airmata yang sudah lebih jatuh di pipinya. Rasanya aku tak bisa lagi berkata-kata. Betapa bahagianya menjadi seorang ibu. Meski aku akan melahirkan anakku tanpa kehadiran lelaki yang sudah membuat dia hadir ke dunia ini. Tak apa, ada bunda yang menemani aku. "Perempuan." Dokter menyebutkan jenis kelamin anakku. Seorang puteri. Anakku ternyata perempuan. Aku tak sanggup menahan haru ini lebih lama. Tanpa malu aku menangis bahagia. "Dijaga asupan gizinya ya. Kurang lebih dua bulan lagi, Nona Mika akan segera melahirkan. Jangan stress, jangan banyak pikiran. Banyak lakukan pergerakan seperti berjalan kaki di pagi hari untuk nanti membantu melancarkan persalinan." Aku mengangguk mendengar semua saran dari dokter. Untuk pertama kali di dalam hidupku aku merasa bahagia dan sedih di saat bersamaan. Bahagia karena akhirnya aku akan menjadi seorang ibu di usia yang relatif begitu muda, sementara sedih juga ikut membayangi kala aku teringat betapa pengecut dan pecundangnya lelaki yang sudah menghamiliku ini. Juga sedih karena keluarga menjauhi aku yang dianggap aib. Setelah puas berbincang dengan dokter tentang kehamilanku ini, aku dan bunda memutuskan untuk segera pulang. Namun, bunda mengajakku pergi ke kedai eskrim. Aku sumringah sekali, sudah lama tak makan eskrim. Bunda nampaknya ingin membuat aku bahagia agar tak terbebani dengan kesedihanku selama ini. Aku memeluknya, mengucapkan terima kasih tak terhingga karena dia masih peduli di saat semua menjauhi. "Kita gunakan kesempatan ini dengan baik ya, Mika, sekarang makanlah yang banyak. Bunda akan menuruti kemanapun kau mau, karena dua jam lagi kita sudah harus kembali." Aku mengangguk cepat. Aku juga tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Bersama bunda aku nikmati sisa kebebasan sebelum nenek kembali ke rumah dan sebelum aku kembali lagi ke penjara yang sudah diciptakannya. Setelah itu, bunda mengajakku ke toko perlengkapan bayi. Kami membeli baju-baju yang lucu untuk anakku. Aku bisa tertawa lepas untuk pertama kali setelah hampir tujuh bulan terkurung dalam kesedihan panjang. "Ayo, Mika, saatnya kita kembali." Bunda mengajakku pulang, meski berat dan rasanya belum puas menikmati kebebasan sesaat ini, aku akhirnya mengangguk. Kami membawa banyak sekali belanjaan untuk bayiku yang akan segera lahir. Di perjalanan, supir yang membawa kami mengendarai mobil dengan sedikit ngebut karena tadi bi Tati baru saja menelepon kalau nenek dan ayah sudah kembali ke rumah utama. "Tak apa, Mika, tenanglah, nenekmu tahu hari ini jadwal arisan Bunda." Aku mengangguk meski sempat cemas. Bunda menggenggam jemariku berusaha untuk menenangkan padahal aku tahu bahwa ia sendiri sedang panik di dalam hatinya saat ini. "Bagaimana kalau nenek melihat kita, Bun?" "Mudah-mudahan dia tidak berada di balkon atas rumah, Mika." Aku seketika terkenang dengan balkon sekeliling rumah megah itu. Memang akan sangat mudah melihat situasi secara menyeluruh dari sana. Aku jadi menggigit bibirku sendiri sekarang, tanda sedang cemas lagi. Ketika kami sampai di gerbang belakang, bi Tati ternyata telah menunggu. Ia segera mengambil alih belanjaan kami barusan. Lalu mata bunda awas melihat sekeliling. Syukurlah tak ada siapapun di atas balkon sana. Kami tiba di rumah pengasingan tepat saat nenek dan ayah sedang menuju kemari. Aku segera berganti pakaian dengan dress rumahan biasa sementara bunda segera duduk di kursi kayu di depan kamar sambil bermain ponsel dan bi Tati secepat mungkin menyimpan semua barang bayiku di tempat yang tak terjangkau mata nenek. Aku berbaring, seolah sedang beristirahat sementara di depan sana aku mendengar nenek mulai berbicara dengan bunda yang terdengar tenang menjawab semua pertanyaan mertuanya itu. "Kau tak berangkat arisan?" tanya nenek kepada bunda penuh selidik. "Baru saja kembali, Bu. Kepalaku sedikit pusing dan aku juga ingin menemani Mika sebentar di sini." Tak lagi terdengar nenek menyahut. Yang ku dengar setelah itu adalah langkah kakinya yang mendekat ke arah kamarku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN