Bab 7 - Musuh Dalam Selimut

2032 Kata
Naura belum bisa mengatakan yang sebenarnya pada Rama ataupun orang lain, karena ancaman dari Andi tidak main-main, jika sampai Andi tahu semuanya telah dia ceritakan pada orang lain, maka hancurlah semua, segala harapannya, Naura tak mau itu. “Naura?” Rama mencoba untuk bersabar, melihat Naura melamun pun membuatnya tambah yakin pasti ada yang disembunyikan. Tidak ada hujan ataupun angin, tiba-tiba Naura memeluk Rama lebih dulu, hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini, menerima dengan ikhlas apapun yang sudah terjadi pada hidupnya, Naura akan menjadi istri Andi sampai semuanya bisa dia kendalikan sendiri, walaupun entah sampai kapan terus-menerus bertahan dalam luka. “Terima kasih, sudah menjawabnya,” ucap Rama. Setelah pelukan itu terlepas, “Aku belum mengatakan apapun padamu, Rama.” “Tidak, kamu salah. Bagiku, jawaban itu bukan hanya sebuah kata, melainkan tindakan juga bisa ku anggap sebagai jawaban.” Naura menatapnya heran, Rama tersenyum dan sudah mengerti apa yang harus dia lakukan, tentunya demi kebaikan serta keselamatan Naura, wanita yang masih bertahta di dalam hatinya. Membiarkan Naura untuk melakukan apapun yang dia mau, tanpa memaksa ataupun menjerumuskan ke dalam lubang yang fana, Rama mengerti bahwa dirinya tak seharusnya terlalu ikut campur dalam rumah tangga mereka. “Aku akan pergi, pakailah pakaian kamu, jangan sampai kedinginan membuatmu menjadi sakit nantinya, percayalah ... dari kejauhan aku akan terus memantau dan menjagamu, hati-hati,” ucap Rama, sebelum dia pergi. “Rama ....” “Rama, tunggu.” Rama kembali menoleh, “Ya? Kenapa?” Rama bertanya. “Jaga dirimu juga, jangan sampai Andi mengetahui kejadian saat ini,” sahut Naura, yang masih menunduk sepanjang percakapan. Rama kembali mendekati wanita itu, memegangi kedua pundak Naura lalu membisikkan sesuatu, “Kamu yang harus lebih berhati-hati, karena orang macam suamimu itu, tidak akan bisa berubah dalam hitungan hari, kamu mengerti apa maksudku, aku pergi.” Cukup mengerti apa yang telah Rama katakan, Naura hanya mengulas senyum sebelum laki-laki di hadapannya itu benar-benar ke luar dari rumah nya, entah saat ini di mana keberadaan Andi, yang jelas Naura lebih tenang jika suaminya tak ada di rumah dalam waktu yang lama. Melihat sahabatnya yang pergi nya cukup lama, membuat Doni pun langsung bertanya-tanya. Entah itu bertanya habis dari mana dengan siapa, lalu menginterogasi lainnya, seakan-akan dia tak ada di pihak Rama, itu yang dari kemarin menjadi pikiran bagi Rama. “Aneh, dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Jangan sampai dia berpihak pada papa, aku harus memantau di setiap saatnya.” Doni terlihat sangat kesulitan, entah apa yang sedang dia kerjakan pada laptopnya, Rama cukup menghampiri dan melihatnya sendiri. “Kenapa? Tidak ada jaringan? Sudah, besok kita akan segera pulang ke kota,” cecar Rama. “Hah? Pulang? Kenapa secepat itu? Bukannya kita belum berhasil di sini, nanti apa kata ....” ucapan Doni menggantung. “Aku yang akan menjelaskan langsung apapun itu pada warga di sini, cukup membutuhkan waktu sehari saja. Kamu? Pantau terus laptopnya, aku akan segera pergi,” seru Rama, mengganti pakaian lalu pergi lagi tanpa mengajak ataupun memberitahu kepada Doni. Baginya, percuma saja kalaupun harus memberitahu Doni, toh dia saja tidak sedang berpihak padanya, jangan sampai dia terjebak ke dalam jurang yang sudah disiapkan sendiri oleh orang terdekat seperti papanya ataupun Doni, sahabatnya sendiri. Semuanya sampai melupakan sesuatu yang sangat penting, kedua orang tuanya Doni sudah gagal dibujuk, tetapi ada seseorang yang menurut Rama akan berhasil membantunya dalam satu hari. Mencari tahu sendiri, ternyata benar kedua orang tua itu berada di sana, rumah yang sedikit kumuh tetapi sangat nyaman jika ditempati, Rama bisa merasakan itu semua. “Permisi, apa Ibu ini yang bernama Lilis, Ibu Lilis, kan?” tanya Rama, berbasa-basi sedikit. Ibu paruh baya itu pun menyambutnya dengan senyuman suka hati, “Muhun pisan, abdi teh Lilis, ada apa? Ada naon?” Rama langsung saja menjelaskan semuanya, pelan-pelan dia membimbing ibu tersebut untuk mengerti apa yang dia ucapkan, perlahan tetapi pasti, ibu Lilis mulai mengerti dan lebih parahnya lagi sudah mengenal kembali siapa sebenarnya Rama. “Masya Allah, kamu teh Rama, nya? Rama anak orang kota anu kaya raya, tea. Benar begitu?” tanya ibu Lilis “Benar, Ibu. Ini saya Rama, masih kenal ternyata.” “Atuh alah, meni kasep tuda. Jangkung ageung, meni pangling.” Rama pun menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal karena merasa tersanjung dipuji calon mertuanya yang tidak jadi, lebih tepatnya belum jadi, hanya tertunda, dia tertawa saat memikirkannya. Ibu Lilis pun pasti belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anak kandungnya selama ini, mengenai itu Rama masih bisa menahan diri untuk tidak memberitahu pada wanita paruh baya yang terlihat sangat manis itu. “Bisa kita bicara sembari duduk, Bu? Supaya lebih leluasa,” pinta Rama. “Iya atuh, kamu teh apa kabar kasep? Lama pisan tiada kabar.” “Saya alhamdulilah baik, Ibu sendiri bagaimana? Baik, kan? Saya ke sini untuk bisnis, alhamdulilah masih dipertemukan dengan kalian,” cecar Rama. Ibu Lilis pun menunduk lalu tiba-tiba tak disangka air matanya menetes, membuat Rama yang melihatnya kebingungan sendiri, mencoba untuk memahami apa sebenarnya yang terjadi sampai menangis. “Ibu, kenapa menangis? Apakah ada ucapan Rama yang menyakiti ataupun ....” “Ibu teh sangat menyesal, dulu buru-buru sekali menerima lamaran dari keluarga Biong. Mereka datang melamar dan menjanjikan beberapa angan, yang kenyataannya tidak sesuai harapan,” cecar ibu Lilis, mulai berbahasa Indonesia. Rama mengangguk paham, jadi semua itu benar-benar perjodohan. Bukan Naura yang memilih sendiri, sudah bisa menduga seperti itu, ternyata memang kenyataannya begitu. Tanpa sepengetahuan siapapun, Rama sudah merekam percakapan dengan ibu kandungnya Naura, banyak sekali obrolan mereka berdua hari ini, bahkan dengan tulusnya ibu Lilis mempersilakan Rama membeli salah satu tanah nya di desa tersebut, situasinya sangat bagus karena di pinggir jalan, bisa sekali dibangun pabrik sesuai kebutuhan perusahaan. Ayahnya Naura pun menandatangani, proses jual beli yang dilangsungkan begitu saja tanpa disangka dan diduga, padahal niat Rama hanya untuk menanyakan perihal Naura, endingnya lebih memuaskan, dalam satu hari bisa terselesaikan dengan sangat baik. Jual beli telah selesai, tanpa paksaan, dan tanpa sesuatu yang buruk pastinya, cukup mendapatkan penjual dengan tanah seperti itu, bisa membuat papanya Rama di kota bangga padanya. Rama sudah sangat berterima kasih pada kedua orang tuanya Naura, secara tidak langsung mereka saling membantu satu sama lain, kedua orang tua itu sangat membutuhkan dana untuk kehidupan sehari-hari, sedangkan Rama? Demi membanggakan papanya. “Tanah masih ada yang lainnya, sedangkan anak? Kami hanya punya satu-satunya, itu pun sudah diperistri orang yang tidak saya sukai sama sekali,” cicit ayahnya Naura, yang tak lain adalah Soleh. Pak Soleh sangat menyukai Rama sedari dulu, hanya saja papanya Rama sendiri yang tidak menyukai Naura, lantaran keluarganya tidak sepadan dengan keluarganya Rama. “Terima kasih banyak, untuk kebaikan Ibu dan juga Bapak, semoga Allah membalas kebaikan kalian,” ucap Rama sebelum pamit untuk pergi, menyalami kedua orang tua itu secara bergantian. Tak pernah ingin pergi, tetapi keadaan yang menuntut Rama untuk segera pergi, karena masih banyak pekerjaan di kota yang sedang menantinya, untuk segera dikerjakan. *** “Andi, mau ke mana kamu? Jangan bawa pakaian sebanyak itu, katakan padaku, mau ke mana?” Naura terus bertanya, tetapi suaminya tak menjawab sama sekali. “Andi, jawab aku. Sebenarnya kamu mau ke mana?” Bertanya pun seakan-akan tiada arti, tak mendapatkan jawaban sedikitpun. Sampai ke teras rumah, Naura masih setia mengikutinya. Bertanya terus-menerus akan ke mana suaminya pergi membawa pakaian sebanyak itu, Andi pun terpaksa menghentikan langkahnya, untuk menatap istrinya terlebih dahulu. “Jangan kepedean, saya mau berikan semua ini pada orang-orang yang membutuhkan, kamu? Jangan mengira saya akan pergi jauh, lalu membebaskan kamu untuk selingkuh,” cecar Andi. “Apa? Kamu mau berbagi pada orang-orang? Tapi, itu pakaian kamu masih pada bagus, Andi, lalu ....” “Di mana letak otakmu? Hah? Mikir dong, masa iya saya sumbangkan barang-barang yang sudah tak layak dipakai lagi, sudah seharusnya seperti ini, lebih bagus dan tidak mengecewakan mereka, awas ... kamu cukup di rumah, tunggu saya pulang,” cetus Andi, tak lupa sebelum dia pergi menyempatkan waktu terlebih dahulu untuk mengelus dan mengecup kening istrinya. “Sudah, jangan tatap saya seperti itu, saya pergi,” lanjutnya. Naura hanya diam sembari meneteskan air matanya, entah kenapa perlakuan yang seperti itu lah yang membuatnya terhanyut, dan tak ingin pergi dari suaminya walaupun di sisi lain suaminya sangatlah kejam, sering memukul dan menyiksa batinnya. Sedangkan yang dilakukan Rama saat ini adalah ikut diam, menyaksikan langsung bagaimana manisnya perlakuan Andi terhadap Naura, ingin sekali membanting laki-laki itu karena sudah membuat hatinya sakit bagaikan tertusuk duri, tetapi tak ada yang bisa Rama lakukan selain diam. “Dia bisa baik seperti itu, setelah kamu memberinya apa?” Rama kemudian bertanya lalu semakin mendekat. Terkejut karena sosok Rama tiba-tiba muncul, Naura pun tak hanya diam melainkan menatapnya lalu menjawabnya. “Aku nggak pernah melakukan apapun, dia yang selalu melakukan apapun untuk aku. Sempat berpikir yang tadi hanya akting, tapi aku rasa itu lah kenyataannya.” “Maksud kamu? Dia mempunyai dua sikap? Terkadang menakutkan lalu bisa bersikap manis juga layaknya pangeran, benar?” tanya Rama lagi. Kali ini, Naura hanya menjawabnya dengan anggukan kepala, karena memang benar apa yang Rama katakan, suaminya mempunyai dua sikap dan dua kepribadian, apapun itu alasannya, Naura hanya ingin hidup tenang tanpa ketakutan lagi. “Oke, aku akan senang jika memang dia masih bisa