Melisa duduk di atas ranjang over sise. Ia memperhatikan seisi kamar barunya. Sungguh luas, lebih luas dari kamarnya yang ada di rumah Fitri ibunya. Melisa menghela nafasnya kasar. Walau kamarnya luas dan mewah, tapi ada rasa tidak senang di hatinya.
Entah apa, tetapi ini sangat menyiksa dan sama sekali sangat mengganggu. Apalagi mengingat tatapan dan kata-kata Devan padanya beberapa menit yang lalu. Mata Melisa berkaca-kaca. Ini yang sangat ditakutkan olehnya.
Melisa kira, keputusannya menerima perjodohan ini adalah keputusan yang terbaik. Namun nyatanya salah. Ini adalah keputusan terburuk yang pernah Melisa putuskan sepanjang hidupnya. Akan tetapi, saat ini bukan lagi waktunya ia menyesali apa yang telah terjadi.
Kali ini, ia harus menjalaninya. Menjalani semua yang akan terjadi kedepannya. Lagian, Melisa harus berusaha untuk menjadikan rumah tangganya menjadi rumah tangga yang sesungguhya.
Melisa menarik nafas panjang. Ia meyakinkan dalam hatinya. Kalau semua kesedihan hari ini akan segera berakhir. Ia juga berharap dalam hati. Semoga Devan akan segera berubah dan menerima kehadiran Melisa serta hubungan mereka.
“Bismillah... Ya, Allah. Bantu aku,” gumamnya pelan.
Di lain tempat, Devan sedang berdiri di dalam kamarnya. Di depan ranjang. Tepatnya di bawa sebuah bingkai yang sangat besar di dalam kamarnya. Di atas ranjangnya. Sebuah foto seorang perempuan yang sengaja di cetak sangat besar.
Tatapan Devan berporos pada foto itu. Tak sedikit pun Devan berkedip menatap foto tersebut. Wajah perempuan itu sangat membuat dan menjadikan Devan candu untuk terus menatapnya.
Dia adalah Reina, Almarhum kekasihnya yang meninggal akibat kecelakaan yang dialami sang kekasih sewaktu pulang dari kerja. Reina satu-satunya gadis yang mampu membuat Devan jatuh cinta. Cinta secinta-cintanya. Hingga membuat hati Devan beku untuk kembali membuka hati ke lain hati.
Reina pergi dengan membawa separuh raga Devan. Maka dari itu, Devan sudah hampir dengan manusia tanpa raga. Bagai mayat hidup. Yang berjalan tanpa arah tujuan. Mata Devan berkaca-kaca mengingat betapa indah masa lalunya bersama dengan Reina.
“Aku merindukanmu, Reina. Apa kau pun merasakan hal yang sama?” Air matanya jatuh membasahi wajah datar milik Devan.
Selama ini, Devan selalu menyembunyikan air matanya serta kesedihannya atas kehilangan sosok Reina dalam hidupnya. Bahkan, kedua orang tuanya pun tidak tahu tentang kesedihannya. Atau foto Reina di kamar Devan yang dicetak besar. Sebab, Devan tidak pernah mengizinkan siapa pun bisa masuk ke dalam kamarnya. Sekalipun itu mama atau papanya. Devan tetap tidak mengizinkannya.
Bahkan, alasan Devan membeli rumah sendiri. Itu semua karena hal itu. Devan tak ingin privasinya diganggu. Maka dari itu, Devan terpaksa membeli rumah dan tinggal sendiri. Namun sekarang kedua orang tuanya mengacaukan segalanya. Ia memaksa Devan untuk menbawa Melisa untuk tinggal bersamanya.
Alasan kedua orang tuanya masuk akal. Yang mengatakan, Melisa adalah istrnya yang harus tetap ikut bersama Devan. Tak ada alasan yang bisa membantah alasan kedua orang tuanya. Devan pun terpaksa melakukannya.
