Bab 5- Melupakan atau Merebut Kembali

1128 Kata
“Jika saya adalah laki-laki seperti itu, lalu kau? Laki-laki seperti apa, hah? Dengan teganya berbuat kasar pada seorang wanita!” Rama yang tidak tahu apa-apa pun tak terkontrol emosinya, sehingga dia berbicara tak menentu seperti itu. Seorang laki-laki yang baru datang itu pun semakin mendekat, lalu tertawa sinis menatap Rama, terlihat seperti sedang menyepelekan. “Hah? Apa tadi ... apa? Kamu bilang saya laki-laki seperti apa yang tega memperlakukan seorang wanita dengan tega? Saya tanya dulu, kamu punya hak apa bertanya seperti itu? Saya ... suaminya! Berhak atas dirinya!” Suami? Rama menatap wajah wanita yang saat ini ada di dekatnya dengan tatapan tak percaya sama sekali, tetapi jika laki-laki itu berbohong, mana mungkin mereka tinggal satu rumah? Rama menggeleng, dan tersadar kembali. “Jadi ... kalian sudah menikah?” tanya Rama, untuk memastikan lagi. “Ya, sudah menikah! Lebih tepatnya, saat ini kamu orang asing sangatlah menganggu rumah tangga kami!” Tak ada lagi yang bisa Rama katakan, dia sangat terkejut sekaligus kecewa pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia masih mengharapkan seorang wanita yang sudah bersuami. Rasa malunya pun sampai tertutup oleh rasa kecewa, tanpa meninggalkan sebuah pesan, Rama sudah meninggalkan tempat itu. Berusaha untuk tak peduli lagi bagaimanapun kisah selanjutnya, ada rasa takut, dan ada juga rasa tak berhak untuk ikut campur lebih jauh lagi. “Bodohnya aku! Ah, sialan!” umpat Rama. Kembali ke tempat di mana dirinya menginap, mencari sosok Doni ternyata Rama sudah menyia-nyiakan kesempatan langka, yaitu bersama-sama melakukan aktivitas seperti memasak makanan sendiri dengan alat masak yang dinamakan hau. “Doni ... aku tadi udah ....” “Sini, nggak usah dijelasin, semuanya udah tahu,” cicit Doni. Semuanya sudah tahu? Apa maksudnya? Rama menatap Doni dengan penuh tanda tanya, tetapi orang yang dia tatap seolah bodo amat pada yang sudah terjadi, sejak kapan seorang Doni mau menutup masalah? Karena dari dulu mulutnya sudah mengalahkan mulutnya seorang wanita. “Katakan, apa yang kamu maksud tadi, hmm? Semuanya udah tahu apa?” bisik Rama. “Lah, kamu sendiri ngapain coba, ya ampun, Rama. Malu-maluin perusahaan, ngapain ikut campur masalah rumah tangga orang? Hidih, pasti nggak nyangka, kan.” “Ya, dia ternyata udah menikah. Mungkin udah lama juga, aku tak ingin membahasnya lebih lanjut, katakan di mana dan dengan siapa kita berdiskusi pagi ini? Cepat, aku tak mau berlama-lama,” cecar Rama. “Yakin? Yakin mau tahu siapa narasumber yang akan kita tanyai pagi ini, jangan kaget loh, ini.” Doni terkesan seperti melambat-lambatkan ucapannya. Memang merasa sudah ada yang tidak beres, melihat dari cara bicara dan juga cara Doni memperagakan dirinya di hadapan Rama langsung, ingin cepat-cepat tahu, membuat Rama sedikit memaksa sahabatnya itu. “Cepat, katakan! Siapa orangnya! Lama deh, nanti keburu siang dan aku nggak ada selera lagi untuk bekerja,” cetus Rama. “Orang itu adalah ... suaminya Naura, orang yang tadi kamu tantang loh, itu alasan aku berat sekali untuk mengatakannya dari kemarin, eh ... jangan salah paham dulu, jujur aku baru tahu ini semua kemarin, tahu bahwa mereka udah menikah,” sahut Doni, yang sangat hati-hati dalam menyampaikan ucapannya. Untuk kesekian kalinya, jantungnya dibuat syok, apalagi ini? Kejadian tadi saja masih terkesan sangat memalukan, apalagi jika laki-laki tadi menjadi narasumber yang harus mereka tanyai. Mau tidak mau pun Rama harus tetap profesional, agar tak melibatkan urusan hati dengan perusahaan. Selain papanya akan sangat marah jika pekerjaannya tidak beres hanya karena cinta lama, Rama pun ingin membuktikan pada semua orang, bahwa dirinya bisa bangkit dan perlahan sudah bisa mengikhlaskan tanpa harus mengingatnya kembali. “Heh, ingat loh jangan kebanyakan melamun, nggak baik ah. Nggak usah galau, lagian kejadiannya tuh udah lama banget diantara kalian, bayangkan sepuluh tahun, Ram! Lama banget.” “Ya, aku tahu itu. Ayo, sarapan dulu lalu bekerja dengan profesional pagi ini.” Doni pun akhirnya bisa bernapas dengan lega, ternyata sahabatnya itu sudah bisa mengontrol emosi, bahkan tak memarahi dirinya karena sempat menyembunyikan kebenaran yang telah terjadi pada Naura. Sembari memasak pun, Doni memperhatikan Rama dari ujung kepala hingga ujung kaki, tak terasa waktu terus berjalan, membuat keduanya menghabiskan waktu terlalu lama hanya untuk memasak saja. Makan pun sudah seperti terancam dalam situasi medan perang, terburu-buru membuat salah satu diantara mereka tersedak saat memakan makanan yang cukup pedas sekali. “Uhuk, uhuk. Ya ampun.” “Heh, minum dulu, nih, hati-hati dong makan nya, Don. Masa kalah tuh sama anak kecil,” cetus Rama yang bersikap judes tetapi masih peduli pada sesama, memberikannya minum agar tak tersedak lagi. Doni hanya menerima minum itu lalu meneguknya sampai tandas tersisa gelas nya saja, tanpa berbicara lebih banyak lagi, mereka pun merapikan kembali tempat makan, dan segera menuju ke tempat yang sudah disediakan untuk wawancara. *** Hampir setengah jam menunggu, Rama maupun Doni sudah seperti anak kecil yang sudah tertipu. Bagaimana tidak? Laki-laki yang sudah sangat membuat kesal, benar-benar tidak datang dengan tepat waktu. “Ke mana dia, hah? Kita udah menunggu lama, harus berapa lagi coba? Membuatku kesal!” “Sabar dulu, mungkin orangnya memang sedang sibuk, kita harus menunggu dia, karena narasumber yang sangat penting.” “Narasumber apaan? Hih, amit-amit kalau sampai aku dipertemukan lagi dengannya melalui cara seperti ini, cukup sekali menjadikannya narasumber untuk kepentingan perusahaan, akan ku pastikan itu,” cecar Rama. Doni hanya geleng-geleng tak tahu harus bagaimana, takut-takut nanti salah berbicara, yang bisa membuat Rama marah ke padanya, walaupun sering mengeluh lama tetap saja keduanya dengan sabar menunggu kedatangan narasumber. Pada saat Rama akan bangkit untuk pergi, di saat itu juga dirinya dikejutkan dengan datangnya laki-laki yang sudah menghancurkan kembali harapannya untuk bisa memiliki masa lalunya lagi. “Maaf, saya sudah membuat kalian terlalu lama menunggu.” “Ah, tidak apa-apa, kami sudah ....” “Jangan menganggap hal remeh seperti itu, karena waktu adalah uang, yang seharusnya kau bisa datang tepat waktu, pada jam yang sudah ditentukan sejak awal!” Rama tak bisa kalem seperti Doni, dia tetaplah dia, selalu tegas di saat pekerjaan mulai disepelekan orang lain. Baginya, bekerja itu harus serius dan tak boleh main-main seperti anak yang baru mengerti dunia pekerjaan, papanya selalu memberikan dia wejangan agar tak mudah membuang-buang waktu untuk hal yang tidak begitu penting. Karena kesempatan, tak datang dua kali ataupun berulang kali seperti yang Rama ketahui, jika sudah kehilangan tak mungkin bisa mendapatkannya lagi, pikirannya semakin kacau tak menentu, rasa kesalnya tiba-tiba kembali bangkit di saat melihat laki-laki itu lagi. “Ram, ayo ... kita mulai, heh cepat, jangan bengong,” bisik Doni. Rama maupun laki-laki itu, masih saling menatap satu sama lain, tanpa mau menatap yang lainnya lagi untuk sementara ini, mencoba untuk melampiaskan kekesalan masing-masing pada hal baru, seperti berbicara pada hatinya sendiri. Haruskah Rama merebut kembali seseorang yang sudah seharusnya bahagia bersamanya sejak dulu? Atau, Rama harus bisa menerima garis takdir yang sudah Tuhan takdirkan untuk dirinya dengan Naura.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN