Bab 6 - Huru-hara Pernikahan

2103 Kata
Mencintai seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya itu tidak akan pernah berhasil, walaupun sudah dipaksakan bertahun-tahun. “Jadi, apa yang akan kalian bahas? Saya, tidak ada waktu banyak untuk itu,” tanya laki-laki itu. “Oh, ya. Sebelumnya, nama saya Andi. Perkenalkan nama kalian terlebih dahulu jika ....” “Terlalu banyak tanya, langsung saja pada intinya. Kedatangan kami ke desa sini, untuk menawarkan kerja sama yang bisa saja kalian terima atau tolak, tapi selain itu, sekretaris saya, akan menjelaskan terlebih dahulu bagaimana konsepnya,” cecar Rama. Mendengar Rama yang begitu tegas padahal hatinya sedang sesak, Doni pun takjub pada sahabatnya itu, bisa bersikap profesional meskipun dirasa tidak akan mudah dijalani, jika orang tersebut tak bisa bersikap dewasa. “Baik, saya akan menjelaskan lebih rinci apa yang akan kita bahas hari ini, sebaiknya kita duduk terlebih dahulu,” sahut Doni, kemudian mereka duduk, dan mulailah perbincangan bisnis yang sangat serius. Doni menjelaskan dalam bidang jual beli tanah, misalkan makelar atau calo jarang dipakai lagi, selama ini lebih sering disebut Biong yang tak lain adalah bisnis omong. Biasanya istilah tersebut sering digunakan di daerah Bogor, seperti perusahaan yang bergerak selama ini. Namun, yang sering perusahaan banyak gunakan dengan istilah mediator atau broker. Begitu pintar Doni dalam menawarkan kerja sama yang sangat menguntungkan, tetapi tidak untuk Andi, selalu memotong pembicaraan di setiap saatnya, membuat Rama sebagai atasan pun geram, berusaha untuk tidak memperlihatkan kekesalan pada siapapun, demi kelancaran bisnis yang sudah dia rancang sedemikian rupa. Masalah pribadinya memang belum terselesaikan, Rama tak ingin ada masalah baru apalagi sampai berbelit-belit dengan perusahaan seperti sekarang ini, jika memang tidak setuju, langsung katakan tidak, Andi lebih membahas hal rumit yang menjorok ke dalam masalah besar. “Apa yang membuatmu menolak semua ini? Kerja sama yang sudah saya tawarkan cukup memuaskan, bukan? Tugasmu hanya membujuk para warga untuk menyetujui beberapa tanah nya dijual kepada kami, setelah berhasil keuntungan untukmu sangatlah besar, sesuai yang sudah sekretaris saya jelaskan tadi, apa masalahnya, hmm?” tanya Rama, panjang lebar. “Masalahnya, saya tidak mau membujuk pada warga untuk menjual tanah ataupun sawah mereka, karena apa? Itulah satu-satunya sumber mata pencaharian mereka selama ini, walaupun bayaran dari anda sangatlah besar, saya tidak mau itu,” sahut Andi, tetap menggeleng menandakan dia benar-benar tak mau. Memang sudah sangat sering mendapatkan penolakan dari pihak Biong, tetapi hanya Andi orang pertama dan diyakini akan terakhir melakukan tindakan yang sama artinya seperti menghina keprofesionalan sebuah perusahaan. “Tinggalkan saya dan dia berdua saja, tolong, Doni!” titah Rama, menatap Doni dengan penuh harap. Tak menunggu lama, Doni pun mengangguk lalu meninggalkan mereka berdua entah apa yang akan Rama lakukan nanti, memantau dari kejauhan, itulah yang bisa Doni lakukan sekarang. Keheningan membuat keduanya saling menatap, rahang Rama mulai mengeras, di saat orang yang saat ini dia tatap sudah seperti mangsa tempur. “Apa yang akan kamu lakukan, hah? Orang kota yang terhormat.” “Kau? Laki-laki aneh, berhenti mempermainkan urusan pribadi dengan bisnis, kedatangan kami ke sini benar-benar real untuk bekerja sama, bukan seperti yang kau pikirkan,” seru Rama, mencekal lengan Andi dengan erat. “Lepaskan tanganmu! Saya tidak yakin itu, kamu? Adalah satu-satunya mantan kekasih Naura, yang kembali hadir mendatangkan bencana! Kamu pikir dari kemarin saya tidak tahu, hah? Jangan lupa, saya siapa dan kamu siapa,” ucap Andi, yang tidak ingin dikalahkan begitu saja. Menepis tangan itu dengan kasar, kemudian menghantamkan satu pukulan pada wajahnya Rama, tak ingin dianggap sebagai pengacau di desa, Rama sengaja tidak membalas perlakuan kasar tersebut. Sungguh, rasa sakit pada wajahnya tak sebanding dengan rasa sakit yang hatinya rasakan saat tahu kenyataannya bahwa Naura sudah bersuami. Bagaimana mungkin tidak terkejut? Pasalnya, Naura bukan wanita sembarangan yang mudah jatuh cinta. Rama sempat berpikir, apakah mungkin mereka menikah hasil perjodohan? Ah, tetap saja Rama kembali menampik pemikiran tersebut, sebab Rama tahu betul kedua orang tuanya Naura tidak sejahat itu pada anak kandungnya, sangat mengenal sejak lama. “Dengarkan saya baik-baik, kamu? Jangan harap bisa mendapatkan Naura lagi, entah itu dengan cara bulus ataupun mulus, camkan!” “Satu lagi, saya tidak akan membiarkan warga di sini, menyetujui apapun yang kalian ajukan, pergi dari desa ini, atau Naura yang akan jadi sasarannya, mengerti?!” Rama tersenyum sinis, “Tidak semudah itu, kau harus melangkahi dulu mayat saya, jika sasaran yang kau maksud adalah Naura! Kita lihat saja, siapa yang akan jadi pemenangnya, dari segi hati maupun bisnis kali ini, kau yang harus camkan ini!” Dengan tegas, Rama merapikan jas nya kembali, lalu melenggang menuju ke tempat lain. Andi sangat keras kepala, dia tidak akan membiarkan siapapun merebut wanitanya, sudah memperistri sekian lamanya, tetapi belum juga berhasil mendapatkan Naura seutuhnya. Pulang-pulang ke rumah pun seperti biasa, amarahnya saat melihat Naura, tak bisa dia tahan, memukuli bahkan sampai menyakiti berlebihan jika sudah emosinya memuncak. “Aw, hentikan. Apa yang kamu lakukan? Aku ... ah,” jerit Naura. Tiada ampun baginya hari ini, kekesalan Andi karena perkataan Rama tadi, membuatnya semakin gelap mata, beberapa kali menyiksa istrinya, sampai-sampai dia tak lagi mendapatkan ketenangan dalam hidupnya, Naura lah yang terus-menerus menutup hatinya untuk Andi selama ini. “Aw, sakit sekali. Ibu ... tolong.” “Tidak ada ampun lagi bagimu!” Prak, prak. Benda-benda yang ada di sekitar pun ikut hancur. Andai saja kedua orang tuanya Naura masih tinggal satu rumah, mungkin saja penderitaan yang Naura rasakan tak akan separah itu. Setelah selesai menuntaskan hasratnya di ranjang, dengan ganasnya dia membuat Naura lemah tak berdaya, berbaring pun masih merasakan sakit yang luar biasa disekujur tubuh apalagi di saat bangkit nanti. “Malam nanti! Tidak usah ke luar rumah jika tanpa saya! Mengerti?!” Naura mengangguk pasrah. Adegan mesra saat Rama lihat waktu itu semuanya palsu, Andi mencium keningnya pun demi membuat Rama panas dan tak menganggu nya lagi, begitu licik semua ulahnya Andi selama ini. “Aku harus bagaimana? Aku lelah, aku nggak mau terus-menerus begini,” lirihnya. Untuk memastikan suaminya sudah pergi, Naura sampai mengintip dari balik pintu kamar, dan akhirnya dia bisa menghela napas walaupun masih sangat sesak, entah kenapa sampai saat ini, dirinya belum juga hamil, antara Naura sengaja meminum pil KB diam-diam, ataupun itu semua petunjuk dari Tuhan, agar dia tak terlalu terikat pada laki-laki kejam itu. “Jangan sampai aku hamil, usia pernikahan udah menjelang dua tahun, aku takut jika nanti hamil, mengandung anaknya.” Dari awal malam pertama sampai tadi, Naura selalu melayaninya dengan terpaksa, tak ada gairah ataupun hasrat yang sama seperti suaminya saat melakukan hubungan badan. Dia tahu, mereka sudah sah menikah. Hanya saja hatinya tak bisa dibohongi begitu saja meskipun sudah dipaksakan berulang kali, Naura tak pernah mencintai Andi sama sekali, hanya menganggapnya suami, yang harus dihormati. *** Keesokan harinya, selepas salat subuh tadi. Naura mengendap-endap menuju ke Curug untuk sekadar menenangkan pikiran serta hatinya, tetapi pada saat dirinya sudah sampai ke tempat tujuan, tubuhnya tak sengaja menubruk seseorang yang sudah lebih dulu berada di sana. “Aduh, kalau jalan itu ....” Rama kembali terkejut, kenapa Tuhan selalu mempertemukan mereka dengan cara kebetulan seperti itu? Bahkan saat ini Naura hanya menunduk. Naura menutupi pipinya yang masih lebam, tak ingin menjadi masalah baru nantinya jika Rama sampai tahu dirinya sedang tidak baik-baik saja. “Kamu? Sedang apa di sini? Sendirian pula, ini masih gelap, belum terang matahari pun masih ....” “Maaf, aku nggak sengaja menabrak kamu, permisi.” “Tunggu ... semakin kamu menghindar, maka semakin jelas kamu sedang tidak baik-baik saja, Naura.” Benar, memang benar sekali apa yang Rama katakan, ingin sekali menjawab seperti itu, hanya saja keberaniannya mulai menciut semenjak Andi terus-menerus mengancamnya. “Naura, apa yang sebenarnya terjadi padamu selama ini, hmm? Katakan, jika kamu memang masih menganggap aku orang yang kamu kenali,” tanya Rama. “Oke, jangan anggap aku mantan kamu, setidaknya anggap teman, agar kamu bisa memberitahu apa yang sebenarnya terjadi, ayo ... duduk, agar tak pegal,” titah Rama. Naura awalnya menolak, tetapi niat Rama tidak buruk, membuat dirinya menurut dan ikut duduk di sampingnya, momen seperti itulah yang mereka rindukan sejak lama. “Katakan, apa yang sebenarnya terjadi, Naura?” “Kamu nggak ada hak untuk bertanya seperti itu, Ram.” “Kenapa? Toh aku begini karena peduli.” “Kepedulian kamu itu salah, nggak seharusnya kamu lakukan untuk aku, Ram.” “Oke, setidaknya kamu jelaskan kenapa bisa menikah dengan laki-laki seperti dia? Hah? Kenapa bisa?” Rama mulai emosional di saat pembahasan mereka menuju pada Andi. Melirik ke kanan dan ke kiri sebelum menjawab, Naura pun sudah tak kuat lagi jika harus menahan semuanya sendirian, entah itu rasa sakit pada hatinya, ataupun fisiknya. “Aku dan dia sebenarnya ....” “Iya apa? Sebenarnya apa? Dia apa? Naura?” Tepukan tangan yang membuat keduanya menoleh ke belakang, melihat bagaimana ekspresi wajah Andi saat tahu istrinya sedang berduaan bersama laki-laki lain di Curug, masih sangat pagi pula. Kesalahpahaman terus saja terjadi, tanpa mengatakan apapun yang bisa membuatnya membuang waktu, Andi menyeret Naura tanpa ampun, Rama yang sudah berusaha untuk mencegah dan menolong pun tetap saja gagal. “Hei, hentikan. Jangan melakukan itu, kawan. Mereka udah berumah tangga, jangan sampai kedatangan kita ke desa ini disalah artikan oleh warga, oke? Mengerti maksudku, kan, Ram?” Doni mencegah, karena dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada sahabatnya itu. Rama mengerti, tetapi bagaimanapun juga dirinya tak bisa diam begitu saja di saat kedua matanya melihat langsung orang yang dia cintai disiksa bahkan diperlakukan tidak baik seperti tadi. Tak peduli kalaupun Andi suaminya Naura, semua laki-laki tak berhak menyakiti seseorang yang sangat dia cintai, Rama muak dengan semua itu, frustasi berat karena gagal menolongnya. “Ram, minum dulu gih, jangan dipikirkan terus. Ingat, tujuan dan niat kita ke sini untuk apa, jangan salah niat,” cecar Doni. “Kamu tidak mengerti apa yang sudah terjadi, sudahlah ... aku mau mandi,” cetus Rama, mengambil handuk dan pakaian ganti lalu melenggang membuat Doni menepuk jidatnya sendiri. Doni hanya tak ingin sahabatnya terkena masalah sebelum berhasil menjalankan bisnis mereka, selain Tuan Brahmana bisa marah besar, kerugian pada perusahaan pun akan semakin ditakutkan terjadi, jika sampai Rama mengacaukan konsepnya. Di tempat lain, Naura tak ada kesempatan untuk menjelaskan, tubuhnya sudah kedinginan karena dengan tega Andi terus-menerus menyiramkan air es pada tubuh Naura yang tidak memakai pakaian sama sekali. “Biar tahu rasa kamu, hah! Berani-beraninya mengkhianati saya!” Terus saja menambahkan es tersebut, membuat Naura tak tahan lagi dengan rasa dinginnya. Dia memeluk tubuhnya sendiri, berharap dia mati daripada hidup terus-menerus disakiti lahir dan batinnya. “Jangan tutup matamu bodoh! Buka, lamun maneh kitu deui, kematian di depan mata!” Belum puas menyiksa, tangan Andi sudah memegangi kepalanya Naura, lalu dengan kasar memasukkan kepalanya berulang kali ke dalam air yang kedalamannya cukup dalam. Menahan napas agar tak sesak, itulah yang bisa Naura lakukan sampai dirinya mati, jika tidak ada ketukan pintu pada saat Andi akan memukul bokongnya Naura, mungkin semua perlakuannya tidak akan berhenti. “Pakai pakaian kamu! Awas, jangan katakan apapun pada orang lain, mati kamu!” Isakan tangis terus saja terdengar, sampai Rama bisa memastikan langsung bagaimana keadaan Naura saat ini di dalam sana, suara ketukan pintu tadi rekayasa Rama, untuk mengusir Andi dan menghentikan semua perlakuan kejamnya, begitu berani Rama menerobos masuk ke dalam rumah tersebut untuk menyelematkan orang yang dia cintai, agar tak menyesal nantinya. “Naura, apa kamu baik-baik saja? Ah, tidak. Pakai dulu handuk nya, aku janji tidak akan melihat apapun,” titah Rama, memberikan handuk itu. Rama membelakangi Naura sekaligus memantau, memastikan Andi tidak kembali lebih cepat, sebelum dirinya berhasil menyelamatkan Naura. “Sudah?” tanya Rama. “Ini handuk siapa, Ram? Kamu ....” “Aku berbohong pada Doni, aku mengatakan jika aku akan mandi di kamar mandi umum, sebenarnya niatku untuk menyelamatkan kamu,” ucap Rama. “Kenapa kamu ingin menolongku? Rama ... ini sangat berbahaya, aku nggak mau dia mencelakai kamu ataupun temanmu, sana ... pergi, sebelum dia kembali.” “Ram ....” Naura terdiam, di saat Rama memeluknya secara tiba-tiba. Pelukan itu memang tak seharusnya dilakukan, bagaimanapun juga Naura sudah menjadi istri orang, tetapi jika Rama tidak melakukannya, dia akan sangat menyesal. “Ram, lepas, jangan seperti ini.” “Aku tahu, ini salah, ini tidak benar, tapi aku mohon, jangan kamu lepaskan pelukan ini, sebelum aku bisa menenangkan kamu,” pinta Rama. Naura hanya diam, sedangkan tangan Rama mulai mengelus pundaknya Naura dengan gerakan menenangkan. Namun, pada saat itu juga, pelukannya terpaksa harus dilepaskan. “Jangan, kamu harus pergi sekarang, karena aku? Nggak mau kamu sampai terseret masalah rumah tanggaku, Ram.” “Kenapa? Kenapa kamu memilih dia, kenapa kalian bisa menikah? Jika dia tidak memperlakukan kamu dengan baik, kenapa, hah??” “Naura, katakan ... kenapa? Kenapa?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN