Masih kudengar langkah perempuan tua itu semakin mendekat ke arah ranjangku. Aku melihat bayangannya dalam samar sinar mentari yang masuk dan membias di dalam kamar ini. Aku seketika jadi merapatkan selimut, setiap kali nenek datang, aku seperti sedang didatangi malaikat maut hingga menimbulkan rasa curiga dan menjadikan diri lebih waspada. Alarm bahaya di dalam otakku berdering-dering, mengingatkan bahwa seseorang yang akan segera sampai di samping ranjangku berbaring saat ini adalah manusia tanpa kasih bermarga nenek.
"Mika!" serunya. Padahal, jaraknya denganku sudah sedemikian dekat meski aku belum membalikkan tubuh menghadapnya. Entah mengapa kini ia suka sekali berteriak begitu.
"Ya, Nek. Maaf, Mika tertidur." Aku mencoba untuk tetap tenang lalu berbalik dan memaksa bangkit tubuhku yang mulai berat ini.
Saat kami sudah berhadapan, kulihat, nenek sedang melipat kedua tangannya di depan d**a seperti biasa. Raut wajahnya tak enak dipandang, dia bengis sekali menatapku. Aku bahkan berani bertaruh, bahwa nenek memang tak lagi menganggap aku sebagai cucunya.
"Baumu harum, kau memakai parfum?" Ia nampak mengendusku. Aku sedikit mundur, risih diperlakukan begitu.
"Memangnya, aku tak boleh memakai wewangian, Nek?" tanyaku balik.
Perempuan tua itu menatapku dengan pandangan semakin tak suka. Terlihat sekali kecurigaan darinya dengan semakin memincingnya mata saat ia menatapku. Ia menilik dari atas sampai bawah.
"Aneh! Apa kau baru saja keluar dari ruangan ini?" tanyanya lagi dengan pandangan menyelidik.
Terdengar langkah kaki mendekat kemudian. Suara hentakan sendal berhak yang dipakai bundaku semakin jelas kedengaran. Aku tahu, bunda ingin menyelamatkanku agar tak keceplosan bicara mengenai kepergian kami beberapa saat yang lalu.
"Bu, tentu saja Mika keluar dari kamarnya. Pergi ke dapur sebentar untuk minum, atau pergi ke kamar mandi."
Nenek kembali memincingkan matanya, ia menatapku dan bunda bergantian. Ya Tuhan, nenek betulan mengerikan. Ia seperti sedang menguliti aku hidup-hidup saat ini. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini tapi aku benar-benar bisa mencium aroma kejahatan yang siap ia tebarkan untukku.
Aku takut sekali saat ini, aku takut dia bisa menebak bahwa beberapa saat yang lalu aku dan bunda memang sudah keluar dari tempat terkutuk ini. Namun, aku tetap menampilkan ketenangan agar ia tak terusan curiga terhadapku.
"Awas kau jika aku menemukan sesuatu yang mencurigakan!" ancamnya dengan mata melotot ke arah ku lalu ia mulai berkeliling.
Aku cemas, kutatap bunda dan bibi bergantian. Sebenarnya raut wajah bunda yang setenang air tanpa riak itu pun sekarang mulai keruh. Aku bisa melihat kecemasan menjalar hingga ke pelupuk matanya. Jemarinya nampak meremas sisi dress samping tubuhnya. Aku semakin tak karuan, jangan tanya bagaimana jantungku sekarang, rasanya seperti sedang ditalu-talu, berdebar keras sekali seolah sedang merasakan bahaya yang siap menerkam.
"Awas saja kalau aku menemukan sesuatu!" gumam nenek lagi, terdengar cukup pelan tetapi aku bisa mendengarnya dengan jelas..
Barang belanjaan tadi! Ya ampun, bibi menyimpannya di dekat lemari, terselip di antara lemari dan dinding..Bibi sudah terlihat pucat, bahkan keringat sebesar biji jagung nampak membanjiri keningnya.
"Bu, ayo kembali. Ada orang perkebunan sedang menunggu."
Suara ayah yang muncul tiba-tiba saja membuat aku bisa bernafas lega. Padahal tinggal mengayunkan sedikit langkah kaki lagi untuk sampai dan melihat beberapa bungkusan tadi.
Nenek menghentikan langkahnya, menoleh sebentar kepada kami semua termasuk kepada ayah yang baru saja datang. Kali ini, aku cukup berterima kasih kepadanya karena secara tak sengaja pula dia sudah menyelamatkan aku.
Nenek akhirnya sempurna berbalik dan beranjak menuju ayah.
"Memangnya tak bisa kau wakilkan dulu?" tanya nenek dengan raut kesal.
"Mana bisa, Bu. Kau lebih paham dan lebih punya kuasa untuk menandatangani dokumen yang orang itu bawa."
Nenek menghela nafasnya mendengar ucapan ayahku. Akhirnya ia pergi bersama ayahku yang tanpa sedikitpun mau melihatku.
Terlihat bi Tati dan bunda menarik nafas lega secara bersamaan.
"Hampir saja, Bi." Bunda berkata sembari mengelus dadanya.
"Iya, Nyonya. Bibi kira, ndoro tidak akan sampai memeriksa seluruh isi ruangan. Untung saja dia tidak sampai ke pojokan itu."
"Aku pun tidak menyangka, Bi. Tapi syukurlah, ia tidak sampai ke sana. Sekarang, tolong Bibi keluarkan saja semua isinya dan simpan di lemari itu. Kalau sudah dikeluarkan dan berbaur dengan alat lainnya, itu bisa lebih membuat kita aman."
Bibi segera mengangguk dan melaksanakan perintah dari bunda barusan. Ia bergerak cepat sekali sebelum perempuan jahat tadi datang lagi. Bunda terlihat mendekati saat ini.
"Tak apa, Mika. Tenanglah, jangan panik ketika nenekmu bertanya macam-macam seperti tadi."
"Ya, Bun. Hanya saja, mengapa nenek begitu membenciku sekarang. Apa aku tak lagi mempunyai tempat di dalam keluarga ini?" tanyaku dengan suara sedikit gemetar.
"Maklumlah pada sifatnya ya, Sayang. Nenekmu memang begitu. Tapi Bunda tentu tak sama dengannya."
Aku mengangguk. Jelas bunda tak sama dengan nenek. Bunda tak jahat seperti nenek. Bunda tak ada pikiran apalagi sampai ada niat untuk membunuh anak dalam kandunganku. Setidaknya di antara keluargaku yang lain, hanya bunda yang tidak mengucilkan aku.
"Bunda kembalilah. Aku tidak mau nanti nenek datang lagi dan berbuat kasar kepada Bunda karena terus-terusan berada di tempat ini bersamaku." Aku berkata dengan lembut kepada bunda dan ia tersenyum menyambutnya.
"Benar, Mika. Ya sudah, kalau begitu kau istirahatlah, nanti bunda akan sisipkan makanan enak untukmu lagi."
"Tak usahlah, Bunda. Terlalu berisiko. Nanti akan ketahua. Jikalau yang dimaki-maki dan dijahati oleh nenek adalah aku, tak mengapa. Tapi kalau Bunda yang diperlakukan seperti itu aku jelas tak akan terima."
Bunda nampak tersenyum kecil mendengar penuturan ku barusan. Ia kemudian mengelus kepalaku memberi ketenangan. Kami seperti dua orang yang sedang saling melindungi. Posisi Bunda yang hanya seorang menantu di dalam keluarga besar ini membuat ia juga sebenarnya dilema dan tertekan karena tak bisa berbuat apa-apa, tetapi aku sangat berterima kasih karena bagaimanapun, bunda tidak pernah meninggalkan aku seperti yang lainnya.
"Bunda akan melakukan segala cara, Mika, untuk membahagiakanmu, untuk melindungimu walaupun di lakukan secara sembunyi-sembunyi. Kau harus percaya, dari kejauhan Bunda selalu berusaha untuk melindungimu, Nak. Bagaimanapun caranya."
Aku tak kuasa menahan haru di dalam hatiku lagi saat mendengarnya, mataku tampak berkaca-kaca ketika kulihat ia dari cermin di seberang sana. Lalu aku memeluk bunda yang segera menepuk-nepuk punggungku dengan sejuta keharuan. Air matanya mengalir membasahi pundakku di belakang.
"Kalau saja eluarga yang lain bisa mengerti keadaanku seperti Bunda mengerti aku, tentulah aku bisa lebih tabah menjalani musibah yang terjadi kepadaku ini, Bunda. Sayangnya keluarga kita yang lain malah menganggap aku sebagai aib meski ini terjadi tidak atas kehendakku sendiri."
Bunda tak bisa lagi berkata-kata, ia hanya bisa menepuk-nepuk bahuku pelan. Aku yakin saat ini dia pun dilanda kebimbangan. Aku sangat bersyukur bunda, setidaknya, secercah harapan dan cahaya masih kudapatkan dari kasihmu yang masih begitu nyata di antara banyaknya cahaya gelap yang datang dari keluarga kita yang lainnya. Tak mengapa, Bunda, asalkan kau tetap berada di sisiku. Meski aku tak tahu sampai kapan aku bisa mendapatkannya darimu lagi karena sekarang sepertinya aku sudah memikirkan langkah-langkah untuk segera pergi dari tempat ini, pergi dengan membawa bayi yang aku kandung ke tempat yang lebih aman. Tempat dimana kami berdua diterima dan bisa menjalani kehidupan sosial di tengah masyarakat yang lainnya. Entahlah dimana, tapi yang jelas, itu akan menjadi salah satu daftar keinginan yang mungkin akan segera aku wujudkan.