bersikap baik padamu.” “Rama ....” “Jangan lupakan kedua orang tuamu, meskipun kamu sudah menikah, kasian mereka. Makan saja sampai seperti itu, kamu tanya dan cari tahu sendiri apa maksudku,” cecar Rama, masih menahan rasa sakitnya. “Apa kamu udah bertemu dengan mereka, Ram?” Dengan ragu, Naura bertanya seperti itu. “Hmm, ya. Sudah, berbahagia lah bersamanya. Dia orang yang lebih tepat untukmu, jangan takut lagi padanya, aku rasa dia akan kasar jika kamu tidak mencintainya, maka dari itu, mulailah mencintai suamimu, tugasku selesai. Aku ... pamit karena besok akan kembali ke kota, jaga dirimu, tengoklah kedua orang tuamu,” pamit Rama, yang tadinya akan berjuang tetapi langsung mundur setelah melihat kejadian tadi. Rasanya ingin sekali Rama menoleh kembali ke belakang lalu memeluknya, membawanya ke kota dan menikahinya, tetapi semua itu hanya akan terjadi jika dirinya berani berbuat jahat, pada semua pihak. Semakin dia berniat untuk seperti itu, maka akan banyak hati yang tersakiti olehnya. Lebih memilih terluka sendiri, dan lebih memendam rasa itu seorang diri, daripada membuat hati yang lain ikut merasakan rasa sakitnya, itu jauh lebih baik dibandingkan sebaliknya. Di balik pohon kelapa yang cukup besar, Andi tertawa terbahak-bahak melihat bahkan mendengar langsung bagaimana berhasilnya dirinya hari ini dalam menjalankan tugasnya untuk memisahkan mereka dari cinta masa lalunya yang sangat melekat. Dia memang tidak berbohong dalam hal berbagi, tetapi bersandiwara bersikap manis serta mesra pada istrinya untuk membuat Rama kembali terbakar api cemburu seperti kemarin-kemarin, Andi sadar akan kedatangan Rama, tanpa semuanya sadari Andi sangat licik tidak terkalahkan oleh siapapun. “Rasakan itu, Rama! Kamu memang seharusnya merasakan sakit seperti itu, bahkan lebih sakit saya selama ini tidak dicintai istri sendiri, semoga setelah hari ini, dia tidak akan datang lagi menganggu apapun itu alasannya,” ucap Andi, pada dirinya sendiri. Dirasa sudah cukup untuk menjalankan misi, Andi pun dengan tenang bisa berbagi pada orang-orang yang membutuhkan di desa tersebut, senyumnya tak bisa dia hentikan, karena kejadian tadi sangat membahagiakan. Mengenai Rama telah berhasil membeli tanah milik keluarganya Naura pun sudah Andi ketahui, kelicikan dan kepintaran Andi yang hanya laki-laki desa tak bisa dikalahkan begitu saja. Tentunya, dengan segala bantuan dari Doni, semuanya bisa teratasi sekaligus. Doni pun bekerja sama seperti itu demi kebaikan sahabatnya, agar tak terlalu banyak berharap pada Naura lagi. “Ayo, prepare sekarang. Tak perlu menunggu besok, kalau perlu sore ini langsung pulang,” titah Rama. “Wih, dapat hidayah dari mana ingin pulang secepat itu,” sindir Doni yang saat ini sedang menyesap kopi nya. “Dari mana saja, sudahlah jangan dibahas. Semua urusan kita di desa ini telah selesai, papa pun akan ikut senang jika tahu hasilnya,” sahut Rama. Ikut merapikan kembali semua barang, Doni sempat berpikir apakah dia sudah salah? Apakah semua tindakannya sudah bebas? Ya, dia sering sekali bekerja sama dengan Tuan Brahmana, untuk memisahkan Rama dan Naura. Sepuluh tahun telah berlalu hingga saat ini, Doni selalu bersikap baik tanpa adanya kecurigaan ataupun membongkar sendiri semua keburukannya pada Rama, niatnya memang baik, tetapi caranya sangat salah besar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN