Sumpah Viola

1243 Kata
Meeting dengan para manajer sudah selesai dilaksanakan. Viola begitu lelah. Ia benar-benar ingin pulang mengistirahatkan tubuhnya. Hari ini bukan hari keberuntungannya. Bagaimana tidak, Sudah dicium paksa buaya darat, ia juga dibentak-bentak oleh presdir galak. Tak sampai di situ saja, ia bahkan harus mengerjakan dokumen setinggi gunung yang pastinya akan butuh waktu berhari-hari baru selesai. Sungguh hari yang benar-benar menyebalkan bagi Viola. “Vio, ayo pulang bareng aku! Kita mampir dinner dulu, oke!” ajak Ricky tersenyum ramah. Ricky juga ingin menanyakan soal siang tadi. Ia ingin menanyakan apa yang Vio bicarakan dengan pak William. Pria itu sebenarnya kesal Viola ditarik tangannya di depan matanya. Namun, karena di kantor itu jabatan William lebih tinggi darinya, akhirnya ia tak bisa berbuat apa-apa. Viola tersenyum. Ia memang butuh penyegaran. Sepertinya berbincang dengan Ricky akan membuatnya lega. Namun, baru saja akan mengiyakan ajakan Ricky karena ia juga memang teralu lelah untuk menyetir saat ini, tiba-tiba suara presdir terdengar di telinganya. “Mau ke mana kamu?” bentak Richard di depan Ricky dan staf lainnya. “Mau pulang bareng pak Ricky, Pak. Saya terlalu lelah untuk menyetir, jadi mobil mau saya tinggal aja di kantor?” jawab Viola jujur sambil menekan debaran jantungnya. Biar bagaimana pun juga, Vio belum terbiasa mendengar bentakan demi bentakan yang selalu dilakukan atasannya itu. “Kata siapa kamu boleh pulang? Kamu lembur hari ini! Makan malam denganku saja terus lanjut lembur sampai jam 9.00 malam,” seru Richard tak mau dibantah. Mata Viola membelalak. “Apa, Pak?” Di hari pertamanya resmi bekerja, masa dia harus lembur sampai jam 9.00 malam? Yang benar saja? “Kamu tuli?” tanya Richard balik bertanya. “Aissh, sial!” maki Viola dalam hati. “Baik, Pak.” Dengan berat hati ia mengiyakan permintaan presdirnya. Dirinya sudah begitu lelah saat ini. Namun, apalah daya kalau presdir sudah berkehendak. Richard membatin puas. “Enak saja mau dinner dan pulang bersama bawahanku setelah membuatku kesal karena insiden bibirmu dengan William sialan itu. Akan kupastikan kamu selalu berada di dekatku dan tak akan kubiarkan seorang pun berkesempatan mendekatimu.” “Ikut aku sekarang! Kita dinner dulu baru kembali lagi kemari,” ajak Richard tegas. “Baik, Pak.” Dengan gontai, Viola melambaikan tangannya pada Ricky lalu mengikuti Richard dari belakang. Ia benar-benar lelah. Apa presdir sialan itu tidak bisa lihat, kalau ia benar-benar lelah. Mereka akhirnya sampai di mobil Richard. Viola segera membuka pintu dan mempersilahkan Richard masuk. Namun, sang presdir masih bergeming. Viola heran. Ia lalu memberanikan diri menatap mata presdirnya. “Kamu lelah, kan?” tanya Richard serius. Viola tergagap mendapatkan pertanyaan tiba-tiba dari sang presidir. “S-saya ... tidak, Pak. Saya tidak lelah.” “Matamu tidak bisa berbohong. Kamu lelah. Biar aku yang menyetir. Kamu masuk sana! Duduk yang tenang!” perintah Richard sedikit menurunkan nada suaranya. Viola mematung, tak percaya kalau presdirnya bisa begitu perhatian padanya. Ia buru-buru menyadarkan dirinya dan segera masuk ke dalam mobil sebelum bosnya berubah pikiran. Richard tersenyum tipis melihat tingkah sekretarisnya. Ia kemudian naik lalu mengemudikan mobilnya menuju restoran terdekat. Pria tampan itu berniat mengajak Viola makan malam dan mengantarnya pulang. Lembur tadi hanya alasannya agar Viola batal pulang bersama Ricky. Hening, tak ada percakapan apa pun di sepanjang perjalanan, padahal ia tahu sekretarisnya itu tipikal wanita yang banyak bicara dan itu membuat Richard heran. Laki-laki blasteran itu sontak menoleh ke samping dan mendapati melihat Viola tertidur dengan lelapnya. “Dia pasti begitu lelah mengerjakan semua yang kuperintahkan tadi,” gumam Richard sambil terus mengendarai mobilnya dengan pelan. Sampai akhirnya, Richard sampai di parkiran restoran. Ia menatap lekat wajah lelap Viola dan tak tega membangunkannya. “Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku begitu peduli pada gadis ini?” gumam