Devan baru saja sampai di rumah setelah seharian bekerja di rumah sakit memeriksa pasien, dan mendengar ocehan Rayhan yang membuat kepalanya hampir pecah. Ya, walau begitu , Rayhan tetap sahabatnya.
Devan berjalan masuk ke dalam rumah setelah mengunci otomatis mobilnya. Hari ini, Devan tidak terlalu capek. Karena tidak terlalu banyak pasien seperti biasa. Sebenarnya, Devan masih dalam masa cutinya, tetapi entah tidak betah tinggal di rumah. Devan meminta untuk cutinya dibatalkan saja.
Devan berjalan masuk ke rumah dengan melonggarkan dasi yang rasanya mencekik lehernya seharian. Devan duduk di sofa ruang tamu. Biasanya, sebelum masuk ke dalam kamar bersih-bersih dan beristirahat, Devan akan masuk ke dapur membuat kopi dan makan malam.
Namun rasanya ia sedang malas melakukan itu. Sepertinya, ia akan segera masuk ke kamar saja dan beristirahat setelah beberapa menit duduk di sofa ruang tamu. Devan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, mendongakkan kepalanya sembari menutup mata.
Devan ingin merelakskan otot-otot lehernya yang tegang karena bekerja. Namun saat Devan menikmati posisi seperti itu, tiba-tiba ia mencium aroma kopi yang menyeruak masuk ke indra penciumannya, dan membuatnya mau tidak mau membuka mata.
Ternyata, Melisa sedang berdiri di depannya menggunakan Dress sebatas lutut. Dia sangat cantik memakai pakaian seperti itu. Untuk beberapa menit Devan terpesona dengan kecantikan alami yang dimiliki Melisa.
Benar kata Rayhan, Melisa memang sangat cantik. Bahkan, lebih cantik dari Reina. Tiba-tiba kesadaran Devan kembali saat mengingat nama Reina. Ia tidak boleh terpesona hanya kecantikan dan kemanisan senyum Melisa. Cintanya hanya untuk Reina saja, pikir Devan menggelengkan kepalanya.
“Ada apa? Kenapa berdiri di depanku senyum-senyum sendiri sudah mirip orang gila?” ledek Devan dan sesekali berdehem menghilangkan kegugupannya.
Melisa menarik nafas panjang. Hatinya luka untuk kesekian kalinya, tapi tidak menyurutkan niatnya untuk membuat Devan bisa jatuh cinta padanya dan meliriknya serta menganggapnya ada.
Seharian ini, Melisa sudah memikirkan hal ini sampai berulang-ulang kali. Sudah menyiapkan hatinya untuk lebih kuat. Dia juga sudah meyakinkan dirinya, agar mau berusaha untuk mendapatkan cinta sang suami apapun dan bagaimana pun caranya.
Melisa kembali memasang senyum manis yang ia miliki untuk suaminya si gunung Es itu. Devan hanya menatapnya datar saja. Seolah tidak tergoda dengan kemanisan senyum yang Melisa pamerkan.
“Ini kopi buat, Mas.” Melisa meletakkan cangkir kopi di atas meja. Devan mengikuti gerak tangan Melisa menyimpan cangkir berisi kopi itu. “Saya tahu, secangkir kopi di senja seperti ini. Dapat menenangkan perasaan yang sedang gelisah dan butuh kedamaian,” lanjut Melisa dengan senyum yang terus terpasang di sana.
Alis Devan terangkat sebelah. ”Maksudmu?”
“Eh, tidak ada maksud apa-apa, Mas. Aku hanya ingin membuat Mas yang lelah bekerja seharian menjadi rileks kembali,” terang Melisa.
“Ck, sudah kubilang tadi pagi bu—“
“Ya, saya ingat, kok, Mas. Mas bilang kalau saya tidak perlu berlaga seolah saya istri yang baik. Menyeduhkan kopi dan menyajikannya bukan hanya tugas istri. Anggap saja, itu kebaikan saya sebagai teman.” Devan semakin tidak mengerti maksud Melisa.
Devan pikir, Melisa akan pergi siang tadi saat mendengar hinaan dan kata kasar yang ia lontarkan pada Melisa. Namun dugaannya salah. Melisa masih tetap di sini dengan senyum manisnya. Bahkan, ia menyediakan kopi untuk Devan dan bercerita panjang lebar.
Padahal, setahu Devan Melisa itu pemalu. Semua info yang mamanya berikan pasti bukanlah info yang salah. Lalu, Melisa yang bukan seperti yang dikatakan mamanya. Devan menjadi pusing sendiri. Sepertinya, rencananya membuat Melisa pulang ke rumah orang tuanya, gagal.
“Kalau saya tidak bisa menjadi istri, Mas. Bisakah saya untuk menjadi teman, Mas Devan?” tawar Melisa setelah sekian lama menjeda ucapannya tadi.
Devan menghela nafas kasar. Dan benar saja, rencana Devan gatot (gagal total) huh, Devan menggerutu dalam hatinya. Ia kesal karena Melisa ternyata tidak semudah dapat dikecoh seperti yang Devan pikirkan.
“Mas, bolehkan saya menjadi teman, Mas? Saya tidak akan berharap lebih dari hubungan kita ini. Tetapi, apa salahnya kita membangun hubungan pertemanan?”
Devan mendongak menatap Melisa yang sepertinya serius mengajukan hubungan pertemanan dengannya. Yang statusnya sekarang adalah suaminya. Mereka suami istri yang akan membangun hubungan pertemanan di tengah-tengah hubungan rumah tangganya entah akan bagaimana.
“Ini juga untuk membuat kedua orang tua Mas Devan dan Ibu Melisa tidak curiga dengan hubungan kita yang tidak baik-baik saja,” lanjut Melisa lagi.
Devan terdiam. Melisa menatapnya takut-takut. Takut Devan akan menolaknya dan membuat rencananya gagal. Padahal, Melisa sudah menurunkan ego dan malunya hanya untuk meminta persetujuan Devan menjadi temannya.
Melisa menatap wajah datar kaku milik Devan. Sepertinya, Devan sedang berpikir, dan menimang keputusan yang mana tepat Devan akan ambil. Melisa menunggu dengan gelisah. Ia takut Devan tidak setuju.
“Bagaimana, Mas? Saya cuman tidak mau membuat orang kita masing-masing menjadi dengan kita hanya dengan hubungan kita yang tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan,” tambah Melisa.
Devan menghela nafas kasar sekali. Lalu menatap Melisa dengan tatapan yang sulit terbaca oleh Melisa.
“Baiklah, aku setuju.” Senyum Melisa mengembang. Rencananya berhasil, teriaknya dalam hati. “Tapi ... Ini semua aku lakukan demi orang tua kita masing-masing.”
Melisa mengangguk senang. “Ya, Mas. Aku juga menawarkannya bukan tanpa pertimbangan yang matang. Dan alasan kita sama, kok. Demi orang tua kita masing-masing.”
“Hhm....” Hanya itu yang keluar dari mulut Devan sembari mengangguk. Melisa tak berhenti tersenyum.
“Oh, iya, Mas. Kopinya di minum. Entar dingin nggak enak,” ujar Melisa menawarkan.
“Aku baru saja menerima tawaranmu untuk menjadi teman, tapi kau sudah sangat bawel dan mengatur.” Devan mendengus sebal sedangkan Melisa hanya tersenyum tidak peduli.
“Maaf, Mas.”
“Ck,” decak Devan.
“Jadi, Mas. Kamu tidak akan melarangku untuk menyiapkan segala kebutuhanmu. Mulai dari makanan, pakaian dan keperluan lainnya. Semua akan saya siapkan tanpa harus kamu tolak,” ujar Melisa memberitahu.
Alis Devan mengernyit. “Ish, sudah kubilang. Kau tidak perlu berlaku seperti istri yang baik, Melisa. Karena hubungan kita hany—“
“Hubungan kita hanya di atas kertas saja. Itu yang Mas Devan ingin katakan?” sela Melisa cepat.
Devan hanya mendengus sebal. “Mas, saya ingat itu. Tapi bukankah saya sudah katakan. Izinkan saya untuk menjadi teman, Mas?”
