BAB 1- DERITA YANG TAK TERDUGA
Debu tipis beterbangan, saat Kalia Putri meniup ujung pensilnya. Layar laptop di depannya, menampilkan denah rumah sederhana yang belum juga selesai sejak tadi siang. Jam di dinding menunjukkan pukul enam sore, tapi ruangan kecil yang dijadikan kantor itu masih terasa panas dan pengap.
“Kal, kamu masih belum selesai juga?” Siska berdiri di sampingnya sambil membawa dua gelas kopi. “Serius, kamu harus berhenti. Kamu sudah hampir tumbang.”
Kalia menggeleng pelan, tanpa mengalihkan pandangan. “Deadline jam delapan malam. Kliennya cuma punya uang segini, tapi dia minta revisi terus.”
“Dia bahkan belum bayar DP penuh,” protes Siska. “Kalau kamu sakit, kantor ini malah berhenti total.”
Kalia tersenyum tipis. “Kalau aku berhenti, biaya listrik bulan ini juga berhenti dibayar.”
Siska terdiam. Ia tahu sahabatnya tidak bercanda. Kantor arsitektur kecil itu sudah dua minggu terlambat membayar operasional. Bahkan, kursi yang mereka duduki pun bekas dari kantor lama yang bangkrut.
“Kamu juga masih tanggung biaya rumah dan obat Ibu, kan?” tanya Siska pelan.
Kalia hanya mengangguk. Tangannya berhenti sesaat saat matanya jatuh pada foto keluarga di sudut meja. Senyum ayahnya di foto itu terlihat begitu hangat, jauh berbeda dengan kenyataan hidup mereka sekarang.
“Ayah pasti baik-baik saja,” gumamnya lirih.
Tiba-tiba, telepon kantor berdering keras. Siska yang paling dekat langsung mengangkatnya.
“Halo… iya… ini kantor Arsitek KPS…” suara Siska perlahan berubah. “Iya… sebentar… apa?!”
Kalia menoleh cepat. “Kenapa, Sis?”
Siska menutup telepon itu dengan tangan gemetar. “Kal… dari rumah sakit. Ayahmu… kena serangan jantung. Sekarang koma.”
Jantung Kalia seperti berhenti. “Apa?”
“Mereka minta keluarganya datang sekarang.”
Kalia langsung berdiri, kursinya terdorong ke belakang. Ia meraih tas tanpa mematikan laptop. “Aku ke sana.”
“Kal, tunggu, aku ikut”
Namun, Kalia sudah berlari keluar. Suara langkahnya menggema di lorong sempit sebelum akhirnya hilang.
Dua puluh menit kemudian, Kalia tiba di rumah sakit dengan napas terengah. Ia langsung melihat ibunya duduk di kursi luar ruang ICU, menangis dengan bahu bergetar.
“Bu…” Kalia memeluknya. “Ayah bagaimana?”
Ibu Mira menggenggam tangannya erat. “Ayahmu jatuh di kontrakan. Tetangga yang bawa ke sini. Dokter bilang… kondisinya koma.”
Pintu ICU terbuka. Seorang dokter perempuan keluar sambil membaca berkas.
“Keluarga Pak Sudarmanto?”
“Iya, Dok,” jawab Kalia cepat.
“Pasien mengalami serangan jantung, dan sempat kekurangan oksigen. Saat ini stabil, tapi masih koma. Kami perlu observasi intensif beberapa hari.”
Kalia menelan ludah. “Dok… berapa biayanya?”
“ICU sekitar lima juta per hari. Belum termasuk obat dan pemeriksaan. Jika perlu tindakan lanjutan, biayanya bisa puluhan juta.”
Kalia langsung pucat. “Lima… juta per hari?”
Dokter mengangguk. “Kami sarankan segera menyiapkan dana.”
Setelah dokter pergi, suasana hening. Kalia duduk lemas di kursi. Semua tabungannya hanya sekitar sepuluh juta. Itu bahkan tidak cukup untuk dua hari.
“Bu… kita masih punya apa?” tanya Kalia.
Ibu Mira menggeleng pelan. “Tidak ada. Kontrakan juga belum dibayar tiga bulan. Pemiliknya sudah menagih.”
Kalia menutup wajahnya. “Aku bisa pinjam bank…”
“Kita masih punya utang lama, Kal. Bank tidak akan mau.”
“Kita jual barang...”
“Barang kita tinggal sedikit.”
Kalia terdiam. Napasnya terasa berat. Waktu berjalan, tapi ia tidak punya solusi.
Langkah sepatu terdengar mendekat. Kalia mendongak.
Seorang pria tinggi dengan jas hitam berdiri di hadapannya. Rambutnya rapi, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Mata tajam itu langsung menatap Kalia.
Tubuh Kalia menegang. “Reza…?”
Reza Aditya mengangguk tipis. “Kalia Putri.”
Nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Kalia tajam.
“Aku datang untuk berbicara.”
“Kami tidak butuh apapun darimu.”
Reza tidak tersinggung. “Ayahmu memiliki utang dua puluh lima juta, pada perusahaan keluargaku. Kami berniat menagihnya hari ini.”
Kalia mengepalkan tangan. “Ayahku sedang koma.”
“Aku tahu.” Reza mengeluarkan amplop putih. “Karena itu aku membawa solusi.”
Kalia menatap amplop itu dengan curiga. “Solusi apa?”
“Kontrak pernikahan.” Reza menyerahkannya. “Jika kamu menikah denganku selama dua tahun, semua utang keluargamu lunas. Biaya rumah sakit ditanggung. Aku juga siapkan rumah baru untuk kalian.”
Kalia menatapnya tak percaya. “Kamu bercanda?”
“Aku tidak pernah bercanda.”
“Pernikahan bukan transaksi.”
“Untukku, ini transaksi yang efisien.”
Ibu Mira menatap Kalia dengan mata berkaca-kaca. “Kal…”
“Kamu gila, Reza,” ucap Kalia marah. “Setelah menghancurkan perusahaan ayahku, sekarang kamh mau membeli hidupku?”
Tatapan Reza tetap dingin. “Ambil atau tinggalkan. Kamu punya waktu satu hari.”
“Kalau aku menolak?”
“Perusahaan kami akan menempuh jalur hukum. Rumah kontrakan kalian mungkin ikut disita. Dan…” ia melirik pintu ICU, “…biaya rumah sakit, harus kalian tanggung sendiri.”
Kalia membeku.
Reza melangkah mundur. “Hubungi aku jika kamu setuju.”
Ia berbalik dan berjalan pergi tanpa menunggu jawaban.
Kalia menatap amplop di tangannya. Tangannya gemetar. Di dalam ruangan ICU, suara monitor detak jantung terdengar samar.
“Kal…” bisik Ibu Mira. “Ayahmu tidak punya waktu…”
Kalia menutup mata. Napasnya bergetar. Ia membuka amplop itu perlahan.
Di halaman pertama, tertulis besar:
KONTRAK PERNIKAHAN — DURASI DUA TAHUN
Syarat pertama langsung membuat napasnya tercekat.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi.
Wajahnya berubah pucat.
“Aku… harus tinggal serumah dengannya?” bisiknya.
Ibu Mira menatapnya cemas. “Apa lagi, Kal?”
Kalia tidak langsung menjawab. Matanya terus membaca baris berikutnya, dan detak jantungnya semakin cepat.
Di bagian bawah kontrak, ada satu klausul tambahan yang tidak ia duga sama sekali.
Tangannya berhenti.
Jika ia menandatangani ini… hidupnya tidak akan pernah sama lagi.