Viola berpaling, kesal dengan laki-laki yang ada di depannya. Kenapa dia bisa tahu kalau dia bekerja di sini, sih? Viola menoleh pada temannya. “Kalian duluan aja, ya, ke atas! Nanti aku nyusul. Aku harus bicara pada Bapak ini.” “Baiklah, jangan lama-lama, ya, Vio. Kamu mau pesan apa?” tanya Ira. “Pesan apa aja ga masalah. Aku nggak milih, kok!” sahut Viola, buru-buru melepas teman-temannya agar segera naik ke atas supaya ia bisa memarahi Richard. “Oke, kami tunggu di atas, ya!” Kedua sahabat baru Viola melambaikan tangan padanya, kemudian meninggalkan Viola bersama seorang laki-laki blasteran yang sedang menatap sendu pada Viola. “Satu kalimat saja yang harus aku katakan pada kamu. Jangan pernah temui aku lagi, mengerti!” Viola kemudian berbalik badan, tidak ingin berlama-lama lagi

