RIANI DAN SAMUDERA

1906 Kata
*Diani POV* “Hai, Kak!” sapaku pelan saat menemukan kak Riani sedang memakai kacamata baca dengan posisi ranjang rumah sakit setengah terduduk. Hebatnya lagi, satu tangan kanannya yang tergolek lemas di ranjang sedang dengan posisi memegang mouse. memang tangan Kak Riani tak sepenuhnya lumpuh, tapi aku tetap takjub karena dia bisa menggunakan telapak tangannya dan jarinya untuk memijit dan menggulir mouse yang terhubung dengan laptop dihadapannya. “Diani, pulang sore? Tumben?” tanya Kak Riani terdengar heran. “Iya, kebetulan kerjaan udah selesai semua Kak. Jadi aku minta balik cepet. Kakak lagi apa sih? Kayaknya sibuk? Ini laptop siapa?” tanyaku yang tak suka melihat kak Riani terlihat lelah dengan memandangi layar laptop. Klak! Belum sempat kak Riani menjawab, suara pintu terbuka membuat obrolan kami terinterupsi. Aku segera menoleh ke arah sumber suara. Aku tertegun untuk beberapa saat. Samudera Gemintang Adnan, mantan guru praktek di sekolahku itu keluar dari toilet ruangan ini. Terakhir kali aku bertemu dengannya wajah tampan ala timur tengahnya itu tak seperti sekarang. Cambang tipis menghiasi wajahnya menampilkan kesan maskulin dengan kulit putih bersihnya. Ia juga tampaknya lebih tinggi dari terakhir kali aku bertemu dengannya. “Di! Sapa dong. Jangan ngelamun! Terpesona sama lo kayaknya Sam,” ucap Kak Riani dengan kekehan kecil yang membuatku tersadar dari lamunanku. Aku kini malah ganti melihat ke arah Kak riani yang terkekeh kecil. Aku takjub dengan suara tawa kecil yang lama tak ku dengar. Apa ini sungguh Kak Rianiku? Beberapa waktu lalu kami bertengkar karena keinginan konyolnya. Kini ia malah tertawa tanpa beban. Sungguh aku ingin menangis sekarang juga. “Dek, kenapa sih?” tanya kak Riani heran. Aku hanya menggeleng saja dan berkata permisi lirih untuk menuju toilet. tergopoh aku memasuki toilet dan hanya menyapa sekilas Pak Samudera. Setelah masuk di dalamnya, aku segera mengusap muka dengan air agar aku bisa sadar dan mengendalikan diriku. Harusnya aku tak boleh menampilkan raut wajah sedihku di depan kak Riani. Harusnya aku ikut bahagia jika dia mulai menikmati harinya. Kenapa pula aku harus cemburu dengan Kak Riani yang bisa berubah saat dengan Pak Samudera? Aku menghembuskan nafas lelah. Saat ini harusnya fokusku adalah kesembuhan kak Riani. Setelah aku rapikan penampilanku. Aku melangkah keluar dari toilet dengan muka segar. Saat aku melihat kursi di samping kak Riani diisi oleh Pak Samudera, aku memilih untuk melangkahkan kakiku menuju sofa. Mataku mengamati bagaimana mereka berinteraksi yang tanpa sadar membuatku kadang ikut tersenyum kecil. Aku pun akhirnya mengalihkan pandanganku ke arah ponselku untuk mengecek e-mail yang masuk. Sekedar untuk membunuh waktu. Jujur saja aku merasa tersingkirkan, tapi mau bagaimana lagi? Aku tak mungkin mengusir Pak Samudera dari sini. Aku menghembuskan nafas panjang karena merasa tak nyaman. Tak nyaman karena dia Pria dan karena dia penyebab Kakakku mengalami semua itu. Ketidaknyamanan itu membuatku beberapa kali mencuri pandang ke arah Pak Samudera. Hingga aku beberapa kali tanpa sengaja mengamatinya dengan teliti. Wajahnya yang tampan itu, pasti membuatnya terkenal diantara banyak wanita. Caranya berinteraksi dengan Kak Riani, menunjukkan dia juga pasti playboy kelas kakap yang sangat ramah pada semua wanita. Wajah dan sikapnya sangat menunjang dirinya untuk menjadi casanova. Lagipula, wanita mana yang tak mau dengan Samudera Adnan? Kaya, tampan, ramah, minusnya hanya duda. Duda lebih kerenkan? Eh? Ih, otakku! Pikiranku tentang duda membuatku menggeleng kuat dan menggumamkan kata bodoh secara tak sadar. “Kamu kenapa sih, Dek? Dari tadi Kakak lihat kamu aneh,” tanya Kak Riani sambil menatap cemas ke arahku. “Gak apa-apa, Kak. Aku mau cari angin dulu,” ucapku sambil berdiri. Aku hanya menganggukkan kepala pelan tanda permisi pada Pak Samudera. Setelahnya aku bergegas keluar ruangan itu dan menuju taman di rumah sakit. Langkahku terhenti di sebuah bangku panjang dengan pemandangan hamparan bunga yang indah. Letaknya sangat dekat dengan kamar Kak Riani. Setidaknya dari jarak ini, aku bisa tahu kalau Pak Samudera sudah keluar dari ruangan Kak Riani. Aku benar-benar tak nyaman berada disana. Rasanya jantungku berdetak tak normal jika terlalu lama berada di dalam sana. Setidaknya disini aku bisa sedikit rileks. Kuhirup dalam-dalam udara di sekitarku. Aku membuka ponselku dan mencari menu permainan. Aplikasi yang sudah sangat lama aku lupakan tak sempat aku sentuh. Aku jadi terkekeh senang karena akhirnya aku bisa memainkan permainan-permainan dalam ponselku. Kapan lagi aku me time seperti ini?! *** *Riani POV* Pagi ini Samudera datang dengan satu tangan memegang tas yang aku yakin membawa laptop dan juga membawa backpack di punggungnya. Tangan yang lainnya membawa meja lipat dan segelas kopi. Sungguh ia seperti bagian perlengkapan atau umum daripada pemilik dan pewaris Yayasan milik keluarga Adnan. Aku hanya bisa tertawa geli dengan penampilannya yang juga acak-acakan. Ia hanya menggunakan kaos dilapisi dengan jaket tipis dan juga celana jeans. Tak lupa topi beanie yang membuatnya terlihat seperti mahasiswa yang berada di usia awal dua puluhan. Ketampanan sahabatku ini memang tak akan luntur ditelan waktu. Mungkin dia memang vampir seperti yang biasa orang-orang ucapkan saat seseorang tak terlihat menua. “Lo mau ngapain sih, Sam?” “Ngajakin lo kerja. Biar gak bosen, lo bosen kan?” ucapnya yang tak memperhatikanku malah asyik membenarkan letak tempat tidurku. “Lo bayar gue enggak?” “Bayar dong, tenang aja. Masa lo ngeraguin pewaris dan pemilik jasa konsultan dan yayasan Miracle, Ri!” jawabnya dengan cebikan. Ia kemudian mengeluarkan sebuah laptop dari backpacknya. lalu menaruhnya di atas meja yang sudah diatur dihadapanku. “Berapa?” “Banyak pokoknya, nanti kalau kurang. Lo boleh minta lagi sama gue.” “Dih! Emang gue mau kerja?” “Lo bikin gue gemes!” ucap Samudera sambil mencubit gemas hidungku. Wajahnya yang tak jauh dari wajahku membuatku harus menahan nafas selama sepersekian detik. Pria ini Gila! Wajahnya terlalu dekat. Jantungku berpacu dengan cepat hingga membuat pipiku memanas. Aku memalingkan muka secepatnya. Ah, sial! di saat seperti ini, aku tak bisa lagi menutupi wajahku atau sekedar mendorong Samudera agar tak terlalu dekat. *** *Riani POV* “Kenapa? Apa ruangannya terlalu panas? Mau dinaikin suhunya?” tanya Samudera polos. Dasar pria bodoh dan tidak peka’! Dia masih sama saja. Membuatku jadi tertawa geli. Inilah yang membuatku selalu gagal terbawa perasaan dengan Samudera. Sepertinya, satu-satunya hal yang mudah dia pahami adalah perasaan mantan istrinya. “Malah ketawa lo! Serem ih,” ucapnya sambil bergidik ngeri. Tawaku malah semakin menjadi melihat wajah takutnya. Samudera dengan badan kekarnya masih tak berubah. Laki-laki yang selalu takut dengan sesuatu yang mistis. Aneh sekali. Muka dengan keberaniannya soal hal-hal gaib berbanding terbalik. “Udah ah. Banyak drama, sini! Gue harus apa?” Samudera kembali mendekat ke arahku. Kami pun berdiskusi beberapa hal terkait rencananya soal yayasan pendidikan yang akan dibuat Bali. Konsep-konsep yang ia berikan seperti angin segar bagiku. Aku yang telah lama tak mengeluarkan ide-ide yang memenuhi otakku soal pendidikan, kini seolah terlepas dari belenggunya. Konsep Samudera tentang sekolah yang diciptakan setara sekolah internasional untuk meminimalisir kesenjangan bagi penduduk disana. Apalagi Bali merupakan destinasi wisata yang cukup terkenal. Samudera ingin membuat anak-anak disana bisa ikut menjadi bagian dari agen budaya dengan pengetahuan yang luas. Terlalu asyik berdiskusi. Kami tak sadar bahwa sudah berjam-jam kami berdiskusi dan mencari-cari konsep. Hingga saat aku mulai membantu Samudera dengan angka-angka. Aku melihat Samudera menguap lebar. Aku terkekeh geli melihatnya. sepertinya dia kelelahan. “Kita berhenti dulu aja, lo pasti capek banget.” Samudera melihat ke arah jam dinding yang terletak di atas pintu. Tak lama ia merenggangkan tubuhnya sambil kembali menguap lebar. Untung saja tampan! Aku jadi tak ilfeel melihatnya. “Udah sore aja,” ucapnya masih dengan meregangkan tangan-tangannya. “Gue ke toilet dulu,” ucapnya lagi sambil beranjak. Baru saja Samudera masuk toilet, kulihat wajah ceria Diani dengan sapaan khas manjanya. "Hai, Kak!" “Diani, pulang sore? Tumben?” tanyaku heran walaupun dalam hatiku, aku senang Diani datang. Itu artinya aku bisa mulai mendekatkan keduanya. Kulihat Diani memandangku dengan tatapan tak terbaca. “Iya, kebetulan kerjaan udah selesai semua Kak. Jadi aku minta balik cepet. Kakak lagi apa sih? Kayaknya sibuk? Ini laptop siapa?” tanya Diani yang aku tahu dia pasti tak suka melihatku seperti ini. Klak! Baru saja aku akan menjawab pertanyaan Diani saat pintu kamar mandi terbuka. Pintu terbuka itu membuatku makin bersemangat. Saat aku menoleh ke arah Diani, adik kecilku itu memandang teman priaku seolah memuja. Aku tahu, wanita mana yang tak suka pada Samudera. "Di, ini Samudera, bapak guru kamu dulu. Masih inget gak?" tanyaku bersemangat. Entah mungkin karena terlalu terpesona, adikku tak bergeming. Aku jadi geli sendiri mengamati Riani. “Di! Sapa dong. Jangan ngelamun! Terpesona sama lo kayaknya Sam,” godaku melihat ke arah Samudera yang ternyata juga memandangi Diani tak berkedip. Ah, bukan aku yang jatuh cinta. Tapi, melihat pemandangan ini seolah ada ribuan kupu-kupu berterbangan dalam perutku. Tak berapa lama kulihat Diani