Melisa berjalan masuk hendak ke dapur dan menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda. Yaitu, membuatkan roti bakar untuk Devan—suaminya. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara dingin Devan.
“Kamu kenapa nggak bilang kalau yang datang itu, Mama dan Papa?” tanya Devan membuat alis Melisa mengernyit. “Kamu sengaja? Iya?”
“Maksudnya—gimana?” Melisa tidak mengerti maksud dari perkataan Devan padanya.
“Ck, tidak usah pura-pura nggak tahu kamu. Aku tahu, kok. Kamu sengaja, ‘kan nggak bilang kalau yang datang itu Mama sama Papa. Supaya, kamu bebas dan puas melihat mereka berdua membuatku tidak bisa melakukan apa-apa. Iya?” tuduhnya membuat Melisa menggeleng semakin tidak mengerti.
“Sumpah, aku tidak mengerti maksud Mas Devan.”
Devan memutar bola matanya jengah. “Sudahlah, berhenti berpura-pura!” bentak Devan.
Melisa tersentak kaget, hingga membuatnya hampir terjengkang mendengarnya. “Aku memang tidak paham apa yang kamu maksud, Mas. Aku tidak melakukan apa-apa, dan kamu menuduhku?” protes Melisa tidak terima.
Melisa menatap Devan dengan manik mata berkaca-kaca. Devan memutar bola matanya melihat itu. Seolah ia tidak peduli, bahkan kesal melihatnya. “Lagian, kenapa tadi bukan Mas sendiri yang buka. Kenapa mesti nyuruh aku? Harusnya, Mas sendiri yang buka. Supaya, Mas nggak main tuduh-tuduh seperti ini.”
Melisa sudah tidak kuat, ia pun mengeluarkannya. Air matanya sudah jatuh satu persatu membasahi pipinya. Tatapan Devan masih tetap sama, bahkan lebih dingin dan tajam dari sebelumnya. Namun, tidak membuat Melisa takut. Malah Melisa merasa kesal.
Melisa berjalan masuk ke dapur tidak memedulikan desahan kesal Devan di ruang keluarga. Melisa sejujurnya, tidak mau membentak atau berteriak seperti itu di depan suaminya. Namun, ia juga tidak suka kalau Devan terus menyalahkannya dan menyakitinya.
Sekali-kali, Melisa harus bersikap tegas untuk dirinya, dan membuat Devan sadar kalau Melisa bukan wanita yang mudah untuk ditindas. Melisa menumpahkan segala tangisannya di dalam dapur. Ia menangis dalam diam.
Melisa memegang dadanya yang sesak. Baru dua hari menjadi istri Devan, tapi sudah tidak terhitung air matanya keluar karena sikap dan kata-kata suaminya terhadap dirinya. Melisa membekap mulutnya, menggigit bibirnya. Tak merasa sakit sama sekali. Walau ia menggigit begitu keras. Sebab, sakit di hatinya lebih sakit dari sekedar bibirnya yang ia gigit.
Di ruang keluarga, Devan mengembuskan nafasnya kasar. Ia menarik rambutnya frustasi. Ia kesal pada kedua orang tuanya, juga Melisa. Namun, ia juga menyesal telah menuduh Melisa seperti tadi. Padahal, Melisa sama sekali tidak salah.
Devan hanya terbawa emosi saja. Karena sikap kedua orang tuanya yang begitu ikut campur dengan urusan rumah tangganya. Ya, walau hal itu bukanlah masalah serius, tapi entah mengapa Devan merasa sangat kesal.
Alasannya, karena Bali, tempat Devan pernah merencanakan Honeymoon bersama Reina. Namun, sekarang malah terbalik. Walaupun, tetap saja sama, ia tetap honyemoon di sana, tapi dengan orang berbeda. Hal itu yang membuat Devan merasa sangat kesal dan sedih.
“Sial!” umpat Devan sembari meninju ke udara karena kesal. “Arrrggggg....” Devan kembali menarik rambutnya sedikit agak keras karena kesal.
“Kenapa harus serumit ini, sih?” monolog Devan.
***
Di jalan menuju kembali ke rumah. Damar hanya diam tak mengatakan apa-apa. Diananyang melihatnya sampai heran sendiri dan juga penasaran. Sebab, semua ini terjadi setelah mereka pulang dari rumah Devan.
“Papa,” panggil Diana.
Damar menoleh sebentar dan kembali fokus ke arah jalan. “Hmmm....” Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
“Ck, ada apa? Tumben diam gitu?!” decak Diana.
Damar tidak langsung menjawab. Dia diam sebentar seraya menarik nafas berat, laku berkata, “Sepertinya ada yang nggak beres.”
Alis Diana saling bertautan tidak paham. “Tidak ada yang beres? Apaan?” tanyanya lagi.
Damar mengangguk singkat. “Ya, mereka,” jawabnya misterius membuat Diana kesal.
“Ck, Pa. Bisa dijelaskan langsung saja. Nggak usah berbelit-belit begitu?”
