Tamu Tak Diundang Tiga hari setelah kunjungan ke Nusakambangan, suasana Rumah Lia mulai kembali tenang. Anak-anak kembali tertawa di taman, para mentor sudah mulai menyusun ulang catatan pasca-kebakaran ruang arsip. Tapi pada siang yang lembap dan kelabu, sebuah mobil sedan hitam berhenti di gerbang utama. Seorang pria keluar. Usianya sekitar tiga puluh lima, berkacamata, berpakaian rapi, dan membawa koper kulit mahal. Namanya: Arvino Darmawan. Ia memperkenalkan diri kepada staf administrasi: > “Saya utusan dari keluarga mendiang Alfonso Morales—ayah biologis anak bernama Damar. Saya datang untuk membicarakan hak waris dan kemungkinan pemindahan asuh secara hukum.” ** Kejutan yang Menyesakkan Saras langsung memberitahu Reyhan. Dalam lima menit, Reyhan sudah berdiri di hadapan Ar