cemberut, mungkin dia malu. "Dek, kenapa sih?" godaku lagi. Tapi, ia sepertinya marah karena godaanku. Ia pun malah berlalu menuju ke kamar mandi dan membuatku makin tertawa. "Udah, jangan diliatin mulu adek gue. Gimana? Cantik kan? Gemesin." "Adek lo beneran umur dua puluh sembilan tahun? Gue kira udah berubah, ternyata ngambekannya masih sama," ujar Samudera sambil terkekeh geli. Ia berjalan menuju kursi disampingku. "Masih hafal lo sama kelakuan adek gue di SMA?" "Masih lah. Gak mungkin lupa gue, hari pertama ngajar malah nemu Diani nangis," ucap Samudera masih dengan ekspresinya tertawa geli. "Eh, gue balik dulu aja kali ya. Diani juga udah dateng." "Jangan, Sam! Kan gue mau ngenalin elo." "Kayaknya dia–" Klak! Belum sempat Samudera meneruskan kalimatnya, Diani keluar dari kamar mandi. Membuat kami fokus pada layar laptop seolah memang bekerja. Sesekali kulirik adikku yang berjalan ke arah sofa. Matanya seolah menelisik Samudera dari ujung kaku hingga ujung kepala. Membuatku berucap lirih. "Adek gue, udah naksir berat sama lo, Sam!" "Gue kan emang ganteng, Di." "Ya Tuhan, gue pengen jitak lo. Tapi tangan gue gak bisa diangkat!" Samudera tertawa mendengar keluhanku. Ia malah mengejek dengan menjulurkan lidah. Sungguh ya, manusia ini. Saat aku sedang bergurau dengan Samudera, ekor mataku menangkap Diani yang sedang memandangi Samudera. Boleh aku berdoa semoga mereka berjodoh, Tuhan? *** *Samudera POV* Aku mematut diriku di cermin. Segera ku basuh wajahku yang terlihat kelelahan. Mungkin memang bukan hanya terlihat, tapi benar-benar lelah. Aku harus mengubah kebiasaan tak lagi bisa melihat Ruby sebelum tidur. Biasanya setelah mengecek keadaan Ruby, memastikan gadis kecilku itu baik-baik saja, aku baru bisa tidur dengan nyenyak. Kini aku kesusahan untuk tidur. Bahkan setelah berjam-jam bekerja. Aku masih saja tak bisa tidur jika belum menelepon Ruby. Sepertinya aku sudah ketergantungan dan itu tak baik. Mungkin memang langkah Kak Lian tepat untuk memisahkan kami. Aku segera keluar setelah mengeringkan wajahku dan betapa terkejutnya aku ketika melihat wanita dengan kulit putih sebening s**u dengan rambut disanggul rendah. Wajah ayunya tak berubah. Hanya bedanya, kini ia lebih dewasa dan tanpa kacamata. "Di, ini Samudera, bapak guru kamu dulu. Masih inget gak?" ucap Riani mengenalkanku. Aku jadi merasa tua saat Riani mengenalkanku sebagai bapak guru. Padahal selisih umur kami tak banyak. Tak ada respon dari Diani, membuatku melangkahkan kaki menuju Diani untuk sekedar berjabat tangan dan menyapa. “Di! Sapa dong. Jangan ngelamun! Terpesona sama lo kayaknya Sam,” tambah Riani. Diani tiba-tiba memalingkan mukanya dariku dengan tatapan tak suka. Membuatku berhenti untuk melangkah mendekat. Tak berapa lama dia mengatakan permisi dan memasuki toilet. Harum mawar itu masih sama setelah sekian tahun berlalu. Entah mengapa aku masih ingat harum Diani. Apa yang aku pikirkan?! Samudera lo gila ya! Aku merutuk dalam hatiku. Dengan jantung berdebar, aku berusaha menetralkan kembali nafasku agar dapat tenang. Ini aneh, kenapa aku kembali tertarik pada orang lain? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN