"Yah ... Mau balon yang biru itu," kataku sambil menunjuk balon biru yang dijual abang-abang di pinggir jalan.
"Main terus!"
"Ayah jahat!"
"Vina, Rizal, pilih mainan yang kalian mau," kata ayah kepada kedua kakakku.
Aku yang kecil itu hanya menatapnya pilu. Lalu, kulihat senyum dan tawa sumringah kedua kakakku. Mereka sudah cukup besar, tetapi ayah begitu memanjakannya. Kenapa berbeda denganku?
Bayangan masa lalu bertahun-tahun itu terlintas begitu saja ketika aku termenung sore ini. Senja baru saja mulai membiaskan cahayanya yang kuning keemasan. Airmataku terasa mengalir begitu saja saat terkenang duka masa lalu.
Dari dulu, aku dan ayah memang tak dekat. Ayah seperti tak pernah suka dengan kehadiranku. Tetapi beruntung dulu aku punya kakek. Kakek sayang sekali padaku. Aku pun tak mengerti mengapa ayah nampaknya tak begitu menyayangi aku. Padahal aku anak bungsu, kata orang, anak bungsu itu akan paling disayang ayahnya. Namun, mengapa aku berbeda? Apa ayah dulunya tak mengharapkan kehadiranku?
Bertahun-tahun berlalu, perlakuan ayah masih saja sama terhadapku, terlampau dingin. Aku hanya bisa menerima perlakuan itu dari ayahku tanpa aku pernah tahu apa sebenarnya yang melatarbelakangi hal itu.
Sampai akhirnya aku bertemu dengan Dani. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta kepada laki-laki. Aku terbuai dengan perlakuannya yang begitu baik kepadaku. Kehilangan sosok ayah membuatku percaya kepada Dani yang saat itu berkamuflase dengan baik di mataku. Ternyata, dia pria jahat, yang menjadikan aku menjadi alasan terbesar ayah untuk semakin membenciku.
Magrib mulai menyambangi kota Surabaya yang dingin ini, dingin karena beberapa saat yang lalu memang turun hujan yang cukup deras, bahkan aroma tanah basah masih tercium begitu saja di hidungku. Aku segera menutup jendela, lalu meraih mukena dan mempersiapkannya di pinggir sisi ranjang sementara aku sendiri pergi ke belakang untuk mengambil air wudhu.
Aku tak punya tempat untuk mengadu selain kepada Tuhanku dan juga bunda sebenarnya. Tetapi aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak pernah lagi mengharapkan terlalu banyak kehadiran Bunda di sini. Aku tidak ingin Bunda nanti ikutan dibenci oleh keluargaku yang lainnya.
Namun, ketika magrib telah usai tepat setelah aku menunaikan ritual ibadahku, aku mendengar pintu kamar diketuk. Aku berharap sekali bahwa itu adalah bibi tapi ternyata itu Bunda. Bukannya aku tak suka dia ke sini tetapi aku tidak ingin dia dimarahi oleh ayah lagi.
"Maaf, Bunda, aku baru saja selesai sholat, jadi terlambat membuka pintu untuk Bunda," kataku kepadanya yang menanggapinya dengan senyum. Ia kemudian masuk ke dalam kamarku sementara aku melipat mukena lalu meletakkannya di atas nakas kemudian ikut duduk di samping Bunda.
"Tidak apa-apa, Mika. Maaf ya, Bunda mengganggumu lagi. Bunda hanya ingin menemanimu juga membawakanmu makan malam seperti biasa. Bunda sudah menyiapkannya, tunggu sebentar Bunda ambil, tadi Bunda taruh di meja belakang."
Aku hanya mengangguk saja, sudah kuduga Bunda tak datang ke sini dengan tangan kosong. Bahkan saat ia datang kembali, ia membawa sepiring nasi dengan lauk ayam dan telur juga sayuran hijau di dalam mangkuk, sepertinya itu sayur bening kesukaanku. Di sebelahnya ada dua buah apel kesukaanku dan segelas s**u yang tidak pernah dilupakan Bunda untukku.
"Bunda repot-repot sekali, padahal aku tidak ingin merepotkan Bunda."
"Mika, untuk anak sendiri kok repot? Tidak apa, memang Bunda senang melakukannya. Sekarang kau makan ya, Bunda akan menemanimu di sini."
Akhirnya aku mulai menyuapkan makanan itu sendok demi sendok ke dalam mulutku. Untuk sesaat kami diam, Bunda sepertinya tidak ingin mengacaukan makan malamku. Lalu tak lama kemudian terdengar langkah kaki orang lain dan terdengarlah suara bibi.
"Non Mika, ini ada buah-buahan dari kampung, tadi anak Bibi pergi bertandang ke rumah dan membawakan ini untuk Non Mika."
Mataku tampak berbinar-binar melihat apa yang dibawa oleh bibi. Banyak sekali buah-buahan di dalam kantong plastik bening.
"Terima kasih, Bi, Banyak buah untuk Mika hari ini dan makan enak juga," ujarku kepada kedua orang baik itu dan mereka tertawa menanggapinya.
Aku bahagia sekali malam ini, setidaknya walaupun anggota keluargaku yang lain begitu membenci kehadiranku sekarang, tetapi tidak dengan bunda dan Bibi. Lihat, mereka memberiku banyak makanan dan juga buah-buahan kesukaanku. Bunda terlihat sudah mengupas kulit apel dan mulai memotong-motongnya sebagai pencuci mulutku setelah aku makan berat ini.
"Aku bingung Bunda harus meletakkan makan-makanan ini di mana, lihat perutku kan sudah besar."
Lagi-lagi bibi dan bunda tertawa dengar gurauanku dengan aku yang saat ini sedang menunjuk perutku yang memang sudah nampak besar itu. Aku tak tahu bagaimana caranya bunda dan Bibi bisa datang ke tempat ini pada malam hari dengan leluasa seperti ini, padahal aku yakin nenek akan sangat murka bila mengtahuinya tetapi bunda dan bibi nampak tenang tenang saja.
"Jangan heran, Mika, kedatangan Bunda ke sini memang sudah atas kesepakatan Bunda dan ayahmu. Bunda akan mengunjungimu setiap malam bahkan setiap hari walaupun hanya sampai jam sembilan malam tanpa sembunyi-sembunyi lagi, agar kita bisa menghabiskan waktu bersama selama masa jam itu, bercerita banyak hal dan bunda akan menemanimu selalu, Mika."
"Tapi aku takut sekali, Bunda, setiap kali Bunda ke sini aku selalu melihat ada mata yang tidak suka memandangmu jika kau mengunjungiku ke sini. Aku tidak ingin Bunda bertengkar dengan ayah dan nenek. Aku ingin Bunda dan keluarga kita yang lain seperti dulu, akur dan bahagia walaupun mereka tidak lagi menganggap keberadaanku, tak apa-apa. Yang penting Bunda tetap dianggap oleh mereka."
Bunda diam. Ia sepertinya ingin menangis mendengar itu tetapi ditahannya. Lalu ia menggenggam jemariku erat. Aku pun sedih Bunda harus menjalani kisah seperti ini. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan yang sedang tak berdaya menghadapi nasib seperti aku? Aku hanya bisa menerima semua hal yang sudah terjadi di dalam hidupku dengan kelapangan d**a dan kuharap kau pun begitu, bunda.
"Tidak ada yang berbeda dengan perasaan Bunda terhadapmu, Mika. Kalaupun mereka harus membenci Bunda karena Bunda tetap membelamu, ya sudah. Bunda tidak akan pernah meninggalkanmu."
Aku terdiam cukup lama setelah itu. Di saat-saat seperti ini, rasanya pasti membuat air mataku jadi tumpah. Bunda, cintamu kepadaku begitu besar, sebesar itu pula rasa yang ada di dalam hatiku ini untukmu. Tapi jujur saja aku tidak ingin melihat kau terluka karena aku saat ini. Aku yang sejujurnya sedang berada di dalam persimpangan dilema, antara harus tetap bertahan di tempat ini atau pergi sejauh mungkin.
Kami menghabiskan hampir dua jam di dalam tempat pengasingan untuk bercerita banyak hal tapi belum lagi jam sembilan malam, tepat ketika waktu baru menunjukkan pukul delapan tiga puluh menit, aku mendengar derap langkah kaki lagi. Kali ini yang datang adalah ayahku. Dia memanggil bunda dengan suara yang lantang seperti sedang berseru dan teriak. Aku sendiri ngeri mendengarnya, apa tak ada lagi cinta dari ayah untuk bunda sehingga ia memanggil bundaku begitu? Kasar.
"Bunda kembali ya, Nak, setelah ini jangan begadang, tidak baik untuk kehamilanmu."
"Dewanti, cepatlah kembali!" seru Ayah di depan pintu dan saat itulah mata kami bertemu. Sungguh aku melihat tak ada kasih di mata itu. Seperti dia bukan ayahku tetapi bagaimanapun dia adalah ayah kandungku yang memang tak pernah menyayangiku sejak dulu, entah apa salahku.