Devan yang baru saja keluar dari kamar setelah berdebat sebentar dengan Melisa. Tak sengaja menoleh ke samping bersamaan dengan Rayhan yang keluar dari kamarnya. Devan mengernyitkan kening heran, tapi tidak dengan Rayhan. Pria itu bahkan menyapa Devan seperti biasa. “Lo, di sini?” tanya Devan heran. “Ck, memang kenapa? Lo kira gua nggak bakalan mampu membayar hotel sebagus ini?” Devan memutar bola mata jengah. “Ini kebetulan atau—“ Rayhan mengedikkan kedua bahunya. “Entahlah, bisa kebetulan bisa karena memang tuhan menakdirkanku untuknya,” kata Rayhan membuat Devan mengangkat sebelah alisnya menatap Rayhan. “Untuknya? Siapa maksud lo?” “Ya, siapa lagi kalau bukan Melisa.” Devan sedikit terkejut dengan jawaban Rayhan, tapi ia berusaha untuk memasang wajah biasa-biasa saja. “Jad

