William yang juga ikut tersulut emosi, segera menarik tangan Vio, menghalanginya pergi. Apa hebatnya gadis itu hingga ia berani berbuat anarkis pada aset kesayangannya.
“Jangan munafik, Vio! Kamu suka disentuh laki-laki, kan? Jangan sok jual mahal biar aku penasaran, deh! Nggak mempan, tahu nggak?” seru William emosi.
Bagaimana tidak? Aset masa depannya ditendang seenaknya oleh wanita barbar itu. William tak terima. Masa casanova sepertinya dihajar gadis kecil ingusan?
“Bapak sinting! Terserah Bapak mau berpikir apa tentang saya. Saya tak peduli. Permisi!” ketus Vio lalu melangkah meninggalkan William dengan hati yang kesal.
Sementara William menyugar rambutnya kasar. Ia merasa terhina karena perlakuan Vio. “Dasar wanita b******k!” umpat William emosi. “Awas saja, aku pastikan menidurimu gadis kecil sialan!”
***
“Ren, mana Viola?” tanya Tio buru-buru setibanya di kantin perusahaan.
Pria itu harus segera menyampaikan pesan dari bosnya pada Vio. Lambat sedikit saja, sudah dipastikan bosnya akan mengamuk padanya.
“Vio diajak pak William ke rooftoop, Pak,” terang Renny cepat.
“Apa? William?” tanya Tio tak percaya.
Gawat! Tio harus segera melapor ke bosnya. Pria itu mengeluarkan ponselnya lalu menekan nomor bosnya sambil melangkah menyusul Vio ke rooftop.
“Bos, Viola diajak William ke rooftop dan sekarang saya sedang menyusul ke sana untuk menjemputnya.”
“Cepat bawa Viola kemari sekarang juga!!”
“Baik, Bos.” Tio segera menyimpan ponselnya.
“Wah, ini benar-benar gawat! Bos bakalan ngamuk ini,” gumam Tio cemas.
Tio bukan cemas karena takut pada Richard. Ia lebih takut Viola berhenti gara-gara dimarahi Richard nanti. Pria itu sudah terlalu mengerjakan tugas sekretaris di saat pekerjaan lain juga menumpuk.
“Semoga Viola tahan dengan sikap bos,” gumam Tio lagi.
Baru saja akan melangkahkan kakinya ke lift, Viola sudah melangkah ke arahnya dengan muka merah menahan marah.
“Ada apa, Viola? Apa yang terjadi sama kamu?”
Viola menarik nafas dalam lalu menghembuskannya cepat, berusaha menenangkan dan menetralkan emosinya, baru ia menjawab pertanyaan asisten Tio.
“Tidak terjadi apa-apa, Pak. Tadi saya cuma diserang buaya aja, kok. Tapi saya berhasil menendang aset buaya itu, makanya saya bisa bebas, Pak,” kata Viola masih menahan kesal.
Tio tahu maksud Viola. Wanita itu pasti sudah diganggu William barusan. Benar saja, sebentar kemudian William melenggang santai dengan wajah tanpa dosanya mendekati mereka lalu menyindir Viola.
“Kenapa, Tio? Ada yang mengadu, ya?” sindir William mencibir sinis ke arah Viola.
Viola memalingkan mukanya lalu segera pamit pada Tio tanpa menghiraukan William lagi. “Saya permisi, Pak Tio!” Viola melangkah cepat tidak menoleh lagi.
“Lo apain tadi, Viola?” tanya Tio spontan.
“Biasalah, gue kiss aja tadi, tapi balasannya dia tendang aset gue, sialan!” maki William kesal ketika ingat momennya dengan Viola di rooftop tadi.
Tio terkikik geli mendengar keluhan William. “Lo pantes digituin. Nekat amat nyium anak baru,” ledek Tio puas.
“Ya, gue kira dia sama kayak cewek lainnya. Di-kiss dikit aja pasti ujungnya ngikut gue ke hotel? Eh, yang ini rupanya barbar. Baru nge-kiss udah bonyok aset gue,” omel William sebal.
“Makanya jangan genit! Apalagi ini sekretaris bos. Kalo kerjaan Viola keganggu gara-gara lo, kita semua bakal diamuk bos, tahu lo?” Tio mengingatkan.
“Gue penasaran sama dia dan sekarang gue semakin penasaran dan tertantang buat dapetin dia semalam aja. Gue mau buktiin kalo dia ga akan tahan melawan pesona gue,” ujar William serius.
Tio geleng kepala. Apa tak ada target lain selain Viola? Bukannya wanitanya William banyak?
“Narsis amat, sih, lo! Gue yakin, Viola ga akan mudah lo taklukkan. Berusahalah dan siap-siap aja disemprot bos karena lo gangguin sekretarisnya!” Tio melangkah meninggalkan William tanpa menunggu jawaban lagi.
“Sialan! Main ngeloyor aja dia!” omel William kesal.
Di ruangan Richard, Viola baru saja sampai. Baru saja akan mengetuk pintu, suara menggelegar Richard sudah memekakkan telinganya.
“Kamu ke sini mau kerja apa godain laki-laki, hah?”
"Eh, itu, anu ....” Viola kaget hingga ia bingung harus menjawab apa.
“Kamu mau main-main, ya? Apa anu, itu, apa maksud kamu?” bentak Richard lagi.
Viola mengurut dadanya menenangkan detak jantungnya. “Saya tidak menggoda siapa-siapa, Pak.”
“Ngapain kamu ke rooftop sama William tadi?” tanya Richard ingin tahu.
“Dari mana bos tahu kalo aku habis dari rooftop bareng buaya sialan itu?” batin Viola heran. Terpaksa ia bicara jujur.
“S-saya dipaksa pak William, Pak,” aku Viola gugup.
Bukankah, bosnya dan William berteman? Viola takut nanti bosnya membela William atau yang terburuk mereka malah bertengkar karena dirinya. Viola jadi ragu memberitahu yang sebenarnya pada Richard bahwa ia tadi dicium paksa oleh William di rooftop.
“Kenapa dia maksa kamu dan kenapa kamu nggak melawan?” cecar Richard garang.
“Pak William menarik tangan saya hingga saya tak bisa menolak atau melarikan diri lagi, Pak. Tapi sungguh saya tidak ada niat menggoda pak William,” ucap Viola jujur.
Richard mengepalkan tangannya sambil membatin kesal. “Kurang ajar! Beraninya dia memegang tangan Viola.”
CEO tampan itu menekan nomor Tio di ponselnya lalu melangkah menjauhi Viola. “Tio, ceritakan yang terjadi tadi!”
“Viola di-kiss paksa oleh William di rooftop, Bos. Viola marah lalu ia menendang aset William.”
Hati Richard menggelegak panas. Ia mengonfirmasi sekali lagi. “Tahu dari mana kamu?”
“William sendiri yang mengaku dan memang tadi Viola begitu emosi ketika turun dari rooftop. Kemungkinan yang dikatakan William benar adanya, Bos”
“Apa lagi yang kamu tahu?” tanya Richard lagi.
“William menarget Viola, Bos. Minimal tidur satu malam sama saja karena dia mati penasaran pada wanita barbar macam Viola.”
Lagi, Richard menggeram kesal. “Kurang ajar dia! Sepertinya aku perlu hajar dia biar dia jera.”
“Tapi, Bos. Kok, bos marah-marah karena Viola?”
“Berisik! Bukan urusanmu, kerja lagi sana!”
Richard menutup panggilannya sepihak. Ia kesal setengah mati dengan info dari Tio barusan. Ia menatap Viola dari atas ke bawah lalu berhenti di bibir Viola yang merah merekah.
Tanpa ia sadari, ia menelan salivanya sendiri dan begitu ia teringat bibir merah itu baru saja dijamah William, ia tiba-tiba saja naik darah.
“Kenapa si b******k itu mencium bibir itu? Dasar William Sialan!” batin Richard marah.
“Cuci mulut kamu sana!” Bentak Richard emosi.
Jantung Viola berdetak kencang mendengar bentakan Richard. “Apa, presdir tahu aku habis dicium buaya darat? Apa bibirku bengkak? Apa lipstikku berantakan?” batin Viola bingung.
“Kenapa harus dicuci, Pak?” tanya Viola memastikan. Ia tak menyangka kalau akhirnya akan mendapatkan bentakan berikutnya.
“Lipstikmu belepotan. Memalukan! Kita mau meeting sore nanti. Jaga penampilan bisa nggak, sih?” semprot Richard kasar.
Ia kesal dan marah bibir Viola disentuh William. Richard tak mengerti kenapa ia marah. Yang jelas membayangkan bibir itu habis dilumat William sungguh membuatnya emosi.
“Baik, Pak,” jawab Viola lalu buru-buru pergi ke toilet untuk membenahi riasan wajahnya. “Jantung, yang kuat, ya!” bisiknya dalam hati.
Viola tak henti-hentinya terkejut dan berdebar kencang saat dibentak keras dan bertubi-tubi oleh presdirnya tadi. Ternyata begini sifat sang atasan. Wajar saja para seniornya selalu mewanti-wantinya agar sabar menghadapi kasarnya Richard. Ternyata selain kasar, ia juga moody dan tak bisa ditebak.
“Astaga! Kalau saja tidak ingat gajinya besar, rasanya pengen resign aja, sumpah! Lama-lama telingaku tuli dan jantungku lemah dibentak begini terus-terusan,” gumam Viola sebal.
Gadis cantik itu lalu memulas lagi lipstik berwarna peach di bibirnya. Saat Viola melihat bibirnya di cermin, ia teringat lagi saat William menciumnya tadi. Kurang ajar! Beraninya pria menciumnya secara paksa. Terbukti, bahwa laki-laki hanya punya nafsu. Cinta hanya kamuflase untuk menyalurkan nafsu mereka saja.
“Cih! Cinta sejati? Omong kosong! Sampai kapan pun aku tak akan mempercayai cinta lagi,” batin Viola geram lalu bergegas keluar dari toilet, kemudian kembali masuk ke ruangan presdir Richard.
“Kerjakan dokumen di atas meja sampai selesai! Jangan pernah ke mana-mana selagi semua itu belum selesai!” titah Richard sengaja ingin mengurung Viola di ruangannya.
Melihat dokumen yang menumpuk di atas meja Richard, Viola membelalak tidak percaya. Apa mungkin selesai hingga larut malam kalau dokumennya setinggi gunung begitu?
“Tapi, Pak, itu tak mungkin selesai sebelum meeting jam 3.00 nanti?” Viola protes pada presdirnya.
CEO garang itu melotot tajam lalu kembali membentak Viola. “Jangan membantah! Kamu mau kupecat? Siapa yang CEO di sini? Kerjakan apa yang kuperintahkan. Ketika meeting nanti baru kamu tinggalkan dan sambung besok hari. Paham!”
“Baik, Pak,” jawab Viola menahan degup jantungnya yang tidak pernah tidak kaget saat dibentak-bentak oleh sang atasan.
Gila! Richard sudah benar-benar gila. Namun, apa yang bisa Viola lakukan selain menuruti perintah presdirnya. Gadis itu menghela nafas berat lalu bergegas menarik kursi dan segera duduk, bersiap memeriksa dokumen di meja Richard sambil bersungut-sungut menahan kesal.
Richard yang masih kesal perihal bibir yang dijamah William, masih belum bisa menetralkan emosinya. Kala ia melihat bibir Viola, ia langsung membayangkan William memagut bibir Viola penuh hasrat. Seketika itu pula ia naik darah.
Sepertinya beberapa hari ke depan ia akan terus uring-uringan begini dan melampiaskan kemarahannya pada sekretarisnya. Itu karena bibir sialan itu akan selalu ia lihat ketika ia berinteraksi dengan Viola dan Richard pastikan akan selalu kesal ketika mengingat tragedi bibir itu dalam waktu yang lama. Sambil menatap wajah Viola dari mejanya, Richard membatin sendiri dalam hatinya.
“Apa yang terjadi padaku, sebenarnya? Kenapa aku begitu marah gara-gara insiden bibir sekretarisku ini?”
Bersambung...