Richard pelan. CEO tampan itu membelai kepala Viola lalu menyibak rambut yang menutupi mata dan wajahnya sambil menatapnya dalam. Ada debaran halus yang menyapa hatinya saat ia menatap, membelai dan menyentuh kulit wajah Viola. Ia tak bisa memalingkan wajahnya dan terpaku menatap ke arah wajah Viola. Tatapannya lalu turun ke bibir Viola. Sungguh bibir yang sangat indah, merah dan begitu menggoda. Tiba-tiba bayangan William melumat bibir itu melintas di pikirannya. Seketika itu juga ia marah dan kesal, membuatnya refleks membangunkan Viola dengan suara kerasnya. “Bangun! Aku bukan sopirmu, kita sudah sampai,” seru Richard garang. Hatinya panas saat melihat bibir yang sudah dicicipi oleh sahabatnya tadi siang. “Eh, maaf, Pak!” Viola sontak terbangun dan terkejut mendengar suara Richard. “Kita di mana, Pak?” “Kita di restoran. Buruan keluar atau aku tinggal, mau kamu?” sentak Richard meluapkan kekesalannya lalu keluar dari mobilnya begitu saja menahan bara panas di dalam hatinya. Vio pun buru-buru mengikuti langkah Richard dan menyejajarinya. Richard menoleh sekilas pada Vio lalu bertanya. “Kamu mau makan apa?” “Apa saja, Pak. Terserah Bapak,” jawab Viola singkat. Ia langsung membantu menarik kursi untuk sang presdir ketika sampai di meja yang sudah dipesan Richard lalu ikut duduk di hadapan sang atasan. Setelahnya, Viola menunduk. Ia tidak berani menatap wajah garang presdirnya saat ini. Dalam hati ia bertanya-tanya, ada apa dengan mood presdirnya hari ini? Vio tidak merasa melakukan kesalahan, tapi kenapa Richard marah-marah terus sejak tadi siang “Kita makan steak saja, gimana?” tanya Richard datar. “Baik, Pak,” jawab Vio sekenanya. Ia benar-benar berharap dinner ini cepat selesai agar ia bisa segera lagi dari kecanggungan ini. Sesaat kemudian, pesanan sudah terhidang di atas meja. Vio menunggu tawaran dari presdirnya. Namun yang terjadi, sang presdir mulai menyantap hidangannya tanpa menawarinya lagi. “Dasar bos sialan!” Viola tak bisa tidak memaki presdirnya dalam hati karena sudah benar-benar keterlaluan. Masa bodohlah, Viola akhirnya memutuskan makan saja dengan cepat, tak menghiraukan presdirnya lagi. Kenapa ia harus repot menyapa, kalau bosnya sendiri tidak mau bicara? “Sudah selesai makannya?” tanya Richard dingin seusai menyantap makan malamnya “Sudah, Pak,” sahut Vio tak kalah dinginnya. Richard beranjak dari kursinya. “Ayo, kita pergi dari sini!” Gadis cantik itu mengangguk lalu mengikuti sang atasan meninggalkan restoran menuju parkiran. “Di mana rumah kamu?” tanya Richard menoleh pada sang sekretaris yang baru saja memakai sabuk pengamannya. Vio menatap Richard dengan sorot heran. “Kenapa Bapak tanya alamat saya? Bukankah kita mau balik ke kantor, Pak?” “Oh, jadi kamu mau balik ke kantor?” Lagi, Richard balik bertanya. Viola menggelengkan kepalanya. Kenapa begitu sulit berkomunikasi dengan kulkas ini, pikirnya. “Bukan begitu, Pak. Jadi saya boleh pulang, ya, Pak?” “Berisik! Jawab saja pertanyaaku! Tidak usah balik tanya?” omel Richard sewot. “Maaf, Pak. Saya pulang ke apartemen Basillica.” Vio menjawab singkat. Ia takut kena semprot lagi kalau banyak bertanya. Dalam hatinya ia tak habis pikir. Kok, ada orang menyebalkan seperti presdirnya itu. Richard tak merespons apa pun lagi. Ia langsung melajukan mobilnya ke apartemen Viola. Tak berapa lama, mereka pun sampai. Vio bergegas keluar dari mobil dan mengucapkan selamat jalan pada presdirnya. “Selamat jalan, Pak. Terima kasih sudah mengantar saya.” Richard bergeming. Ia menatap sekilas pada Viola lalu menutup jendela mobilnya, kemudian berlalu begitu saja tanpa kata meninggalkan Vio yang merasa keki setengah mati. “Bos sialan! Berengsek! Ga ada akhlak!” maki Vio berkali-kali. Hatinya begitu kesal diacuhkan begitu saja. Andai Richard bukan bosnya, pasti sudah ia beri pelajaran presdirnya itu. Tiba-tiba timbul doa jahat dalam hatinya. “Aku sumpahin biar kamu bucin setengah mati padaku dan aku akan gantian cuekin kamu sampe kamu jungkir balik hingga mampus, tunggu saja!” cetus Vio kesal. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN