Rama masih terdiam mencoba untuk tetap tenang agar mamanya tak panik, dia sudah melupakan kejadian di rumah pohon itu, tetapi ingatannya selalu tertuju pada masalah tersebut. Semalaman saja Rama tidak pulang, dia memilih tidur di penginapan hanya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan berbagai macam jenis dari mamanya, tetapi pagi ini, dirinya harus memberanikan diri bertanya langsung agar jelas dan tak timbul kesalahpahaman. “Pagi, Ma.” “Eh, Nak? Sejak kapan berdiri di situ? Kenapa nggak langsung masuk, kamar Mama selalu terbuka untuk kamu, Nak,” cicit Zahra. “Nggak enak loh, Ma. Mama punya privasi pastinya. Bisa kita bicara di ruangan lain?” tanya Rama, sedikit celingukan mencari sosok laki-laki tua itu, jangan sampai ada di dalam dan mendengar semuanya. Zahra pun dengan senang hat

