*Samudera POV*
"Udah, jangan diliatin mulu adek gue. Gimana? Cantik kan? Gemesin," ucap Riani bersemangat.
Sial! Aku tertangkap basah memperhatikan Diani.
"Adek lo beneran umur dua puluh sembilan tahun? Gue kira udah berubah, ternyata ngambekannya masih sama," timpalku sambil tertawa geli yang sebenarnya ku buat-buat.
Aku berniat pulang karena tak enak hati dengan Diani. Mungkin Diani hanya ingin bersama kakaknya dan aku mengganggu mereka. tapi, Riani melarangku.
Tak berapa lama setelah itu, Diani keluar dari kamar mandi. Aku memang merasa diperhatikan sejak ia melangkah menuju sofa dibelakangku. Aku berpura-pura menyamankan diriku sekedar untuk bisa mencuri pandang pada Diani.
Aku tahu beberapa kali ia memandang ke arahku dan Riani secara terang-terangan. Hingga godaan Riani sepertinya membuat adiknya tak nyaman dan memilih untuk keluar dari ruangan itu.
“Adik lo butuh waktu berduaan doang deh sama lo, Di.”
“Iya, kayaknya. Dia malu mungkin sama lo,” jawab Riani dengan kekehan kecil.
Kutanggapi ucapannya hanya dengan anggukan. Aku pun beranjak membereskan barang-barang yang aku bawa tadi.
“Gimana Sam? Lo bisa kan jaga adik gue? Adek gue semenggemaskan itu lho!” ucap Riani sudah mirip orang yang melakukan promo. Membuatku hanya menanggapinya dengan senyuman tipis.
Setelah semua barang sudah aku rapikan, aku kembali menuju ranjang Riani. Mengatur ranjangnya lagi dalam posisi tidur. Membenarkan letak bantal di sekitarnya agar dia merasa nyaman. Merapikan anak-anak rambut di sekitar wajah Riani agar dia tak risih. Juga memperhatikan kembali wajahnya untuk memastikan tak ada sisa makanan atau apapun yang menempel di wajahnya.
Sesekali aku menemukan tatapan risih Riani. Tapi aku tak peduli. Aku mengecek kembali keadannya demi kenyamannnya. Bukan karena hal lain.
“Gue balik dulu dan besok gue belum tentu bisa kesini. Soalnya mau ada persiapan rapat untuk yayasan baru itu,” pamitku pada Riani.
“Sam!” panggilnya sebelum aku sempat berbalik.
Aku memandang Riani lekat. Ku kunci perhatianku agar bisa mendengarkan dengan baik apa keinginannya.
“Sam, lo gak lupa sama janji lo untuk jaga Diani kan? Lo udah ketemu sama Dia. Diani gak buruk kan? Tolong—”
“Iya, Ri. Gue inget. Lo gak terburu-buru kan? Kita masih perlu kenalan. Lo pikir ini drama korea, komik, novel yang bisa langsung nikah gitu aja. Lo kasih kita waktu ya, buat saling kenal. Hari ini aja, bahkan gue gak sempat ngobrol apapun sama dia,” jelasku memotong kata-katanya.
“Gue bakalan usahain bagaimanapun caranya, supaya kalian bisa cepet deket.”
Aku hanya menggeleng mendengar ucapannya.
“Ya udah, gue balik ya. Jangan lupa makan sama minum obat,” ucapku sambil membelai lembut kepalanya.
Setelah aku menutup dan kuamati sekitar. Ternyata Diani sedang asyik memandangi ponselnya. Ia duduk dengan tenang di salah satu sudt taman, Sambil sesekali ia mengerucutkan bibirnya dan seperti mengomel tak jelas. Aku tertawa lirih melihatnya.
Diani seolah masih tak beranjak dari jiwa tujuh belas tahunnya. Bedanya, tak ada lagi kacamata melingkar di wajahnya. Sehingga ekspresinya kini makin bisa dilihat dengan jelas tanpa penghalang.
Aku melangkahkan kakiku ke arahnya. Mengambil tempat duduk disebelahnya. Tapi, sepertinya ia terlalu fokus dengan permainan di ponselnya. Aku kembali terkekeh melihat permainan perang yang dimainkan Diani. Sifat menggemaskannya sangat kontras dengan permainan yang ia mainkan.
“Di,” sapaku mencoba menginterupsinya.
“Eh, pak.” Diani buru-buru mematikan layar ponselnya dan menyimpannya di saku.
Pak? Dia memanggilku bapak? Aku setua itu? Aku jelas tak terima dipanggil Bapak olehnya. Enak saja!
“Kamu panggil saya Bapak?” tanyaku tak suka.
Diani hanya mengerjapkan matanya berulang dan itu terlihat lucu. Mungkin dia bingung. Kemarahanku jadi menguap entah kemana.
“Saya seumuran sama Kakak kamu. Masa kamu panggil saya Bapak,” protesku sambil mengalihkan pandanganku. Aku tak akan kuat menatap Diani lama-lama. Bisa-bisa tanganku mencubit gemas pipinya yang terlihat halus itu.
“Panggil apa dong, Pak?” tanyanya polos.
“Terserah. Asal jangan, pak. Oh iya, saya mau pamit dulu. Senang bertemu dengan kamu lagi Diani,” ucapku sambil mengulurkan tangan.
Diani menyambut uluran tanganku sambil mengangguk.
“Makasih, Pak. udah temenin Kakak saya.”
“Panggil saya Mas aja, gimana? Saya berasa tua banget kamu panggil Bapak dari tadi,” usulku yang aku yakin wajahku sudah terpasang wajah tak enak dipandang.
Diani menatapku aneh hingga ekspresi wajahnya membuatku tak sanggup untuk menahan tawa. Aku segera beranjak dari tempat dudukku. Mengusap lembut puncak kepalanya.
“Balik dulu ya, Di. Inget manggilnya, Mas!” ancamku.
“I— iya Ma— Mas,” ucapnya terbata.
Aku tersenyum mendengar panggilannya. Aku pun segera beranjak meninggalkan DIani.
"Gila, sih. Untung cakep. Main usap-usap aja," gerutu Diani yang aku tak tahu, dia sengaja melakukannya atau tidak higga masih bisa terdengar oleh telingaku. Tapi nada ketusnya membuatku tersenyum lebar. Dia masih saja tak berubah. Masih galak dan menggemaskan saat masih menjadi siswi SMA.
Entah mengapa hal itu membuat Langkah kakiku ringan. Tak ku sadari bahwa senyumku mengembang sepanjang jalan menuju ke tempat parkir.
***
*Autor POV*
Diani memasuki ruang rawat Kakaknya dengan menggerutu lirih.
"Mana ada tampang bule gitu minta dipanggil, Mas. Ih, bikin geli. Apa-apan sih dia. Sok akrab."
"Kamu kenapa dek?" tanya Riani dengan senyum teduhnya. Sebenarnya ia dapat mendengar dengan jelas dumelan Diani. Tapi, jika sedang berdua seperti ini Riani memang tak lagi seheboh ketika ada Samudera. Ia terlihat lebih tenang.
"Gak apa-apa kok. Kakak udah makan?" tanya Diani mengalihkan pembicaraan.
Ia berjalan mendekat ke arah dimana ia menyimpan roti. Mengambil beberapa lembar roti lalu mengoles dengan selai nanas kesukaannya. Tak lupa selai kacang untuk Kakaknya walaupun tampaknya tak ada jawaban dari pertanyaannya tadi.
"Samudera gak menua ya, Di. Dia masih aja ganteng, walaupun ya agak sedikit berantakan karena gak ada yang ngurusin. Jadi berjenggot. Kamu tau kan dia duda, Di?"
Diani hanya mengangguk saja tanpa menoleh. Dia juga tak berniat menimpali jawaban apapun.
"Dia sama kayak Kakak. Kehilangan anak dan pasangan. Bedanya pasangan dia emang udah gak ada, sedangkan pasangan Kakak, gak tau dimana," ucap Riani lirih.
Mulai lagi, ucap Diani dalam hati.
Wanita itu hanya menghembuskan nafas panjang. Ia beranjak dari tempatnya menuju ke ranjang Kakaknya dengan nampan yang telah diisi banyak roti.
"Di, jangan pernah kamu mikir semua laki-laki sama aja. Samudera beda. Sekian tahun berlalu, dia masih aja sendiri. Gak semua laki-laki mentingin nafsunya. Dia tipe orang yang tulus dengan orang lain.”
Diani mendesah berat mendengar pernyataan Kakaknya.
Jika yang dikatakan baik adalah selalu berada disisi Kakaknya saat ini. Diani hanya bisa menilai bahwa laki-laki itu punya sisi kemanusian yang cukup baik.
Perasaan tak suka pada Samudera masih saja hinggap setelah melihat bagaimana dia bisa mengembalikan lagi tawa Riani. Walaupun Samudera mungkin tak tahu kebenarannya dan memang bukan salahnya, tapi entah mengapa Diani masih belum bisa menerima keberadaan lelaki itu.
“Dulu kecelakaan yang dialami Pak Samudera, gimana memangnya?” tanya Diani berbasa-basi sekedar untuk mencari topik. Ia sejujurnya tak terlalu tertarik dengan itu. Namun, melihat antusiasme Kakaknya membahas duda tampan itu, setidaknya mereka tidak berakhir dengan membahas keinginan aneh dan tak masuk akal yang dimiliki Kakaknya.
“Kakak gak tau detailnya, Dek. Setauku mobilnya ditabrak motor sport dengan kecepatan tinggi dari arah sebelah kiri. Karena terlalu kenceng, istrinya dan si penabrak tadi sama-sama tewas ditempat. Kejadian itu terlalu cepet. dan samudera gak inget apa-apa selain wajah istrinya sebelum pingsan.”
“Dia gak kenapa-kenapa?”
“Kepalanya kena setir cukup kuat, selebihnya luka baret,” ucap Riani sambil menerawang jauh mengingat kejadian bertahun-tahun lalu. Saat dirinya ikut ke pemakaman istrinya, Tania dan anaknya, Putih.
Diani tak banyak menanggapi kisah itu. Ia hanya mengangguk tanda paham dengan cerita Riani.
“Istrinya hamil tua dan prediksinya dalam minggu itu, Istrinya akan melahirkan. Tapi, semua kebahagiaannya hilang dalam satu waktu yang sama, Ri.”
Riani menceritakan kisah itu, berharap sedikit rasa simpati Diani. Cukuplah rasa simpati sebelum masuk kedalam jurang bernama cinta. Tapi nyatanya, Diani tak tersentuh oleh kisah itu.
“Sampai sekarang, dia belum nikah lagi lho Di,” ucap Riani ingin melihat reaksi Diani.
“Belum nikah lagi doesn’t mean anything, Kak. Kita hidup di kota metropolitan dimana semua kesenangan bisa dibeli pakai uang. Apalagi dengan kekayaan yang dia miliki,” ujar Diani sengaja memelankan suaranya.
“Makanya, kamu kenalan. Biar bisa lebih kenal lagi. Apa bener dia seperti yang kamu sangka?” pancing Riani.
“Analisa aku, Kakak bilang begitu karena dia gak bisa move on, kan. Ngapain aku deket-deket pria gak bisa move on,” tolak Diani.
“Ya, biar bisa buktiin. Kamu harus tahu banyak macam pria dan keluarga di dunia ini. You deserve to have a happy family, dek. Kamu harus lihat, bagaimana saling mencintainya keluarga Samudera.”
Diani beranjak dari tempat duduknya. Ia mulai tak ingin mendengar pembahasan soal pria dan keluarga. Semua khayalan-khayalan ala negeri dongeng yang tak mungkin sesempurna itu di dunia nyata. Happily ever after? Memangnya ia anak berumur lima tahun.
“Di!” panggil Riani mencoba menghentikan langkah adiknya.
“Jangan terus-terusan lari. Kamu boleh kok berhenti dan cari sandaran hidup kalau kamu lelah sendiri,” ucap Riani sambil tersenyum tipis.
Diani yang menghentikan langkahnya hanya bisa memamerkan senyum terpaksanya. Tak ada yang ingin ia sampaikan, karena ia tahu. Sekeras apapun dia mencoba menjelaskan dirinya, hal itu tak akan merubah pemikiran Kakaknya untuk melunturkan keengganannya pada pria.
Diani pikir, cukup dirinya sendiri yang tahu tentang bagaimana selama ini laki-laki disekitarnya memperlakukannya. Ia tak mau membebani Riani untuk saat ini. Terkadang diam lebih melegakan daripada berteriak memuntahkan rasa kesal dalam d**a.
***