Damar menghembuskan nafasnya kasar. Masih sambil menyetir, ia melirik istrinya sebentar lalu kembali berkata, “Devan dan Melisa. Mereka menyembunyikan sesuatu.”
“Devan dan Melisa?” gumam Diana pelan.
Diana tidak tahu tentang apa yang Damar maksud. Karena Diana tidak memperhatikan kedua anaknya itu. Diaja terlalu fokus pada rencana agar cepat mendapat cucu saja. Tidak memperhatikan kalau sebenarnya. Devan dan Melisa sedang tidak baik-baik saja. “Ada apa dengan mereka?”
“Mereka menyembunyikan sesuatu,” jawab Damar.
“Iya, sembunyi apa?” tanyanya lagi.
Damar mendecak. “Ck, yang itu. Papa nggak tahu juga,” jawab Damar kesal.
Diana memutar bola matanya jengah. Ia kira, Damar tahu sesuatu yang dia maksud Devan dan Melisa ada menyembunyikan sesuatu. Ternyata, tidak. “Ish, menyebalkan.
Di lain tempat, Devan duduk di kursinya dengan bersandar seraya memejamkan matanya. Rayhan—sahabatnya masuk ke ruangannya seperti biasa. Berjalan mendekat dan duduk di kursi yang ada di depan meja Devan.
“Lagi semedi, Dev?” Suara Rayhan membuat Devan tersentak, dan memaksanya membuka mata.
“Lo udah mirip setan,” ejek Devan pada Rayhan yang hanya terkekeh. “Bikin kaget saja,” lanjutnya ngedumel kesal.
“PMS, Mas? Sensi amat?!”
Devan mendelik sebal, ia kembali menyenderkan punggungnya seraya menutup matanya. Kepalanya pusing yang membuatnya selalu mengantuk.
“Kayaknya ngantuk banget, Dev. Ngeronda lo semalam?” tanya Rayhan mencoba menggoda Devan. Akan tetapi, Devan tidak menggubrisnya, dan tetap pada posisinya.
“Atau jangan-jangan lo begadang karena ngeronde?” Rayhan tertawa terbahak-bahak saat Devan membuka mata sembari melototkan matanya ke arah Rayhan.
“BERISIK!!” bentak Devan.
“Hahah ... Oh, gua ngerti. Lo nggak dapat jatah sama Melisa ya? Hahah... Kasihan banget, sih.” Rayhan terus menggoda dan meledek Devan, tanpa ia takut akan tatapan tajam Devan terhadapnya.
Rayhan dan Devan kenal sudah lama, bahkan mereka tumbuh bersama-sama. Jadi, Rayhan tahu bagaimana karakter sahabatnya ini. Jadi, ia tahu kapan akan bercanda dan tidak.
“Lo mau diam atau—gua jahit mulut lo,” peringat Devan pada Rayhan.
“Eitz’ jangan main jahit-jahit aja lo. Mentang-mentang lo dokter,” protes Rayhan.
“Ck, lo, ‘kan juga dokter bodoh.”
“Eh, iya, ya. Kok, gua lupa.” Rayhan nyengir kuda membuat Devan memutar bola mata jengah.
“Lo ada apa ke sini? Ganggu banget.” Devan menatap sebal ke arah Rayhan.
“Ck, gua kangen ama lo. Emang nggak boleh?”
Devan benar-benar jengah melihat kelakuan Rayhan dan sangat malas mendengar ocehan khas milik Rayhan. Ia malas mendengarnya, apalagi ia sakit kepala karena terus memikirkan masalah pagi tadi di rumahnya. “Ada apa, Dev? Kayanya kali ini masalah lo berat banget?”
Devan menghela nafasnya kasar. Seperti mencoba untuk mengurangi masalahnya sedikit. Membuangnya seiring helaan nafasnya, tetapi nyatanya tidak bisa. Ia tetap harus menanggungnya dan mencarikan jalan keluar, meski ia menghela nafas berulang kali bahkan sampai nafasnya habis pun, masalahnya akan tetap bersamanya. Sebelum Devan mencari jalan keluarnya.
“Bokap, Nyokap gua. Mereka nambahin masalah lagi buat gua,” kata Devan bersamaan helaan nafasnya.
Kening Rayhan mengernyit. “Masalah apaan?” tanyanya lagi.
Devan membenahi duduknya dengan duduk tegak. “Mereka memesan tiket dan mem-booking hotel untukku dan Melisa.”
“Tiket, booking hotel? Kemana, untuk apa?” tanya Rayhan sekali lagi.
“Honeymoon ke Bali.”
Rayhan mengangguk paham. Pantas saja Devan begitu murung pikir Rayhan. Rayhan tahu, apa yang membuat Devan begitu galau memikirkan tentang masalah yang ditimbulkan papa Devan. Bali, adalah masalah utamanya.
Yah, bagaimana bisa begitu. Sebab, Devan sangat memimpikan bisa pergi honeymoon bersama istrinya. Tetapi, bukan dengan Melisa, tetapi dengan Reina. Kekasih Devan yang sudah lama meninggal dunia.
Bersambung!!!