LULUH

1782 Kata

*Diani POV* Pikiranku melayang entah kemana. Kenangan dimana aku kehilangan mama dan kecelakaan Kak Riani terus saja bergantian melintas di otakku setelah beberapa hari lalu aku mengunjungi toko perhiasan itu. Bahkan saat aku akan memejamkan mataku, kejadian manis yang berubah menjadi tawa mengerikan masuk ke dalam telingaku. Saat aku membenarkan letak tidurku di sofa rumah sakit yang baru beberapa waktu lalu dibelikan oleh Samudera, mataku tak sengaja bersinggungan dengan Kak Riani yang ternyata tak tidur dan sedang memandangku. Sepertinya sudah sedari tadi Kak Riani melakukannya tapi aku tak menyadarinya. Aku menatapnya lekat dengan perasaan campur aduk. Senyum tipis tiba-tiba mengembang dari wajahnya. “Kenapa? Gak bisa tidur ya? Kalau kamu capek, kamu tidur aja di rumah,” ucap Kak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN