Bayang-Bayang Tak Pernah Pergi Kehidupan di Rumah Lia Cabang Selatan berjalan lebih tenang. Anak-anak mulai mendekat ke Iksan. Bahkan Sekar memberinya gambar tangan berwarna-warni bertuliskan: > “Ini tangan yang suka nolong. Terima kasih, Om Iksan.” Namun dalam diam, Iksan gelisah. Setiap malam ia terbangun karena mimpi buruk. Wajah Reyhan tahu benar ekspresi itu—ekspresi seseorang yang sedang dikejar bayangan yang belum selesai. Sampai suatu sore, seorang pria bertubuh kekar dan berleher bertato muncul di gerbang Rumah Lia. Ia mengenakan jaket kulit hitam, wajahnya keras dan menyeringai sinis. > “Wah... jadi ini tempat lo ngumpet, San?” Iksan membeku di tempat. Reyhan, yang sedang menyapu halaman, mendekat pelan. > “Ada yang bisa saya bantu?” > “Saya cuma... kangen sa

