Penjaga-penjaga itu tidak bisa lagi menahanku. Aku menebos masuk mencari keberadaan bunda. Aku lihat ada kedua kakakku di dalam kamar bunda juga ada samar bayang ayahku di sana. Aku berjalan pelan, lalu membuka pintu kamar bunda. Bunda belum sadarkan diri. "Keluar kau, Mika! Lihatlah hasil perbuatanmu! Bunda jadi begini!" Kak Vina menghardikku saat aku masuk ke dalam kamar. Apa memang perbuatanku? Apa begitu hinanya aku yang hanya datang ke dokter kandungan? Apa tidak boleh anakku mendapat hak yang sama seperti bayi lainnya? "Aku hanya ingin melihat Bunda." Suaraku terdengar bergetar hebat. Rasanya, persendianku pun lemas sekarang. Tetapi aku tetap mau bertahan. "Hanya aib dan keburukan yang bisa kau berikan kepada seluruh keluarga ini! Sampai beberapa teman bisnisku pun bertanya apa

