“Don, jaga dulu rumah ini, aku mau nyari angin dulu ke luar, awas! Jangan sampai kecolongan!”
“Lah? Mau ditemani nggak, nih?” tanya Doni.
“Nggak usah, aku bisa sendiri. Jangan ikuti aku, awas!”
“Iya napa iya, perasaan dari tadi awas-awas terus, dasar perjaka tua,” ledek Doni.
Rama pun hanya menatapnya dengan tatapan tajam, setelah itu dirinya pergi entah mau ke mana tujuannya malam ini. Bahkan, dia sendiri belum tahu harus ke mana, berjalan terus mencari ketenangan seorang diri, sudah terlalu lama juga tidak berkunjung ke desa tersebut, walaupun keindahannya masih sama seperti dulu, tetap saja rasanya berbeda tak senyaman 10 tahun yang lalu.
Di saat dia masih menjadi miliknya, dan di saat dunianya belum sehancur sekarang, Rama memang sudah mencoba untuk melupakan semua yang bersangkutan dengan masa lalu, hanya saja semakin dia berusaha keras untuk melupakan, maka semakin ingat yang dia rasakan.
Menatap ke arah Curug itu, mengingatkannya pada kejadian lama, di mana dulu dia tertawa terbahak-bahak tanpa bisa berhenti walaupun sudah cegukan. Flashback pun terkadang hadir secara tiba-tiba, tanpa Rama undang apalagi inginkan.
“Coba kamu lihat deh, di sana ada pelangi,” tunjuk Naura ke atas awan.
“Mana? Mana pelangi nya? Kok aku nggak bisa lihat, sih?” tanya Rama kala itu.
“Iya lah kamu nggak akan bisa lihat, karena yang sebenarnya pelangi itu kamu, Ram.”
“Kok gitu, Ra? Apa yang kamu maksud?”
“Kamu ibaratkan pelangi yang indah di atas sana, bisa aku lihat dan aku pandangi, tapi sayangnya nggak bisa aku lihat terus-menerus, karena keindahannya hanya bisa dinikmati sekejap, sama seperti kamu ... nggak bisa aku miliki selamanya.”
“Ra, udah aku bilang berkali-kali. Nggak peduli berapa banyak orang yang ingin memisahkan cinta kita berdua, mau itu orang tuaku sekalipun, aku akan tetap memperjuangkan kamu, mencintai kamu sampai aku mati,” ucap Rama pada saat itu.
Mereka pun kembali menyatukan cinta mereka di atas kepercayaan satu sama lain, pada saat Rama akan mencium bibirnya, di saat itu juga Tuan Brahmana datang lalu menampar pipi manisnya Naura, padahal yang seharusnya ditampar adalah Rama.
“Papa? Kenapa Papa melakukan itu? Aku yang salah, bukan Naura.”
“Kau sudah tahu itu salah! Lalu kenapa masih berhubungan dengannya!” teriak Tuan Brahmana.
Naura menangis sesenggukan ketakutan karena baru kali ini dia ditampar sekeras itu, kedua orang tuanya pun belum pernah melakukannya, tetapi malangnya dia, orang lain yang tadinya akan menjadi mertuanya lah sudah berani melakukan perlakuan sekasar itu padanya.
Laki-laki yang selama ini dia harapkan bisa menjaganya, ternyata masih kalah dengan papanya. Hanya diam dan tidak melakukan apapun yang sekiranya adil untuknya dan hubungan mereka.
“Pulang Rama! Pulang!”
“Aku nggak mau pulang, Pa! Aku mencintainya!”
Walaupun selalu mengatakan hal yang sama, tetap saja Rama pergi bersama papanya meninggalkan gadis malang itu seorang diri di dekat air Curug, saling menatap satu sama lain meskipun keduanya sama-sama tersakiti saat itu.
Rama tidak bermaksud menyakiti perasaannya, dia hanya bingung harus bagaimana menghadapi sikap papanya. Jika dia berulah, maka hancur lah semua yang sudah dia capai bersama Naura, karena papanya selalu mengancam selama ini.
Membayangkan bagaimana dulu hubungannya dengan Naura, membuat Rama tidak bisa menjalin hubungan lagi dengan orang lain sampai sekarang, rasa trauma itu selalu menghantuinya, tak ingin terulang kembali masa-masa sulit seperti itu.
“Ram, kamu ngapain di sini? Ayo, pulang. Besok kita masih banyak pekerjaan loh, nggak baik juga ah di sini, udaranya dingin,” ucap Doni tiba-tiba, membuat Rama kembali tersadar dari lamunannya.
“Bisa kah aku hidup kembali, Don? Bisa kah aku kembali bahagia seperti dulu?”
“Heh, apa maksudmu? Jangan bicara sembarangan, ada apa? Kenapa bertanya seperti itu?” Doni merasa kasian pada sahabatnya itu, di kantor mereka akan profesional sebagai rekan kerja, tetapi di luar urusan pekerjaan, mereka kembali berperan seperti sahabat.
“Kamu yang paling tahu, bagaimana perasaan ini, Don. Selama ini, aku nggak pernah tuh bisa jatuh cinta lagi pada wanita lain, kamu sodorkan ratusan wanita cantik pun, tetap tak mempan,” cecar Rama dengan tatapannya masih fokus menatap air Curug itu.
“Aku ngerti, tapi harus kah kamu seperti ini? Jangan menyiksa diri sendiri, semua yang selama ini udah kamu alami, jalani, dan lakukan, udah saatnya ke luar dari zona itu, Ram. Bagiku, kamu pasti mampu, selama kamu mau.”
“Tapi, bagaimana caranya, Don? Kamu bicara seperti itu gampang, tapi aku? Menjalaninya sulit. Katakan, harus bagaimana? Setidaknya, bantu aku untuk benar-benar melupakannya.”
“Jangan dilupakan orangnya, karena semakin kamu ingin melupakannya, maka semakin kamu mencintainya, Ram. Percayalah, semua itu akan secepatnya berlalu,” ucap Doni, menepuk pundak Rama dengan jiwa persahabatan.
Rama paham betul apa maksud dari semua ucapannya Doni malam ini, mungkin untuk mencoba mencintai wanita lain, itu yang akan dia lakukan saat ini, walaupun dia sendiri belum sepenuhnya yakin apakah bisa? Mudah kah? Rama hanya ingin mencobanya.
“Kita pikirkan besok, lebih baik fokus dulu satu bulan di sini untuk urusan pekerjaan, setelah semuanya selesai, kita akan pikirkan bagaimana caranya, tenang ... ada aku yang mendukungmu, Ram.”
“Baik lah, walaupun terdengar sedikit geli gimana gitu, kamu tetap sahabat yang paling terbaik, ayo, tidur lebih baik, terima kasih kawan!”
“Nah, gitu dong, jangan lupa, besok ada wawancara dengan ....” ucapan Doni mendadak tak dilanjutkan, dia sendiri sampai membekap mulutnya.
“Hei? Kenapa nggak dilanjutkan? Ada apa? Besok ada sesi wawancara dengan siapa?” tanya Rama yang sangat ingin tahu.
“Duh, takut salah nih. Pokoknya besok jam sembilan pagi, kamu akan tahu sendiri siapa narasumber nya oke? Ayo,” cecar Doni yang saat ini sudah menarik tangannya Rama untuk segera pergi dari tempat itu.
Perasaan dan pikirannya bergelut dalam waktu bersamaan, memikirkan apa yang sebenarnya telah Doni sembunyikan darinya? Memangnya siapa narasumber itu? Sampai dirinya tak diberitahu.
Setelah kembali ke rumah warga yang sudah disewa sebelumnya, Rama tetap tidak bisa tidur dengan cepat, dia masih memikirkan berbagai macam pikiran malam ini, suara dengkuran halus dari mulutnya Doni, benar-benar sangat mengganggu.
“Ya ampun, Doni! Nggak di Jakarta, nggak di desa nya sendiri, tetap aja nyebelin kalau tidur. Oh, iya? Kenapa aku sampai lupa, dia belum pulang ke rumahnya loh? Aneh.”
***
Suara ayam berkokok sudah lantang berusaha untuk membangunkan semua orang yang masih tertidur dalam balutan selimutnya, tetapi yang saat ini dilakukan Doni masih sama seperti semalam, mendengkur dan berisik. Membuat Rama terpaksa pergi sendiri untuk joging pagi di sekitar desa itu.
“Segar sekali ... hoaaaaam, setelah salat tadi kenapa masih ngantuk? Mungkin suasana desa sangat nyaman, jadi seperti ini.”
Berjalan santai menelusuri desa itu seorang diri, dia sendiri sampai tak sadar sudah melewati rumah sang mantan, karena secara tak sadar saat ini rumah tersebut sudah direnovasi dengan bagus, berbeda dengan yang lama.
Rama menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah belakang, dia baru menyadari itu barusan, sudah melewati rumah masa lalunya, walaupun berbeda, tetap sama rasanya.
“Ternyata, selama ini kamu hidup udah lebih baik, Ra. Semoga akan selamanya begitu.”
Namun, di saat Rama akan kembali melangkah, saat itu juga kedua telinganya mendengar teriakkan yang samar didengar, mencoba untuk mencari sumber suara, lalu dengan rasa penasarannya, dia mendengarkan di balik rumah tersebut.
“Awas kamu! Jangan sampai kamu menduakan aku! Karena aku tahu, kemarin ... dia sudah kembali! Rasakan ini, karena kamu masih memikirkannya!”
“Ampun, ampun ... maafkan aku, jangan ....”
Suara siapa itu? Kenapa terdengar sangat kasar, bahkan aku mendengar ada suara cambukan di dalam sana. Siapa wanita itu? Dan laki-laki itu ... ah mana mungkin itu Naura.
Rama kembali mendengarkan sampai selesai, walaupun dia belum tahu pasti siapa saja orangnya, setidaknya jika nanti ada masalah besar di dalam sana, dia sebagai orang yang baik, akan siap membantunya.
Tak ada teriakan lagi setelah suara cambukan itu tak lagi terdengar, Rama menghela napas panjang tetapi dia mendengar suara pintu dibanting dengan keras, lalu ke luar lah seorang laki-laki dari dalam rumah itu, dengan cambuk yang dibawanya.
“Hah? Itu bukannya laki-laki yang kemarin mencium Naura? Jangan-jangan ....”
Setelah memastikan laki-laki itu benar-benar pergi, Rama pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah itu, tak peduli apa yang nantinya akan terjadi, perasaannya benar-benar tak nyaman jika belum memastikannya sendiri.
Di dalam sana, sangatlah berantakan. Kursi sofa yang lumayan bagus pun saat ini sudah tergeletak hancur. Rama melihat langsung bagaimana mengerikannya seorang wanita yang dia kenali menangis di dekat ambang pintu.
“Naura? Kamu?” Rama semakin mendekat.
“Ra, ada apa? Kamu kenapa?”
“Pergi ... pergi!” teriaknya.
Rama spontan memeluknya dengan sangat erat, sekaligus meluapkan rasa rindunya yang selama ini sudah menggunung. Wanita itu pun tidak berteriak ataupun berontak lagi, keduanya sama-sama saling menenangkan satu sama lainnya, entah sadar ataupun tidak siapa yang saat ini tengah memeluknya, Naura hanya bisa menangis tanpa ingin tahu hal lainnya.
“Jangan takut, Ra. Ini aku, kamu udah aman sekarang,” ucap Rama.
“Aku takut, aku takut,” lirihnya.
“Ada aku, jangan takut lagi. Peluk lah aku sesukamu, yang terpenting kamu bisa tenang lagi, Ra.”
Keduanya pun sama-sama merindu, Naura menatap kedua mata laki-laki itu dengan tatapan sayu, sadar akan pentingnya kesetiaan, Naura pun melepaskan pelukannya. Menjauh dari laki-laki itu, lalu kembali meringkuk dalam selimutnya, di dekat pintu.
“Hei, kenapa? Kamu jangan takut sama aku, Ra.”
“Menjauh lah, aku mohon ... jika kamu masih di sini, aku akan mati,” titah Naura.
“Akan mati? Memangnya ada apa, Ra? Kenapa kamu ketakutan seperti ini? Kenapa kamu jadi seperti ini, katakan ... ada apa?” Rama ingin memeluknya lagi, tetapi suara gebrakan pintu berhasil membuatnya terkejut lalu menatap seseorang yang datang dengan cambuk nya.
“Kamu? Laki-laki b******n! Ngapain kamu di sini hah!”