“Apa presdir sudah gila semalam, pake nawarin apartemennya segala. Sialan! Emang aku pengemis apa, pake acara dikasihani segala,” omel Viola kesal. Ia baru saja selesai mengeringkan rambutnya dan bersiap akan pergi ke kantornya, tapi mendadak suara bel berbunyi beberapa kali, memaksanya membuka pintu dengan berbalut handuk saja. “Siapa sih, pagi-pagi begini sudah bertamu? Jangan-jangan Tommy!” gumam Vio buru-buru membuka pintu. Begitu pintu dibuka, baik Vio mau pun Richard membelalak kaget. “Apa yang Anda lakukan di apartemen saya sepagi ini, Pak?” tanya Viola spontan. Ia lupa kalau saat ini tengah memakai handuk saja saat ini dan Richard benar-benar ternganga melihat tubuh mulus Viola di depan matanya. Ia bahkan tidak bisa berkedip dan berkata apa-apa lagi selain menelan salivanya be

