Aku melangkahkan kakiku menuju ke ruangan Kak Riani. Setelah Samudera pergi ke kantor dan aku berkilah akan berangkat bersama supir. Awalnya Samudera menolak dan memaksaku berangkat bersamanya, namun aku juga menolak dan berkata masih ingin bersantai. Setelah hampir setengah jam dari keberangkatannya, aku baru berangkat dengan alasan menuju kantor. Namun aku bersekongkol dengan sopirku untuk mengantarkanku ke rumah sakit ini. Aku berharap Supir pilihan Papa benar-benar bisa kupercaya dengan tidak mengatakan bahwa aku sudah tak bekerja. Walaupun aku sejujurnya sangat tak percaya karena bagaimanapun ia digaji oleh Papa, namun aku memaksanya berjanji untuk satu hal itu. Lalu disinilah aku, di depan ruangan VIP milik Kak Riani. Belum sempat aku buka pintunya, samar-samar aku mendengarkan sua

