Devan menghela nafas kasar saat sudah tidak berada di luar rumah. Jauh dari hadapan Melisa. Devan mengusap wajahnya gusar merasa tidak tega melakukan hal demikian menyakitkan kepada Melisa.
Devan telah menghina dan membuat Melisa menangis. Sebenarnya, Devan tidak mau melakukan itu. Karena semua ini bukan kesalahan Melisa sepenuhnya. Bahkan, Melisa tidak tahu apa-apa.
Namun Devan tidak ingin terjebak dengan hubungan semu yang tidak tahu arah tujuannya akan kemana. Devan harus melakukan hal itu, pikir Devan. “Maafkan aku, Melisa.”
Devan tahu, Melisa pasti sangat terpukul dengan apa yang tadi ia lakukan dan katakan pada gadis itu. Tetapi, Devan juga tidak tahu harus bagaimana, agar Melisa tidak betah dengan hubungan semu mereka ini. Sehingga, Melisa akan memaksa untuk segera mengakhiri semua ini.
“Kita tidak boleh berada tetap di hubungan yang seperti ini, Mel.” Lalu, Devan masuk ke dalam mobil untuk segera berangkat ke tempat kerjanya.
Sementara di dalam rumah, Melisa duduk di kursi meja makan memandang makanan yang tadi ia buat untuk sarapan Devan dan dirinya. Namun tanpa Devan mau melihat usaha dan niat Melisa. Devan dengan seenaknya menolak bahkan menghina makanan buatan Melisa.
“Hubungan seperti inikah, yang Ayah harapkan untuk aku jalani seumur hidup?” Melisa menyeka air matanya yang tiada henti menetes membasahi wajah cantiknya.
“Kenapa Ayah tidak memikirkan hal ini kedepannya terlebih dahulu sebelum memutuskannya, Ayah? Kau membuatku di lema,” kata Melisa lirih.
Tanpa sadar, Melisa sudah melewatkan satu kelas mata kuliah penting. Melisa tak lagi sadar kalau dirinya sudah terlambat. Yang ia ingat hanya kata-kata menyakitkan dari Devan untuknya tadi.
Bagaimana mungkin, Devan menganggap hubungan sakral mereka hanya di atas kertas saja? Melisa kembali menangis hingga ia terisak. Melisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menangis terseduh-seduh.
***
“Eh, kok, aku penasaran, ya, Fit.”
“Penasaran apa?” tanya Fitri ibu Melisa pada Riana besannya.
Di saat ini, Riana dan Fitri sedang berada di rumah Riana berbincang-bincang heboh membicarakan Devan dan Melisa. Mereka mengira-ngira tentang malam panas Melisa dan Devan semalam.
Mereka mengira, semalam Devan dan Melisa melewati malam yang penuh gairah dan romantis. Tanpa mereka tahu, Melisa dan Devan tidak melalui malam yang seperti dipikirkan kedua orang tua masing-masing. Bahkan, Melisa dan Devan sama sekali tidak tidur di kamar yang sama.
Apa yang akan diharapkan dengan hubungan yang tak pernah diinginkan. Tak perlu berharap lebih pada hubungan semu seperti yang dijalani Melisa dan Devan. Malam pertama penuh gairah atau penuh cinta dan romantis. Tidak ada hal semacam itu.
“Aku penasaran malam pertama mereka kaya gimana?” ucap Riana sembari mengkhayalkannya.
“Ck, kamu ini ada-ada saja. Seperti tidak pernah melaluinya saja,” protes Fitri.
“Hehe... Bukan begitu, Fit. Kamu tahu, ‘kan bagaimana kakunya Devan?!”
Fitri mengangguk sekali. Benar saja apa yang dikatakan Riana. Devan orang yang kaku, sedangkan Melisa orangnya pemalu. Apakah, mereka akan melalui malam penuh cinta itu? Pikir Fitri.
“Aku takut, Devan nggak tahu cara menyenangkan istri,” ujar Riana.
“Ish, kamu pikirannya kemana-mana, sih. Lagian, Melisa dan Devan belum berpengalaman. Jadi, wajar daja bukan?!”
“Eum ... Iya, juga, sih. Hanya saja, aku sudah tidak sabar menimang cucu, Fit.” Riana tersenyum membayangkan satu wajah bayi yang lucu.
“Ish, nanti kalau sudah waktunya juga kita bakalan menimang cucu, kok. Kamu kira, aku nggak begitu? Aku juga sudah nggak sabar kali,” ucap Fitri.
Riana terkekeh pelan. Mereka berdua sekarang duduk di ruang tengah. Mereka tertawa-tawa memikirkan kalau nanti Melisa hamil dan melahirkan bayi-bayi lucu. Mereka pasti akan sangat bahagia.
Di tempat lain, Devan baru saja selesai memeriksa beberapa pasien. Hari ini, tidak terlalu banyak pasien. Jadi, Devan bisa bersantai sejenak untuk sarapan dan minum kopi. Berhubung tadi dia tidak sempat sarapan di rumah. Makanya, ia memilih untuk sarapan di ruangannya.
“Wih, makan siang nggak ngajak-ngajak lo.” Rayhan teman seprofesi Devan masuk tanpa permisi ke dalam ruangan Devan membuat Devan tersentak kaget.
“Ck, kebiasaan banget lo. Masuk tanpa ngucapin salam,” protes Devan dengan wajah garang.
Bukannya takut, Rayhan malah hanya terkekeh sembari duduk di kursi depan meja Devan. Rayhan adalah sahabat Devan dari kecil. Rayhan orangnya memang suka semaunya, terkenal tukang rusuh, serta playboy dan penjahat kelamin.
“Assalamualaikum, Dokter Devan ganteng tapi dingin kaya Es,” ucap Rayhan meledek Devan dengan gaya khasnya.
“Ck, terlambat,” ujar Devan kesal sembari menyuapi mulutnya dengan makanan.
“Ish, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali, Dev. Lagian, kenapa nggak dijawab, sih? Itu, ‘kan doa?!”
Devan memutar bola mata jengah, sembari mengunyah dia membalas ucapan Rayhan. “Berisik, lo.”
“Hahah... Lo emang gunung es paling dingin yang belum bisa ditaklukkan oleh siapa pun itu.”
Devan sama sekali tidak menggubris ledekan Rayhan, ia hanya fokus pada makanannya. Devan lapar. Semalam, ia tidak sempat makan malam, dan pagi tadi dia juga tidak sempat sarapan. Makanya, ia sangat lapar.
Daripada meladeni ocehan Rayhan. Lebih baik dia sarapan. Lebih bermanfaat bagi tubuhnya yang kelaparan dan butuh nutrisi itu.
“Lahap benar lo, Dev. Kaya nggak pernah makan sebulan aja lo,” ledek Rayhan lagi membuat Devan mendengus sebal.
“Semalam gua nggak sempat makan malam dan pagi tadi, gua juga nggak sempat sarapan.”
“Ck, emang istri lo nggak siapin makanan buat lo?” Mendengar kata istri. Gerak tangan Devan berhenti, ia melirik ke arah Rayhan.
“Istri? Berhenti menganggap Melisa sebagai istri gua. Dan inget! Gua nggak mau ada yang tahu kalau gua udah nikah,” peringat Devan pada Rayhan.
Rayhan menghela nafas kasar, Rayhan sudah tahu Devan akan bereaksi seperti ini saat ia memanggil Melisa sebagai istri Devan. Rayhan juga sangat tahu, apa alasan Devan sehingga membuat Devan sama sekali tidak mau menerima Melisa sebagai istrinya.
Rayhan sahabat Devan sejak kecil. Semua rahasia Devan, Rayhan tahu. Begitupun sebaliknya. Mereka tidak pernah menyembunyikan hal apapun satu sama lain. Maka jangan heran, kalau Rayhan tahu segalanya tentang Devan dari pada yang lain.
“Mau sampai kapan lo nggak mau anggap Melisa sebagai istri lo?” tanya Rayhan.
Devan tidak menjawab apa-apa. Ia masih hanya fokus pada makanan di depannya. Jujur saja, Devan malas kalau Rayhan sudah akan membahas hal ini. Masalahnya, Devan tahu bagaimana Rayhan akan memaksanya untuk segera melupakan mantan kekasihnya yang telah lama tiada.
Sedangkan, Devan sama sekali masih belum ada niatan untuk melupakan Reina. Devan masih sangat mencintai gadis yang telah lama meninggalkan dunia, meninggalkan Degan dan cinta serta kenangan indah mereka.
“Dev, gua udah bilang ini berkali-kali. Dan sebagai sahabat, gua gak akan berhenti atau lelah untuk mengingatkan elo. Berhenti bertaut pada sebuah harapan yang akan membuatmu terluka. Bukankah, dengan kamu berharap Reina kembali hidup dan kembali bersamamu adalah hal yang akan membuatmu terluka luka-lukanya?”
Devan meneguk air mineral yang selalu saja ada tersedia di atas mejanya. Devan menyisakan sedikit saja. Lalu, Devan menatap Rayhan dengan tatapan seperti biasa, tak terbaca.
“Reina belum meninggal, Ray. Dan gua yakin itu,” ucap Devan yakin.
Rayhan menghembuskan nafas kasar, Rayhan lelah berdebat dengan Devan yang memiliki keyakinan yang sulit untuk ditembus. Semua orang tahu, kalau Reina sudah mati dalam kecelakaan itu. Walau mayat Reina waktu itu tidak dapat di kenali. Namun, semua orang yakin kalau mayat itu adalah Reina.
Ciri fisik dan baju yang dikenakan mayat itu sama persisi dengan baju yang dikenakan oleh Reina. Lagipula, Reina mengalami kecelakaan tunggal, dan yang di dalam mobil hanya ada Reina seorang saja. Jadi, bisa disimpulkan kalau mayat itu memang adalah Reina.
“Dev, mau sampai kapan lo yakin kalau Reina belum meninggal? Semua orang bahkan orang tua Reina saja sudah yakin kalau itu adalah mayat Reina. Dan lo, lo hanya pacarnya saja kenapa masih belum yakin kalau mayat yang ditemukan di TKP itu adalah Rei—“
“Feeling,” sela Devan cepat. “Feeling gua mengatakan kalau itu bukan Reina. Dan Reina masih hidup, gua yakin itu, Ray.”
Rayhan memalingkan wajahnya, menghembuskan nafas kasar. Ia tahu kalau Devan akan sekeras kepala ini saat dinasehati tentang Reina, tetapi Rayhan tetap saja mencoba menasehatinya. Sungguh, hal ini akan menjadi hal sia-sia yang dilakukan Rayhan sepanjang hidupnya.
“Feeling? Feeling lo mengatakan kalau Reina belum mati? Lalu, kalau memang Feeling lo kuat. Sekarang gua mau nanya, saat ini Feeling lo mengatakan Reina di mana? Kalau memang lo seyakin itu sama feeling lo yang kuat tentang Reina yang masih hidup. Sekarang lo kasih tau gua, di mana Reina saat ini?” cecar Rayhan yang membuat Devan diam tak berkutik.
“Lo nggak bisa jawab, ‘kan? Karena memang Feeling lo nggak sekuat apa yang lo pikir, Dev. Lo hanya belum bisa menerima kenyataannya kalau Reina udah nggak ada di dunia ini. Maka dari itu, lo hilang feeling lo kuat. Padahal nggak sama sekali,” lanjut Rayhan skatmat.
Devan menghela nafasnya kasar, ia mengusap wajahnya gusar. Sejujurnya, yang dikatakan Rayhan benar. Mungkin dia hanya belum bisa mengikhlaskan Reina. Maka dari itu, Devan selalu masih yakin, atau mungkin Devan saja yang selalu meyakinkan dirinya kalau Reina masih hidup untuk menghibur hatinya yang begitu rapuh ditinggalkan oleh sang kekasih.
Rayhan memajukan badanya sembari menatap lurus Devan. “Devan, gua mau lu jangan sia-siakan waktu berharga lo yang hanya untuk memikirkan orang yang sudah tiada. Bukan berarti gua gak peduli sama Reina. Gua peduli, bahkan gua sama kehilangannya seperti yang lo rasain. Reina sepupu gua, jad bohong kalau gua juga nggak ngerasa terpukul. Bahkan, jujur Dev. Kadang gua masih belum percaya kalau Reina udah nggak ada....” Rayhan sengaja menjeda ucapannya, ia ingin melihat reaksi Devan. Namun Devan hanya diam tak mengatakan apa-apa.
“Tetapi, kenyataan selalu menamparku membuatku sadar. Kalau sebenarnya, Reina memang sudah tiada. Lagipula, Dev. Yang hidup bukankah memang akan kembali ke yang menciptakan. Lalu, kenapa kita harus menyakiti dan membuang waktu kita hany untuk menyesali dan meratapi kematian? Lo, gua, siapa pun itu, pasti akan mengalaminya. Cepat atau lambat,” lanjut Rayhan panjang lebar.
Devan menarik nafas berat. “Entahlah, Ray. Tapi, gua masih belum bisa melupakan Reina. Gua masih sangat mencintainya. Hatiku, masih penuh akan tentangnya,” ucap Devan dengan lirih.
“Haahh... Lo bukan belum bisa melupakannya, Dev. Hanya saja, lo masih belum mau melupakannya,” ledek Rayhan.
“Entahlah,” ujar Devan.
Mereka berdua sama-sama terdiam dengan isi kepala yang ribut masing-masing memikirkan hal lain. Entahlah, tapi Devan dan Rayhan pastinya sedang memikirkan hal yang sama, hanya saja caranya menyikapi dan mengolahnya saja yang berbeda.
“Lalu, hubungan lo dengan Melisa akan bagaimana selanjutnya?” tanya Rayhan lagi tiba-tiba.
Devan menghela nafas kasar terlebih dahulu sebelum menjawab, “Entahlah. Tapi, aku sedang berusaha.”
“Berusaha menerimanya?” tanya Rayhan.
“Berusaha untuk membuatnya tidak betah tinggal denganku, agar ia segera meminta ceria.”
Rayhan melebarkan matanya mendengar ucapan Devan. Ia tidak menyangka sahabatnya ini akan melakukan hal bodoh seperti ini.
“Astaga, kau ini. Kepalamu itu tak punya otak atau memang sudah korslet?”
“Maksud lo?” tanya Devan kesal.
“Ck, Melisa gadis yang baik, Dev. Gua yakin, dengan lo berusaha menerima pernikahan lo dan menerima hadir Melisa sebagai pengganti Reina. Hidup lo akan kembali berwarna dan lebih hidup.”
Kening Devan mengernyit. “Dari mana lo tahu Melisa gadis yang baik?” tanya Devan curiga.
“Ck, Melisa sahabat adek gua, Dea. Dia sering datang kerumah. Lagian, Melisa tidak kalah cantik dengan Reina. Bahkan, lebih cantik Melisa,” ucap Rayhan menggoda Devan.
“Hhmm... Jadi, lo kenal Melisa?” tanya Devan tidak menggubris ucapan Rayhan yang memuji Melisa.
“Akrab mungkin bisa dikategorikan hubungan gua sama dia,” jawab Rayhan sembari terkekeh.
Devan memutar bola mata jengah. Rayhan sangat suka menggoda Devan. Devan yang kaku akan cewe, dan Rayhan yang sangat tahu luar dalam cewe sangat cocok bersahabat dengan Devan. Rayhan yang suka sekali menggonta-ganti pacar dan teman tidur suka sekali menggoda Devan.
Namun karena Devan pria yang amat sangat sulit tergoda itu. Sampai sekarang masih pada pendiriannya. Bahkan, setelah menikah pun, Devan bahkan belum sama sekali melepas perjakanya.
***