Aku tak tahu ada masalah apa yang terjadi kepada bunda. Bunda tetap tak mau bercerita dan selalu mengalihkannya dengan memberi perhatian kepadaku. Ia memasakkan sesuatu untukku, ia juga membelikan s**u untukku. Ia melakukan apa yang tak seharusnya dilakukannya. Tapi bunda seperti sedang menantang nenek. Nenek melarang siapapun untuk memberikan aku semua hal baik untuk kehamilanku ini. Jika dulu bunda secara sembunyi-sembunyi membawa makanan enak dan hal lain untukku, sekarang dilakukannya secara terang-terangan.
Beberapa kali dari ujung sana kudengar dia bertengkar dengan ayahku. Bunda seperti sedang membentengi aku dengan dirinya sendiri yang sebenarnya sudah tak berdaya pula menghadapi keluarga besarku. Hari ini, ia datang dengan semangkuk sup enak lagi. Tapi aku malah merasakan hambar karena melihatnya yang begitu menderita.
"Bunda." Aku menghentikan kegiatan bunda menyiapkan makanan untukku. Bunda mengalihkan perhatiannya, tersenyum ia dan ketika kuperhatikan, pipinya sedikit lebam. Aku menggeleng perlahan. "Berjanjilah ini kali terakhir Bunda melakukannya. Aku ingin, Bunda baik-baik saja dengan ayah. Aku tahu sudah ada yang terjadi denganmu, Bunda. Aku tahu Bunda menentang nenek dan ayah habis-habisan karena aku. Tak apa, Bunda, berhentilah. Aku tak mau lagi melihat Bunda terluka."
Bunda terduduk lemas mendengar penuturanku. Ia kemudian menggeleng. Bundaku yang cantik itu tampak begitu kuyu. Ia seorang menantu dari keluarga ningrat yang tak punya hati nurani. Bunda tak berdaya tetapi mencoba melawan habis-habisan mereka semua yang telah menyakitiku, hingga diapun akhirnya tersakiti pula pada akhirnya. Dan aku tak sanggup melihatnya begitu.
"Mika, seorang ibu, tidak akan pernah bisa tahan melihat anaknya tersiksa. Seorang ibu akan melakukan berbagai cara untuk melindungi anaknya dari semua hal yang telah menyakitinya."
"Aku mengerti maksudmu, Bunda. Tapi tak ada yang bisa kita lakukan. Aku sudah bisa berdamai dengan keadaan ini. Tetapi aku akan merasa sangat bersalah dan bersedih jika Bunda yang diperlakukan tak baik oleh mereka."
Aku memeluk bunda yang balas memelukku. Sungguh kasih ibu sepanjang masa. Bunda tetap berusaha untuk melakukan semua hal terbaik bagiku kendati pada akhirnya dia sendiri akan menerima semua konsekuensi dari semua pembelaannya terhadapku.
Aku mengusap punggung bunda. Setelah itu, aku melihat senyuman yang lebih lepas dari bibirnya. Aku tahu betul, itu dilakukannya untuk membuat aku tak lagi khawatir dengan semua yang telah terjadi kepadanya. Tapi bunda, bagaimana aku bisa berpikir jika kau baik-baik saja sementara aku bisa melihat dengan jelas, kekecewaan juga luka dan kesedihan itu dari matamu?
"Makanlah, Mika, kau harus banyak makan yang bergizi. Bunda akan ke belakang dan membuatkanmu susu."
Aku mengangguk, kemudian mulai makan lagi dengan perlahan. Kubiarkan bunda pergi ke belakang untuk membuatkanku s**u. Setelah beberapa saat, bunda kembali dengan segelas s**u hangat. Dari depan terdengar suara berteriak, berseru memanggil nama bunda berkali-kali. Suara ayahku.
"Pergilah, Bunda," kataku kepada bunda yang nampak memejamkan matanya lantas memejamkan matanya sesaat. Bunda akhirnya mengangguk.
"Baiklah, makanlah yang banyak ya, jangan lupa habiskan juga susunya."
Aku tersenyum kepada bunda lalu meneruskan makanku lagi. Derap langkah kaki bunda terdengar semakin menjauh. Makananku pun sudah hampir habis. Aku juga segera meminum s**u yang bunda telah buatkan untukku, menyesapnya perlahan hingga habis. Tepat ketika aku akan meletakkan gelas, aku melihat dari arah depan datang lagi orang. Dua orang lebih tepatnya. Mereka, kedua kakakku.
Tatapan mereka bengis sekali memandangku. Aku tak begitu menggubris, kubereskan segera piring dan gelas kotor untuk mengantarkannya ke belakang. Kebetulan bu Tati sedang ke rumah utama. Lantas, apa pula keperluan kedua saudara yang tak lagi menganggap aku sebagai saudara mereka ini?
"Puas kau?! Puas sudah membuat bunda dibenci ayah dan nenek?" tuding kak Vina kepadaku dengan ketus. Aku mencoba untuk tetap tenang, kembali ke kamar dengan mereka berdua yang mengikuti. Mereka kemudian terlihat sedang bersandar di daun pintu. Abangku yang pertama juga menatapku dengan begitu kesal.
"Semua karena kau, Mika! Keluarga ini harus bertengkar setiap hari karena ulahmu!" Sekali lagi, tudingan itu membungkam bibirku untuk berkata-kata.
Aku bukannya tak bisa melawan, tetapi aku masih begitu menghormati keduanya.
"Untuk semua yang sudah terjadi, aku minta maaf, Kak. Tapi aku juga tak bermaksud untuk mengakibatkan semua kekacauan ini."
Keduanya menatapku sinis. Beberapa kali pula, kakak tertuaku menatapku dengan menahan gemeletuk di giginya. Ia geram sekali nampaknya denganku.
"Lihatlah, karena kebablasan kau pacaran dengan lelaki b******n itu, akhirnya kau hanya menghadirkan aib! Nenek sangat murka kepadamu! Ayah benci melihatmu!"
"Dan kalian pun sama, bukan?" Aku memotong dengan lantang. Rasanya, aku muak juga jika harus disalahkan berkali-kali padahal aku sudah minta maaf, merendahkan diri dengan begitu rendahnya, tapi percuma saja, bagi kedua orang yang sudah terdikte ini, aku tetaplah orang yang sudah membuat aib besar bagi keluarga kami.
"Siapa yang bisa mengelak dari musibah ini, Kak? Jika diminta memilih, aku pun tak ingin ini terjadi kepadaku! Kalian kira aku bahagia dengan ini semua?!"
Kakak pertamaku tampak terkejut sedikit melihat aku yang tiba-tiba saja bersuara dengan lantang. Tapi itu tak mengurangi tatapan bencinya untukku.
"Hal semacam ini tak akan datang, jika kau mau mendengar kami kemarin! Jangan pacaran dulu! Apalagi dengan lelaki b******k semacam itu! Tapi kau tak mendengarnya! Kau malah tidur dengan lelaki itu! Dimana harga dirimu sebagai perempuan?" Suara kak Rizal menggelegar. Aku begitu terluka. Benar aku dulu memang salah karena menjalin hubungan dengan orang yang salah tetapi aku pun tak tahu jika pada akhirnya aku akan dilecehkan hingga hamil seperti ini. Aku dipaksa! Bukan melakukannya dengan sukarela! Masihkah mereka menganggapku begitu?! Menganggap aku memang secara sadar menyerahkan kehormatanku kepada Dani?
"Pergilah, Kak, percuma kita berdebat. Aku tidak punya kuasa untuk membuat kalian percaya dan yakin bahwa aku tidak pernah sengaja melakukannya. Aku juga di sini sebagai korban. Tidak ada yang perlu kita perbincangkan lagi. Jika kalian merasa aku tak pantas lagi menjadi saudara kalian, tak apa. Aku menerima semua itu dengan kerelaan."
Ketika baru saja kedua kakakku hendak berbalik, nenekku ternyata sudah lama berada di belakang mereka tanpa aku sadari. Ia menyeruak, lalu memberi satu tamparan keras di pipi kiriku. Sangking kerasnya, bisa kurasakan mataku memanas. Aku memegang pipiku, berusaha untuk tidak menangis, menahan airmata sekuat tenaga. Kemudian nenek berlalu tanpa berucap apapun.
"Kau pantas mendapatkannya!" desis kak Vina dengan senyum sinisnya. Aku tak mampu lagi berkata-kata. Hanya tanganku yang terkepal, bersumpah atas nama bunda tak akan lagi peduli dengan semua diskriminasi yang mereka berikan. Tempat ini tak lagi menjadi tujuan. Rumah megah itu, asing. Aku memang harus segera pergi dari tempat ini.