Bab 89

1294 Kata

Pria Bernama Iksan Hari itu, Rumah Lia Cabang Selatan kedatangan tamu tak biasa. Tubuhnya kurus kekar, kulit legam terbakar matahari, dan tatapannya tajam meski penuh waspada. Ia berdiri di depan gerbang selama dua puluh menit sebelum akhirnya Saras membukakan pintu. > “Maaf, bisa dibantu?” tanya Saras. > “Saya... cari Reyhan,” ucap pria itu, suaranya dalam dan serak. Reyhan keluar dari aula, menatap pria itu dengan alis mengernyit. > “Iksan?” gumamnya, nyaris tak percaya. Iksan, teman lama Reyhan semasa kelam—sesama anak jalanan yang kemudian terlibat dalam jaringan narkoba. Tapi berbeda dengan Reyhan yang keluar dan membangun hidup baru, Iksan menghilang selama bertahun-tahun... dan kini muncul dengan luka lama di matanya. ** Permintaan Tak Biasa Mereka duduk di serambi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN