Ketahuan

1066 Kata
Berhari-hari kemudian, aku yang saat itu sedang mengupas buah-buahan yang masih tersisa, pemberian anaknya bibi, mendengar suara kisruh di depan tempat pengasinganku. Aku tidak tahu apa yang terjadi di depan sana, tetapi suaranya ribut sekali dan sesekali terdengar suara bunda yang menangis. Aku segera meletakkan pisau dan meletakkan buah yang baru saja kukupas. Tak kutemukan tanda-tanda adanya bibi. Bibi mungkin sedang berada di rumah utama dan suara itu semakin jelas terdengar. Aku akhirnya memberanikan diri pergi keluar dan aku ternganga melihat bunda seperti sedang diseret oleh ayahku ke tempat ini dan di belakangnya ada nenekku juga. Ada apa ini? Apa yang sedang terjadi sehingga mereka memperlakukan ibundaku seperti itu? "Ada apa ini, kenapa Bunda diperlakukan seperti itu?" Aku segera menghambur, terseok-seok membawa perutku yang besar ini menuju bunda dan aku segera memeluknya ketika kami sudah berdekatan. Aku berusaha untuk melepaskan cengkeraman ayah yang begitu kuat di tangannya. "Ini semua gara-gara kau! Kau anak tidak tahu malu! Tidak bisa diatur sedari kecil! Kau sangat nakal! Aku tidak pernah suka denganmu! Kelahiranmu memang tidak pernah kuharapkan dan benar saja ketika kau lahir dan tumbuh besar hanya ada aib yang kau tebarkan di dalam keluarga besar ini!" Hatiku langsung amblas begitu saja ketika mendengar ayahku menghardikku sedemikian kasar dan kerasnya seperti itu. Tak terasa air mataku meleleh begitu saja, selama ini ayah tak pernah berkata kasar kepadaku kendati wajah dan sikapnya dingin sekali. Tetapi hari ini sungguh perkataannya bagai mata pisau yang merobek jantungku begitu saja ketika mendengarnya. Sementara bunda hanya menggeleng tak percaya melihat ayah bisa mengatakan hal seperti itu kepadaku. "Maaf, Ayah, tapi apa salah Mika sehingga ayah begitu membenciku?" tanyaku dengan terbata-bata. "Kelahiranmu memang sebuah kesalahan, Mika! Kelahiranmu terkutuk! Kau tahu ketika kau lahir dulu aku mengharapkan anak laki-laki yang ternyata yang lahir adalah kau anak perempuan! Apalagi tak lama dari kau lahir perusahaan keluarga ini sempat bangkrut lalu kau juga sering menjadi alasanku bertengkar dengan ibumu! Kini, saat kau sudah besar, kau malah membuat aku malu dengan hamil seperti ini! Hamil di luar nikah, dihamili oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab! Bodoh!" Semakin berderai rasanya air mataku mendengar hal itu yang keluar meluncur begitu saja dari lidah dan mulut ayah. Terdengar begitu tajamnya lidah ayahku ini, sehingga rasanya mampu merobek hatiku yang paling dalam, sungguh pilu aku mendengarnya. "Sudahlah, jangan terlalu banyak berbasa-basi! Anak ini memang harus diberi pelajaran!" Sekarang suara nenek. Nenek datang, dia membawa cambuk! Aku bergidik ngeri melihatnya. Apa dia akan mencambukku? Apa kesalahanku sehingga ia akan melakukan hal itu? Bukankah jika ia melakukan itu maka itu termasuk kekerasan? Kulihat bunda ada sekarang membentengiku dengan tubuhnya sendiri, berusaha melindungi aku dengan sekuat tenaganya, meski ia telah lelah berteriak dan menangis untuk membelaku. "Menyingkir darinya, Dewanti! Jangan pernah melindungi anak kurang ajar ini! Dan kau sudah membuat kesalahan besar karena sudah mengajaknya pergi ke dokter kandungan waktu itu! Kalian membuatku malu saja ketika temanku dalam acara arisan berkata ternyata salah satu cucuku sedang hamil tanpa suami! Nasib apa yang sedang kalian berdua tebarkan ini? Apa kalian sengaja ingin membuat keluarga ini malu?" tanya nenek dengan suaranya yang menggelegar. Aku sendiri hanya bisa terdiam, tidak menyangka jika kami akan ketahuan, meskipun kurasa itu bukanlah suatu pelanggaran. Apa memeriksakan kandunganku ke dokter adalah sebuah dosa besar? "Apa yang salah, Bu? Mika butuh untuk diperiksa. Selama kehamilannya dia tidak pernah diperiksa oleh dokter manapun. Dokter tidak pernah diizinkan datang untuk memeriksa kandungannya. Sebagai ibunya, aku sangat memperhatikan putriku. Kalau kalian tidak ingin memperhatikannya, maka biarkan aku yang melakukan itu dan apa salahnya jika aku membawanya pergi untuk check up memeriksakan kehamilannya?" Suara bunda pun tak kalah keras. Ia sedang menentang habis-habisan ayah dan nenekku, sementara kedua kakakku di belakang pagar melihat kejadian itu tanpa melakukan apapun tapi mereka memandangku dengan sengit. Mereka tak berani mendekat karena ayah dan nenek yang dikuasai kemarahan. "Itu sebuah kesalahan! Kau ini bodoh atau bagaimana? Aku susah payah mengasingkan dia di tempat ini, menyembunyikannya dari orang-orang, sementara kau dengan begitu beraninya menunjukkan keadaannya kepada orang-orang, apalagi kepada orang yang mengenalku, mengenal dengan baik sejarah keluarga kita yang terhormat ini. Kau dan anakmu ini sudah mencoreng muka kami dengan arang!" Aku tak bisa berkata apa-apa sekarang. Aku hanya takut bundaku akan diperlakukan tidak baik oleh mereka. Bunda berusaha untuk melindungiku dari mereka semua. Aku tidak bisa berkata apa-apa selain menangis di belakang bunda. Tak lama kemudian, bundaku ambruk begitu saja. Dia pingsan, wajahnya tampak pucat dan itu membuat ayahku sangat khawatir. Ia segera menggendong bunda dan membawanya pergi. "Jangan, Ndoro, jangan. Ini sudah termasuk tindak kekerasan dalam rumah tangga. Saya mohon, Ndoro." Bibi segera memelukku, berusaha melindungiku saat nenek akan mengayunkan cambuknya menyentuh tubuhku. Aku terisak di pelukan bibi, sementara nenek kemudian mengepalkan jemarinya dan melempar cambuk itu begitu saja. Ia segera berlalu dari tempat itu dengan memandang benci ke arahku. "Semuanya sekarang kacau karena kau, Mikayla! Aku tidak akan pernah menerima keberadaan anakmu, aku akan menerima kau kembali sebagai cucuku jika kau mau menggugurkan anak itu!" Tenggorokanku rasanya tercekat mendengar nenek yang masih begitu bersemangat untuk membunuh bayi yang ada di dalam perutku ini. Padahal ia tahu sendiri bahwa aku akan segera melahirkan tak lama lagi. Ternyata masih ada di dalam pikirannya untuk membunuh bayi di dalam perut ku ini. Sungguh nenek perempuan yang tak punya kasih atau hati nurani sama sekali. Ia sangat berbeda dengan kakekku, kakekku tidak pernah memperlakukanku sekasar ini. Setelah mereka pergi, hanya tinggal aku dan bibi yang duduk bersimpuh di atas tanah. Rasanya aku tak kuat lagi ingin bertahan di tempat ini, tetapi apa yang bisa kulakukan? Apa aku harus kabur di saat-saat seperti ini? Aku masih belum siap sebenarnya jika harus pergi di saat aku dalam masa-masa akan melahirkan seperti ini. Sungguh sangat berbahaya dan beresiko bagi bayi yang sedang kukandung, karena itu aku akan terus bertahan untuk sementara waktu, tetapi tentu saja rencana pelarian tetap ada di dalam list daftar rencana utamaku nantinya. "Sabar, Non Mika, semua ini ujian dan Non Mika harus kuat untuk menjalaninya." Aku mengangguk, tak sanggup berkata apapun dan hanya bisa memeluk bibi yang mengelus kepalaku dengan lembut. Saat ini, bundaku masih pingsan, aku sangat khawatir dengan dirinya. Pasti dia sangat kelelahan sehingga darahnya rendah, dia lelah secara batin juga fisiknya karena diriku. Dan setelah itu, aku nekat menerobos pagar menuju rumah megah tanpa menghiraukan penjaga yang berusaha menghalau kedatanganku ke rumah megah itu. Aku hanya ingin bertemu bunda, aku hanya ingin memastikan bahwa bunda aku baik-baik saja. Hanya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN