Tetap Menjadi Rahasia

1186 Kata
“Honeymoon ke Bali.” Rayhan mengangguk paham. Pantas saja Devan begitu murung pikir Rayhan. Rayhan tahu, apa yang membuat Devan begitu galau memikirkan tentang masalah yang ditimbulkan papa Devan. Bali, adalah masalah utamanya. Yah, bagaimana bisa begitu. Sebab, Devan sangat memimpikan bisa pergi honeymoon bersama istrinya. Tetapi, bukan dengan Melisa, tetapi dengan Reina. Kekasih Devan yang sudah lama meninggal dunia. Rayhan menarik nafas. “Lo kepikiran Reina lagi?” tanya Rayhan. Devan menghela nafasnya kasar. “Impian kita berdua lebih tepatnya,” ucap Devan lesu. “Why?” tanya Rayhan lagi membuat kening Devan mengkerut. “Maksud lo?” “Kenapa harus mempermasalahkan impian yang sebenarnya sebentar lagi akan terwujud? Seharusnya lo senang, bukan?” “Ya, memang benar. Tapi, gua mau sama orang yang sama, Ray. Bukan dengan orang berbeda,” kata Devan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursinya sembari menatap langit-langit kamar. “Nggak masalah kali. Yang lo harus lakuin, Devan ganteng. Lo harus menikmati hidup lo dengan Melisa. Pergilah, honeymoon bersamanya! Lupakan Reina!” tegas Rayhan. Devan mendengus sembari menegakkan kepalanya menatap tak suka ke arah Rayhan. “Gua ufah bilang ini berkali-kali, Ray. Gua nggak bisa! Gua belum bisa lupain dia lebih tepatnya.” “Bukan bisa, tapi lo nggak mau!” bentak Rayhan. Devan mendelikkan matanya kesal. “Sudahlah, Ray. Kamu tidak akan mengerti!” Rayhan menghela nafasnya kasar. Sumpah, Devan benar-benar tidak bisa dinasehati. Padahal, ini semua untuk kebaikan Devan juga. Tetapi, kenapa Devan begitu keras kepala. “Bukannya aku tidak mengerti, tapi kamu yang terlalu fokus pada lukamu itu.” Devan mengabaikan ucapan Rayhan. Ia lebih memilih menatap ke arah meja sembari mengetuk-egukkan jarinya di sana. “Ck, berhenti bersikap keras kepala seperti ini, Dev. Jangan sampai lo kehilangan apa yang sedang lo miliki saat ini hanya karena masa lalu lo yang belum usai,” peringat Rayhan. Devan mendongak menatap Rayhan. Entah kenapa, perkataan Rayhan ini membuatnya seperti tercubit di dalam hatinya. Namun walau begitu, Devan tetap diam dan tidak menggubris ucapan Rayhan. Yang lebih tepatnya sebuah peringatan. “Ah, sudahlah. Berbicara dengan kepala batu dan hati beku sepertimu akan membuat mulutku berbusa. Mending, gua memeriksa pasienku dulu,” ujar Rayhan sembari beranjak berdiri hendak pergi, tapi sebelum ia benar-benar pergi. Rayhan menatap lekat wajah Devan yang datar itu. Namun, Rayhan dapat menebaknya. Kalau Devan sedang memikirkan perkataan Rayhan barusan. Seulas senyum penuh makna terbit di sudut bibir Rayhan. Lalu, setelah itu, ia benar-benar pergi begitu saja meninggalkan Devan yang hanya diam melihat sahabatnya itu pergi. Devan menarik nafas panjang. Kenapa perkataan Rayhan sungguh sangat mengganggu kepala Devan saat ini. Devan mengusap wajahnya kasar. “Hhuuufff ... Dia memang pengganggu handal.” Di lain tempat, Melisa baru saja sampai di rumah ibunya. Setelah mengikuti mata kuliah yang tidak terlalu banyak. Melisa memutuskan untuk ke rumah ibunya untuk berkunjung dan sekalian mengambil mobil miliknya. Namun, sebelum itu. Melisa akan meminta izin terlebih dahulu pada Fitri—ibunya dulu. Melisa mengucap salam saat sudah berdiri di depan pintu ibunya. Dua sampai tiga kali, tidak ada sahutan dari dalam. Melisa kembali mencobanya, dan barulah pintu dan suara Fitri menyahuti salam Melisa terdengar dari dalam. “Melisa!!” seru Fitri senang saat melihat Melisa berdiri di depan pintu. Fitri bergegas memeluk anak satu-satunya itu begitu erat. Fitri sangat merindukan Melisa. Begitupun, Melisa yang merindukan ibunya. Melisa tersenyum seraya membalas pelukan ibunya. Lama mereka berada di posisi itu. Sampai Melisa yang lebih dulu yang melerai pelukan mereka. Senyum merekah ia persembahkan untuk ibunya yang sudah menatapnya dengan manik mata berkaca-kaca. “Melisa,” lirih Fitri sembari mengelus wajah anaknya. “Ibu merindukanmu, Nak.” “Melisa pun, sangat merindukan Ibu.” Sekali lagi mereka saling berpelukan. Seolah telah berpisah dalam jangka waktu panjang. Padahal, mereka baru berpisah tiga hari setelah Melisa menikah. Yah, begitulah perasaan yang nyata untuk seorang anak dan ibu. “Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya Fitri sembari melerai pelukannya dan mencium kening dan pipi Melisa berulang kali. Melisa terkekeh sembari menyeka air matanya yang ternyata tanpa sadar sudah jatuh membasahi pipinya. “Kabarku baik, Bu. Bagaimana dengan Ibu?” “Ya, Ibu baik, Nak. Eh, Ibu sampai lupa menyuruhmu masuk. Ibu terlalu senang melihatmu berada di sini,” ucap Fitri seraya menggeser tubuhnya memberi jalan Melisa untuk masuk. “Makasih, Bu.” Melisa pun, berjalan masuk ke rumahnya. Rumah yang punya banyak kenangan indah bersama kedua orang tuanya. Terutama ayahnya. Fitri hendak menutup pintu kembali, tapi berhenti sekejap dan memperhatikan jauh keluar jalan. Tidak siapa-siapa di sana. Itu artinya, Devan—suami Melisa tidak ikut bersama Melisa pikir Fitri. “Apa Devan sedang sibuk, makanya Melisa datang sendiri?” Fitri mulai bertanya pada dirinya. Fitri mengabaikan segala pertanyaan tentang ketidakhadiran Devan bersama Melisa. Ia tidak ingin merusak suasana bahagia saat ini bertemu dengan anaknya. Ia akan menikmatinya dengan mengabaikan segala pikiran negatif. Fitri lalu menutup pintu seraya tersenyum dan menyusul Melisa ke dalam. Melisa, ternyata sudah duduk di ruang tamu. Ia memainkan ponselnya. Fitri menghampiri anaknya dan duduk di samping Melisa. Melisa yang menyadari kehadiran ibunya, menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. “Ibu, kenapa menutup pintu lama sekali?” tanya Melisa. Fitri terdiam sebentar. Lalu, ia menatap wajah Melisa. Jujur, rasa ingin tahunya sangat kuat saat ini. Sama kuatnya dengan perasaan yang tak ingin merusak suasana. Entah yang manakah yang lebih kuat, tapi saat ini Fitri sangat ingin bertanya pada Melisa. Ke mana suamimu? Tetapi, Fitri seperti berat untuk mengeluarkan kata itu pada Melisa. Melisa mengernyitkan keningnya saat melihat ibunya hanya diam saja, dan seperti sedang memikirkan sesuatu. “Bu, ada apa?” tanya Melisa seraya menyentuh tangan ibunya. Fitri sontak terkejut. Ia menatap Melisa yang menatapnya dengan bingung. “Eh, iya, ada apa?” “Ibu yang ada apa? Kenapa Ibu diam saja? Melamun lagi.” “Oh, itu. Nggak ada, kok, Mel. Ibu nggak ada apa-apa.” Fitri menggelengkan kepalanya sembari memutuskan kontak mata dengan Melisa. “Benarkah, Bu?” tanyanya masih belum percaya. Fitri mengangguk pelan. “Ya, benar, Sayang. Tidak ada apa-apa, kok. Kamu jangan khawatir,” ucap Fitri. Perkataan Fitri sungguh meyakinkan, tapi tidak tahu kenapa. Melisa masih belum yakin kalau tidak ada apa-apa yang terjadi pada ibunya. Seperti yang dikatakan Fitri padanya. “Eh, iya. Karena kamu baru pertama datang setelah menikah. Kamu pasti rindu masakan ibu, ‘kan?” Melisa tersenyum sembari mengangguk. “Baik kalau begitu. Biar Ibu masakan buat kamu. Kamu istirahat saja dulu.” Melisa mengangguk mengiyakan, ia tidak berhenti mengulas senyum merekah karena senang. Senang melihat ibunya yang Happy. Sebenarnya, Melisa datang ke rumah ibunya ada beberapa alasan di antaranya adalah untuk mengambil mobil, berkunjung serta ingin memberitahu ibunya tentang hubungannya dengan Devan. Tetapi, melihat wajah berseri bahagia ibunya, membuat Melisa mengurungkan niatnya. Melisa yakin, kalau dirinya memberitahu ibunya sekarang tentang hubungan rumah tangganya bersama Devan. Bisa dipastikan kalau ibunya akan sangat merasa sedih bahkan mungkin, akan merasa menyesal. Sebab, Fitri akan menyalahkan dirinya yang membiarkan Melisa menikah dengan Devan. Oleh karena itu, Melisa kembali menyimpan semua yang ingin ia ceritakan. Untuk dirinya sendiri. Biarlah hubungannya bersama suaminya tetap Melisa, Devan dan Tuhan yang tahu. Nanti saja Melisa akan memberitahukan kepada ibunya. Jika sudah mempunyai waktu, pikir Melisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN