Setelah pulang dari tempat tadi, Naura belum bisa melupakan setiap kejadiannya. Dia selalu mengingat bahkan adegan itu selalu terbayang dalam ingatannya, seketika hatinya perih, bak tertusuk duri lalu disiram air garam dalam waktu yang bersamaan. Andi sampai pagi lagi pun belum juga berhasil melupakan kejadian yang sudah terjadi tadi, awalnya dia sendiri ragu melakukan hal sekeji itu tetapi mau tidak mau dia harus melakukannya dengan tega. “Apa kamu menyesal?” tanya wanita itu. “Tidak,” jawabnya. “Lalu, kenapa kamu nggak ada tanda-tanda bahagia setelah melakukannya, hmm? Aku tahu, itu hanya untuk membalaskan dendam padanya, tapi apa nggak ada sedikit pun rasa senang setelah mendapat kesenangan malam tadi bersamaku? Aku tanya, dari hati ke hati.” “Maaf, bagaimanapun juga, wanita yang a

