Mentari pagi menyapa pelan dari balik jendela kaca Rumah Lia. Sinar keemasannya menelusup masuk, menerangi sudut-sudut ruang terapi yang masih sepi. Di salah satu bangku panjang yang menghadap taman kecil, Rafael duduk diam, membiarkan angin membelai wajahnya. Di tangan kirinya, tergenggam secarik foto kusam—foto dirinya bersama Lia, yang diambil diam-diam oleh salah satu anak binaan dua tahun silam. Wajah Lia dalam foto itu tampak penuh tawa. Matanya memandang Rafael, dan Rafael tahu betul... itu pandangan yang hanya diberikan Lia padanya. Pandangan yang tak bisa tergantikan oleh siapa pun, tak bisa dibeli, apalagi diulang. Namun pagi ini, pandangan itu hanya tinggal kenangan. Sebuah fragmen dari masa lalu yang tak bisa dikunjungi kembali, sekalipun Rafael ingin menukarnya dengan separu

