ch.6

632 Kata
Pagi yang cerah menyinari bumi, secerah hati Alena yang serasa berbunga-bunga. Sesampainya di hotel delux ia terperanjat kaget, Kenapa banyak sekali mobil-mobil mewah bertengger di area parkir? Tidak seperti biasanya, apakah ada tamu penting hari ini? Gumamnya di dalam hati. Alena memasik ruang ganti, “Linda... hotel ramai sekali apakah kita kedatangan tamu istimewa?” tuturya sembari menguncir satu rambut panjangnya. “Tamu?” menatap Alena dengan bingung. Alena mengangguk dengan begitu polosnya, “Hm...” “Kau sungguh tidak tahu?” “Tidak.. memangnya ada apa?” “Hari ini tuan muda Jimmy akan bertunangan..” “Apa?” sungguh saat itu juga hatinya terkejut, bola matanya membulat dnegan sempurna, “Ber.. bertunangan?” ucapnya dengan lirih. Linda mengangguk, “Hm... apakah kita harus memberinya hadiah?” “Entahlah.. tapi apakah menurutmu dia mau menerima hadiah dari pelayan seperti kita?” *** Semua tamu undangan mengisi daftar tamu hingga antrean mereka tak terbendung, setelahnya satu persatu tamu undangan masuk kedalam indoor mewah. Jimmy menyematkan cincin di jari manis kiri Niken, begitu juga sebaliknya. Raut wajah bahagia Niken tak dapat di sembunyikannya, namun Jimmy enggan berkomentar apapun. Media pers hendak mewawancarai mereka namun Jimmy tetep menolak keinginan mereka dengan tegas, “Jika kau ingin.. kau saja.. aku lelah.. aku ingin istirahat..” Segera Jimmy masuk kedalam lift dan menuju ke kamar pribadinya, merebahkan tubuh di atas ranjang dengan rileks sungguh membuatnya nyaman. Tiba-tiba saja wajah Alena terlintas di dalam benaknya, membuatnya berdecak kesal. “Sial!!” “Kemarilah... aku menginginkanmu!” pesan terkirim. Drrt... drrt... ponsel Alena bergetar segera ia membukanya, Tuan muda? Bukankah dia sedang bertunangan? Kenapa malah memintaku untuk menemuinya? “Maaf tuan.. saya masih bekerja, mohon tunggu jam istirahat karyawan..” pesan di terima. Hm? Berani sekali dia menolakku? Jimmy tak bergeming, ia kembali merebahkan tubuhnya dan menutup mata sejenak. Lagi-lagi ia teringat akan adegan percintaan panas mereka, hanya Alena.. hanya Alena lah yang mampu memenuhi hasratnya. Wanita pertama yang ia tiduri, wanita pertama yang ia renggut kesuciannya. Jam istirahat para karyawanpun tiba, sesuai dengan janji segera Alena menemuinya di kamar pribadi Jimmy. Tok.. tok.. Perlahan Alena membuka pintu dengan hati-hati, melangkah mendekatinya yang sedang tertidur. Alena duduk di tepi ranjang, memandang dalam pada Jimmy membuatnya sulit menelan saliva. Tidak.. ini tidak benar, jantungku.. jantungku kenapa berdebar begitu kencang?! Segera ia menggeleng, menepuk-nepuk pipinya, Aku tidak mungkin menyukainya.. tuan muda sudah memiliki tunangan.. aku harus segera pergi sebelum dia bangun.. Belum sempat sepasang kaki itu berdiri tegak dengan cepat Jimmy menarik tangan Alena dan membuatnya terjerembab jatuh tepat di atas tubuh Jimmy. Tatapan mereka saling beradu pandang, “Berani sekali kau menolakku..!!” tegas Jimmy dengan wajah datarnya. “Ti.. tidak tuan.. bukan begitu..” Meraba tubuh Alena dan membuatnya menggeliat, “Tuan...” panggilnya lirih. “Hm..? bukankah seharusnya kau memberiku sebuah hadiah..” “Hadiah..?” apa.. dia ingin hadiah apa dariku? “Layani aku hingga puas.. se..ka..rang..!!” “Tidak!” dengan tegas Alena menolak dan menyingkir dari atas tubuh Jimmy. “Kau sudah berani menolakku?” “Tuan.. bukankah anda sudah bertunangan? Anda bisa melakukannya dengan tunangan anda, bukan?” “Hm...?” menyipitkan mata, menatap tidak suka, “Ya.. kau benar aku memang sudah bertunangan.. tapi aku tidak mungkin menidurinya.. kami belum menikah.. berbeda denganmu yang sudah tidak suci lagi.. jadi.. jangan berlagak sok suci kau!” “Aaah!!!” Hempasan tangan Jimmy begitu kuat dan kini pria dingin itu sedang menindihnya, “Tuan jangan.. kumohon..” Cih! Sudah sering melakukannya denganku.. masih berlagak suci.. lihat saja bagaimana caranya aku memperkosamu hari ini, “Kau bahkan tak ada bedanya dnegan w***********g!” Hah?! Ja.. jalang? Sungguh satu kalimat membuatnya begitu terpukul, bukan keinginan Alena untuk menjadi wanita seperti itu. Air matanya mengalir begitu saja seiring hentakan demi hentakan kuat yang menghujani kewanitaannya. -------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN