Bab 74

1512 Kata

Bayang-Bayang yang Menempel di Langkah Sejak kembali dari Surabaya, Dito berubah. Ia tidak lagi aktif seperti dulu. Biasanya ia yang paling dulu datang ke ruang makan pagi-pagi untuk bantu Mbak Sari menyiapkan sarapan. Sekarang, ia datang paling akhir. Kadang bahkan tidak makan. Di ruang belajar, ia hanya menatap kosong ke buku. Di halaman belakang tempat biasa ia dan Salsa menanam bibit, ia kini hanya menyiram air tanpa bicara. Anak-anak lain mulai bertanya-tanya. > “Kak Dito kenapa, sih?” > “Apa dia marah sama kita?” Salsa melihat perubahan itu lebih jelas dari siapa pun. Ia mencoba menyapa, tapi Dito hanya membalas singkat, atau kadang tidak sama sekali. Hingga suatu sore, saat semua anak sedang di aula, Salsa menemui Dito yang sedang duduk sendirian di tangga belakang. &g

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN