TANGIS PILU DIANI

1844 Kata

Diani terdiam di salah satu sudut ruangan. Matanya menatap kosong lantai keramik rumah sakit itu. Suara berisik dari Dokter dan perawat tak membuat Diani terganggu. Ia benar-benar tak terusik dengan keadaan yang ada. Pikirannya berkelana pada ingatan-ingatan masa kecilnya. Beberapa ingatannya akhir-akhir ini bersama Kakaknya. Juga bagaimana Diani sempat membenci Kakaknya karena suaminya yang bahkan tak menganggapnya ada selama seminggu terakhir ini. Rasa bersalah dan kesedihan begitu menyesakkan dadanya. Begitu sesaknya hingga ia tak bisa mengeluarkan air matanya. Hingga Grace yang datang ke arahnya pun tak ia sadari. Grace memeluk Diani dengan mengusap punggung Diani pelan. “Riani udah gak sakit lagi, Di. Ini bagian lebih pentingnya. Dia udah bahagia. Lo udah usahain semua yang terba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN