Sudah beberapa hari ini setelah aku dan bunda berhasil keluar dari penjara yang diciptakan nenek beberapa hari yang lalu, permata hatiku itu tak lagi datang ke tempat ini. Aku seringkali bertanya-tanya kepada bibi mengapa bundaku tak juga kunjung tiba. Biasanya setiap pagi setelah orang-orang di rumah megah itu sibuk keluar dengan segudang aktivitasnya, bunda akan menyempatkan diri untuk mengunjungiku.
Jawaban bi Tati pun masih saja tetap sama. Tak memuaskanku yang acapkali kini diterpa rasa penasaran. Aku seperti terisolasi dengan dunia luar karena terlalu lama dikurung di tempat ini.
"Nyonya Dewanti sedang sibuk sekali menemani tuan besar, Non Mika. Nyonya berpesan agar Bibi selalu menemani Non Mika di sini."
"Hmmmmmm, baiklah, Bi. Hanya sedikit merasa cukup aneh karena tak melihat bunda seperti biasanya." Aku pun akhirnya hanya menanggapi dengan itu.
Bibi tersenyum, sembari menyapu halaman dia sesekali melirikku. Entah mengapa aku seperti bisa melihat jika seperti ada yang disembunyikan oleh bibi. Entahlah apa, mungkinkah ada hubungannya dengan tak datangnya bunda dalam beberapa hari terakhir ini. Aku pun tak tahu.
"Non, bagaimana keadaan Non Mika sekarang? Apa masih sering keram perutnya?" tanya bibi dengan raut serius, sepertinya bibi seringkali mendengar aku mengerang dan meringis karena memang beberapa kali aku kerap mendapatkan rasa sakit di perutku akhir-akhir ini.
Tapi aku sendiri tak begitu memikirkannya sebab teringat pemeriksaan dengan dokter kandungan waktu itu yang mengatakan bahwa kandunganku sehat-sehat saja.
"Tak ada masalah, Bi. Memang kadang sering keram sesekali, tapi tak begitu lagi terasa kok." Aku tersenyum ke arah bibi yang akhirnya mengangguk dengan sedikit lega.
Bibi kembali melanjutkan sesi menyapu halaman yang sudah mulai dipenuhi gugurnya daun-daun akasia di atas tanah. Aku hanya menyandarkan kepalaku pada daun jendela. Setiap hari, hanya kehidupan seperti inilah yang aku jalani. Bosan memang, tapi mau bagaimana lagi.
Sungguh aku merindukan suasana kampus juga merindukan Ara, sahabatku. Aku pernah mendengar dari bibi jika beberapa hari kemarin Ara sempat datang tetapi nenek mengusirnya pergi.
Aku sedih sekali, kenapa nenek begitu jahat? Ia juga sombong sekali. Sungguh, jika tak lagi aku dianggapnya sebagai cucu kenapa tak dibiarkannya aku pergi dari sini? Malah mengurungku seperti ini?
"Bi, seandainya aku masih bisa menghubungi Ara. Aku rindu sekali padanya. Aku seperti tak punya siapa-siapa lagi. Ara juga pasti sangat sedih karena tak bisa bertemu denganku lagi. Kejam sekali nenek mengusirnya."
Bibi menunjukkan wajah ibanya padaku ketika aku mengatakan itu. Aku sendiri tahu bahwa Ara datang waktu itu dari bibi.
"Bibi lupa, Bibi sempat minta nomor teleponnya non Ara. Sebentar Bibi ambilkan ponsel Bibi agar Non Mika bisa meneleponnya."
Aku menatap bibi dengan pandangan berbinar sekaligus haru. Tak menyangka bibi punya pikiran seluas itu. Maka ketika ia kembali lagi dengan ponsel jadulnya, itu sangat membuat aku bahagia setengah mati.
"Ayo, Non, cepat telepon saja non Ara!" Bibi nampak berseru pula membuat semangatku bertambah berkali-kali lipat jadinya.
Aku segera mencari kontak Ara. Setelah menemukannya, aku segera menyambungkannya dengan panggilan telepon. Sungguh bahagia hati ini ketika kudengar suara Ara menyahut.
"Siapa ini?" tanya Ara di seberang sana. Ia tentu tak tahu aku yang meneleponnya saat ini.
"Ara, ini aku," kataku menyahut.
Hening beberapa saat.
"Mika?!!" Akhirnya dia tersadar dan memekik. Aku turut merasa bahagia pula mendengarnya. Sungguh aku sama bahagianya dengan Ara. Rasanya, mataku pun sekarang jadi perih karena sedang menahan jatuhnya butiran airmata.
"Iya, aku, Ra. Bagaimana kabarmu?" Aku segera melanjutkan obrolan kami.
"Baik, Mika, aku baik. Bagaimana denganmu pula? Sungguh aku sempat mengunjungimu saat itu tetapi nenekmu memintaku pergi. Katanya kau tak lagi tinggal di rumah itu. Padahal aku tentu tahu kau dikurung olehnya di belakang."
Nada suara Ara terdengar sedih sekali. Aku pun merasa hal yang sama. Ara sempat mengunjungi aku ketika kandunganku berusia tiga bulan secara diam-diam dibantu oleh bibi. Betapa sudah empat bulan kami tak berjumpa. Rindu sumpah.
"Maafkan aku ya, Ra." Suaraku jadi sengau.
"Mika, jangan minta maaf. Kau tak salah. Aku sangat merindukanmu, sahabatku. Bagaimana kandunganmu? Kau sehat?" tanya Ara penuh perhatian di seberang telepon.
Aku menyeka airmata yang sudah hampir jatuh. Kuanggukan kepala dan tersenyum lalu mengiyakan pertanyaannya. Kemudian, kami mulai larut dalam perbincangan. Ara bercerita, banyak sekali teman satu fakultas kami merindukanku pula.
Aku jadi mengelus perutku yang sudah membesar ini, demi bayi yang kukandung ini, kurelakan masa mudaku menguap begitu saja. Meski bisa saja aku tetap meraih dan menjalani masa mudaku dengan menggugurkan kandungan ini kemarin, tapi aku memilih untuk menjaganya. Kendati bayi ini tercipta karena aku yang telah dizolimi oleh lelaki tak bertanggungjawab. Aku tetap akan menjaganya. Aku sudah benar-benar sayang kepada bayiku ini, biarlah aku merana kini, tak mengapa. Yang penting aku tetap menjaganya dengan baik.
"Mika, dua bulan lagi kau akan melahirkan. Kuat-kuat ya, Mika. Aku sungguh ingin menemanimu, menguatkanmu, tapi itu mustahil. Sulit untuk kita bisa bertemu. Aku pasti mendoakan semua yang terbaik bagimu. Ingatlah, Mika, kau bisa mengandalkan aku jika kau tak tahu lagi harus kemana."
Seperti isyarat, aku mengerti apa yang Ara maksud. Semakin deras airmataku mengalir akhirnya. Sedih, tapi tak bisa berbuat apapun. Hanya menerima garis takdir dan berpasrah kepada sang khalik.
"Terima kasih, Ra. Aku beruntung punya sahabat sebaik dirimu. Kau tak mengabaikan aku di saat seluruh dunia menjauh."
"Kau tetap sahabatku, Mika, apapun keadaanmu sekarang. Semua ini musibah, dan aku bangga kau telah mempertahankannya, meski ia hadir tanpa sengaja, karena kejamnya ulah manusia."
Kupejamkan mata ini, tersedu sedan mendengar penuturan Ara yang aku tahu dia pun bersedih di seberang telepon. Saat akan mengakhiri sambungan telepon, ku dengar gerbang samping penghubung tempat ini dengan rumah megah nenek berderit berbunyi. Aku lekas menyembunyikan ponsel bibi. Aku kira nenek yang datang, ternyata bunda.
Mataku berbinar menatapnya, tetapi perlahan senyumku meredup keheranan. Kulihat wajah bunda begitu sendu. Tampak sembab pula matanya. Wajahnya kuyu, dia seperti banyak pikiran. Hatiku terenyuh melihat bunda yang nampak lesu tetapi tetap berusaha tersenyum ke arahku.
Setelah ia sampai di depanku, diraihnya aku dalam pelukannya. Aku membalas pelukan bunda. Kami berpelukan cukup lama. Tak ada kata yang terdengar untuk beberapa saat, hanya ada helaan nafas bunda di sela wajah murungnya. Ada apa, bunda? Aku begitu terluka melihat murung di wajahmu itu. Hembusan semilir siang ini seperti sedang menggambarkan hati bunda yang begitu dingin dan seperti tak berdaya.