“Rein, hari ini, aku udah nikah. Nikah tapi bukan bersamamu. Tetapi bersama perempuan pilihan orang tuaku,” ucap Devan kepada sebuah foto.
Entahlah, Devan masih waras atau tidak. Karena ia lebih suka berbicara dengan benda mati daripada dengan orang.
“Kenapa, Sayang? Kau sedih karena aku menikahi perempuan lain?” Sudahlah, mungkin Devan benar sudah gila.
Air matanya terus terjatuh membasahi wajah tampannya. Devan terisak. Ia menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah banjir oleh air mata. Lalu, tak lama, ia mendongak menatap kembali foto itu.
“Tenang saja, Reina. Walau dia sudah menjadi istriku, tapi hatiku tetap padamu. Aku tidak akan pernah jatuh cinta padanya. Sebab, hatiku sudah terpaku padamu,” katanya lagi dan kembali terisak.
Devan lalu luruh ke bawa lantai. Ia menangis sejadi-jadinya. Sungguh, Devan masih belum bisa mengkhilaskan kepergian kekasihnya. Ia masih belum terima kenyataan yang sudah lama terjadi. Maka dari itu, ia masih sangat terpaku pada masa lalunya.
***
Pagi-pagi sekali, Melisa sudah berkutat di dalam dapur. Ia memasak sarapan untuk dirinya dan Devan suaminya. Berhubung karena Devan tidak punya pembantu tetap yang akan tinggal dan menyiapkan makanan, maka Melisa yang akan turun tangan.
Bukan tidak ada pembantu. Hanya saja, Devan menyewa satu orang untuk membersihkan rumah saja. Itu pun tidak setiap hari datang. Orang itu akan datang di setiap hari senin atau minggu. Maka itulah, sekarang Melisa sibuk membolak-balik nasi di atas penggorengan.
Berhubung Melisa terlambat bangun dan harus segera berangkat kuliah. Makanya, ia hanya membuat sarapan sederhana dan masaknya yang cepat. Karena tidak mungkin ia membuat sarapan yang rumit. Sedangkan dia sudah hampir telat.
Melisa memtikan kompor dan mengambil wadah untuk nasi goreng yang telah ia buat. Ia memindahkannya di dalam mangkok bening besar dan menyajikannya di atas meja makan. Setelah itu, ia tersenyum dan merasa puas telah membuat sarapan untuk dirinya dan suaminya.
“Akhirnya selesai juga,” gumamnya senang. “Sepertinya, aku harus membangunkan Mas Devan dulu. Baru setelah itu aku akan mandi,” katanya pada diri sendiri.
Melisa yang baru saja berbalik dan hendak menuju lantai atas. Terhenti saat melihat Devan yang sudah rapi berjalan menuruni tangga dengan begitu tampan. Untuk sesaat Melisa terpesona akan ketampanan suaminya. Namun hanya sebentar, saat Devan menatapnya dengan dingin dan tajam.
Melisa tiba-tiba gugup dan salah tingkah. Ia menghela nafas beberapa kali agar rasa gugupnya hilang dengan segera. Ia memalingkan wajahnya saat Devan tidak berhenti menatap tajam dan dinding tak bersahabat kepadanya.
Sesungguhnya, Melisa sangat ingin menghampiri Devan, tapi ia sangat takut. Beberapa kali Melisa memberi keberanian pada dirinya di dalam hati, tetapi tetap saja. Rasa takut itu selalu saja menghampirinya.
Namun, saat Devan sudah berada di lantai bawa dan hendak berjalan keluar rumah. Melisaa pun memberanikan diri untuk menghampiri suaminya. Ia memasang wajah manis. Agar, Devan berhenti memandangnya dingin.
“Mas Devan, saya sudah buat sarapan.” Devan berhenti dan menatap Melisa dengan tatapan yang sulit diartikan oleh gadis itu.
Melisa terdiam dengan debaran jantungnya yang sangat cepat membuat Melisa tidak tahu harus mengatakan apa. Sedangkan Devan juga ikut terdiam sembari terus menatap Melisa dengan tatapan yang sama.
“Lalu?” tanya Devan dengan alis terangkat sebelah. Aura suaranya yang begitu kenakutkan membuat bulu kuduk Melisa meremang. “Kalau kau sudah membuat sarapan. Apa hubungannya denganku?”
Melisa menarik nafas panjang mendengar pertanyaan Devan yang seharusnya proa itu sudah tahu jawabannya. Melisa sudah gemetar ketakutan. Ingin rasanya ia berlari meninggalkan Devan sendirian. Namun, tetap saja ia menguatkan dirinya untuk menghadapi Devan.
“Oh, itu. Saya mengajak Mas untuk sarapan bersama. Tetapi, saya hanya membuat nasi goreng sederhana saja. Masalahnya saya tidak banyak waktu untuk membuat sarapa—“
“Saya juga tidak banyak waktu untuk memakan sarapan sampah yang kau buat itu,” sela Devan cepat dengan kata-kata menyakitkan bagi Melisa.
Melisa terdiam mendengar hinaan Devan pada sarapan yang ia buat. Melisa sama sekali tidak menyangka Devan akan setega itu mengatakan kata yang akan menghantam hati Melisa, dan membuatnya terluka.
“Aku peringatkan, Melisa. Berhenti membuatkan aku sarapan atau makanan, atau apalah itu. Berhenti bersikap seolah kau benar-benar istriku. Karena sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menganggapmu demikian,” ucap Devan panjang lebar.
Melisa mencerna baik-baik apa yang dikatakan Devan padanya. Bagaimana mungkin Devan mengatakan hal demikian menyakitkan bagi Melisa. Devan tak mengaggapnya istri? Atau memang Devan tak menganggap adanya hubungan ini? Lalu, kemarin saat ia mengucapkan ijab Qabul itu. Semua itu apa?
“Berhenti bersikap seperti ini. Sebab, aku tidak suka. Aku menikahimu itu karena terpaksa. Senua itu hanya untuk menyenangkan hati kedua orang tuaku. Jadi, mulai sekarang berhenti bersikap seolah kau istri yang baik. Karena di antara kita, tak ada hubungan apa-apa. Kecuali, hubungan di atas kertas saja.” Sekali lagi, Devan kembi menggores hati Melisa.
Setelah mengatakan itu, tanpa berniat meminta maaf. Devan dengan seenaknya pergi begitu saja tanpa mau menoleh pada luka yang telah ia torehkan di hati Melisa. Perih, itulah mungkin yang dirasakan Melisa saat ini. Bahkan mungkin, lebih dari rasa perih saja.
Mata Melisa yang sejak tadi berkaca-kaca sekarang sudah menumpahkan kaca-kaca bening itu. Sehingga, membasahi wajahnya yang cantik. Melisa tidak pernah menyangka kalau Devan tidak pernah menganggap hubungan mereka sakral.
Devan hanya menganggap hubungan mereka semu dan hanya ada di atas kertas saja. Melisa menggelengkan kepalanya, ia menangis sejadi-jadinya. Tak pernah ia merasa sakit yang sehebat ini.
“Ayah, inikah pria yang kau pilihkan untukku? Beginikah, takdirku? Kenapa, kenapa harus sesakit ini, Ayah?” Air mata Melisa luruh bersamaan dirinya yang ikut luruh jatuh di atas lantai.
Melisa memegang dadanya yang sesak. Nagaimana mungkin ia akan bertahan dengan pernikahnnya, yang bahkan baru saja berjalan lebih dari 24 jam ini. Sesakit inikah rasanya dihina oleh suami sendiri dan tak dianggap? Melisa tidak berhenti menangis. Entah apa yang harus ia lakukan dan sesalkan.
***