Pagi itu, Rumah Lia dipenuhi aroma roti panggang dan tawa kecil anak-anak. Kirana membantu di dapur, Mitha masih diam namun sudah tak menolak saat diberi tugas ringan oleh bu Ningsih—mencuci wortel, menata piring, atau membuang sampah ke belakang. Ada perubahan. Perlahan, tapi nyata. Rafael duduk di beranda, menikmati secangkir kopi hitam yang masih mengepul. Tangannya memegang gelang pemberian Kirana. Di antara semua kemewahan hidup yang pernah ia punya—jam tangan mahal, mobil sport, rumah-rumah mewah—gelang itu terasa paling berharga. Sebab ia mengikatkan sesuatu yang selama ini hilang dalam hidupnya: harapan. “Bapak Rafael,” suara Kirana terdengar ceria, “hari ini kita mau ajarin anak-anak bikin origami, ya? Aku udah siapin kertas warna-warni!” Rafael tersenyum. “Ide bagus. Tapi kamu

