“Aku heran,” gumam Arka saat makan malam. “Kenapa kamu begitu sabar?”
Kirana meletakkan sendok perlahan. “Karena aku tahu ini cuma sementara. Dan aku juga gak ingin membenci orang yang bahkan belum aku kenal sepenuhnya.”
Kalimat itu menghantam Arka pelan. Ia menatap gadis di hadapannya itu bukan dengan tatapan dingin seperti biasa, tapi dengan rasa ingin tahu yang tulus.
**
Hari-hari selanjutnya terasa sedikit lebih ringan. Arka mulai pulang lebih awal. Kadang mereka makan bersama, walau masih dalam diam. Tapi diam itu kini tak setegang sebelumnya.
Kirana juga mulai sibuk dengan hobi memasaknya. Arka pernah mencicipi roti buatannya, lalu diam-diam menyimpan sisanya di kulkas.
Namun, sebuah pesan masuk ke ponsel Arka malam itu.
Dari: Naya
“Jadi kamu benar-benar menikah? Arka, kamu gak bisa lari dari masa lalu kita. Aku akan datang.”
Kirana melihat ekspresi Arka yang berubah saat membaca pesan itu. Dingin kembali menyelimuti wajahnya. Hatinya menegang.
Siapa Naya?
**
Keesokan paginya, Kirana mendengar Arka bicara lewat telepon di halaman belakang.
“Naya, jangan muncul lagi. Pernikahan ini urusanku.”
Kirana berbalik, pura-pura tidak mendengar. Tapi hatinya sudah mulai gelisah.
Kontrak ini awalnya tanpa hati. Tapi sekarang, kenapa rasanya seperti ada yang harus dia pertahankan?