“Cuman teman, Melisa. Bukan seorang istri atau pembantu. Seorang teman tidak menyiapkan segala hal yang tadi kamu sebutkan,” ucap Devan.
Melisa mengangguk-angguk paham, membuat Devan memutar bola mata jengah. “Ya, memang aku paham itu. Tetapi, pertemanan kita berbeda. Aku boleh melakukan seperti yang aku jelaskan sebelumnya tadi. Dan aku mohon, Mas Devan tidak menolaknya. Karena aku tidak akan mengharapkan apa-apa. Percayalah,” ucap Melisa meyakinkan.
“Aku tidak setuju,” tolak Devan.
“Demi orang tua kita. Aku juga melakukannya dengan alasan itu, Mas. Lagian, apa salahnya aku melakukan itu. Aku tidak akan meminta hatimu yang mungkin beku, entah karena apa.” Devan terdiam mendengar kalimat Melisa yang menyinggung tentang hatinya yang telah beku.
Benar yang dikatakan Melisa. Hati Devan memang sudah beku. Beku akan masa lalunya yang belum usai. Bukan belum usai, tapi Devan yang tak mau mengusaikannya. Mata Devan menatap mata Melisa yang menunggu persetujuan Devan.
“Mas, aku tidak akan mengharapkan apa-apa dari hubungan ini. Karena aku memang tidak berani berharap pada hati yang tak bisa cair. Aku takut ikut beku, mati dan kaku karenanya. Aku takut itu. Jadi, jangan takut,” kata Melisa sekali lagi meyakinkan Devan.
Devan kembali terdiam. Sepertinya, untuk memutuskan hal itu sama sulitnya dengan melupakan dan menganggap Reina sudah tiada. Devan terlalu berpikir keras, padahal ia hanya perlu mengatakan ya atau tidak, pikir Meliza.
“Bagaimana, Mas? Kau setuju?” cecar Melisa, tapi Devan masih bum mengatakan apa-apa. Melisa menghembuskan nafasnya kasar. “Kalau kau masih membutuhkan waktu untuk memutuskannya. Maka silahkan, aku akan menunggu.”
Melisa berbalik hendak pergi meninggalkan Devan yang terdiam seperti orang bisu. Namun langkah Melisa terhenti saat satu kata Devan keluar dari mulutnya. “Ya.”
Melisa berbalik kembali menghadap Devan dengan alis saling bertautan bingung. “Ya? Ya apa?” tanya Melisa.
“Ya, aku setuju.”
Seulas senyum terbit di sudut bibir Melisa mendengar jawaban Devan. Akhirnya, rencana Melisa berhasil juga. Sekarang hanya dia akan berpikir bagaimana cara membuat Devan jatuh cinta padanya dan menerima hubungan mereka.
“Terima kasih,” ucap Melisa senang.
“Ck, tidak perlu berterima kasih. Aku melakukannya semata-mata untuk orang tuaku dan keuntunganku sendiri. “
“Keuntungan?”
“Ya, keuntunganku yang tidak perlu menyewa pembantu lagi. Karena kau sudah ada. Jadi, lakukan apa saja yang kau mau,” jelas Devan.
Melisa menghela nafas kasar. Walau dia sudah menyiapkan hatinya, tapi tetap saja. Rasanya sakit. Tapi tidak apa-apa, Melisa akan berusaha untuk tegar dan kuat. Demi tujuannya.
“Baiklah,” ucap Melisa mengangguk mengiyakan.
Lalu, setelah itu. Melisa pun berjalan masuk ke dapur menyimpan nampan. Seulas senyum licik penuh rencana terbit di sudut bibir Devan. Akan ada rencana yang Devan susun untuk membuat Melisa menyerah untuk berusaha untuk bisa mengambil hati Devan.
Tanpa Melisa tahu, Devan sebenarnya tahu rencananya meminta menjalin hubungan pertemanan. Hal ini, sangat mudah Devan tebak. Devan akhirnya menerimanya karena ingin tahu sampai mana kekuatan Melisa. Tanpa Devan tahu, Melisa ada wanita tangguh.
***